Menu ✖

Mode Gelap
Zulfitri Nahkodai APPSI Aceh 2026–2031, Pedagang Pasar Siap Perkuat Ekonomi Kerakyatan 41,6 Juta Ton Batu Bara Diangkut KAI Sepanjang Januari–September 2026, Jadi Andalan Angkutan Barang KAI: Minat Pelanggan terhadap Perjalanan Panoramic dan Kabin Privat Terus Menguat Penumpang KA Joglosemarkerto Tembus 1,1 Juta hingga September 2026, Naik 9,73 Persen Tarif TransJakarta Disesuaikan 2027 Industri Pelayaran Kejar Nilai Ekspor, Bukan Sekadar Tambah Kapal

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Persahabatan Bukan Gelas Beling

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Persahabatan Bukan Gelas Beling Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Jangan berpikir persahabatan bagai gelas beling. Ketika pecah, lalu dapat diganti dengan gelas baru.

Gelas adalah benda. Ia bisa pecah, dibuang, kemudian dibeli kembali. Bentuknya mungkin sama, fungsinya mungkin serupa, bahkan harganya bisa saja lebih mahal. Tetapi persahabatan bukan benda yang dapat diganti hanya karena sebuah retakan.

Persahabatan dibangun dari waktu, kepercayaan, percakapan, tawa, kesetiaan, bahkan dari pertengkaran dan perbedaan yang pernah dilewati bersama. Ada bagian-bagian kehidupan yang hanya diketahui oleh seorang sahabat karena ia hadir ketika orang lain belum tentu ada.

Karena itu, ketika persahabatan retak, persoalannya bukan sekadar tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Ada kepercayaan yang mungkin terluka. Ada perkataan yang terlanjur meninggalkan bekas. Ada kenangan yang tidak bisa dihapus hanya karena hubungan sedang berada di titik paling sulit.

Memang, tidak semua persahabatan harus dipertahankan. Ada hubungan yang memang harus berakhir karena sudah terlalu banyak luka. Ada pula orang yang harus kita lepaskan karena keberadaannya justru membuat kita kehilangan diri sendiri.

Namun, berbeda antara melepaskan dengan mengganti.

Melepaskan berarti menerima bahwa sebuah hubungan telah sampai pada batasnya. Mengganti berarti menganggap seseorang yang pernah begitu berarti dapat dengan mudah digantikan oleh orang lain.

Padahal manusia tidak bekerja seperti benda.

Kita bisa bertemu banyak orang baru. Bisa memiliki lingkaran pertemanan yang lebih luas. Bisa menemukan sahabat baru yang lebih cocok dengan keadaan kita hari ini. Tetapi setiap orang membawa cerita yang berbeda. Tidak ada dua persahabatan yang benar-benar sama.

Sebab nilai sebuah persahabatan bukan terletak pada berapa lama kita mengenal seseorang, melainkan pada seberapa dalam kehadirannya meninggalkan makna dalam perjalanan hidup kita.

Kadang-kadang, yang perlu diperbaiki bukan orangnya, tetapi cara kita memperlakukan hubungan.

Kita terlalu mudah mengatakan, “Sudahlah, masih banyak teman lain.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa mudahnya kita mengukur manusia dengan logika barang: rusak satu, beli yang baru.

Dalam persahabatan, seharusnya ada ruang untuk meminta maaf, menjelaskan kesalahpahaman, mengakui kekeliruan, dan memberi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang terlanjur retak.

Sebab tidak semua yang retak harus dibuang.

Ada sesuatu yang justru menjadi lebih bernilai karena pernah retak, kemudian diperbaiki dengan ketulusan.

Persahabatan yang dewasa bukan persahabatan tanpa konflik. Ia adalah persahabatan yang mampu melewati konflik tanpa kehilangan rasa hormat.

Kita boleh kecewa. Boleh marah. Boleh mengambil jarak. Tetapi jangan terburu-buru menghapus seluruh perjalanan hanya karena satu bab dalam hubungan kita sedang buruk.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa banyak orang yang bisa kita kumpulkan di sekitar kita.

Hidup adalah tentang siapa yang tetap berarti ketika waktu telah berjalan jauh, ketika keadaan berubah, ketika kepentingan tidak lagi sama, dan ketika kita tidak lagi memiliki alasan untuk saling membutuhkan.

Maka jangan perlakukan persahabatan seperti gelas beling. Sebab ketika gelas pecah, kita hanya kehilangan sebuah benda.

Tetapi ketika persahabatan pecah, yang mungkin hilang bukan hanya seorang teman—melainkan sebagian dari cerita hidup yang tidak akan pernah bisa diulang dengan orang lain.***

Duren Sawit – 2026.

Baca Lainnya

Zulfitri Nahkodai APPSI Aceh 2026–2031, Pedagang Pasar Siap Perkuat Ekonomi Kerakyatan

7 Oktober 2026 - 09:35 WIB

Kekeringan Hampir Empat Bulan, Bupati Fakfak Kerahkan Seluruh OPD Bantu Salurkan Air Bersih

6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Almujaini Abdul Karim Kembali Pimpin Musara Gayo Jabodetabek

6 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Kabut Asap Selimuti Karas, Polisi Sektor Karas Bagikan Masker kepada Warga Malakuli.

6 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Becak Listrik Prabowo: Ketika Teknologi Datang ke Jalanan Rakyat

6 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Putra Aceh Dipercaya Duduki Kursi BPK RI, Khaidir Abdurrahman Siap Emban Amanah

6 Oktober 2026 - 06:21 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Pelindo Regional 4 Raih Dua Penghargaan P-TEC 2026

6 Oktober 2026 - 05:25 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Sepuluh Tahun Menanti, Masjid Giok Jadi Saksi Perjalanan Luhay Ahmad Memeluk Islam

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Trending di RAGAM