Selamat pagi. Sebelum dunia menyuguhkan begitu banyak suara, ada baiknya kita terlebih dahulu mendengarkan firman-Nya.
Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah kesibukan hidup yang semakin cepat, manusia sering kali bangun dengan pikiran yang langsung dipenuhi urusan: pekerjaan, target, berita, media sosial, persoalan keluarga, hingga berbagai kecemasan tentang hari esok. Padahal, sebelum mengejar dunia, ada sesuatu yang lebih penting untuk ditata: hati.

Mengaji bukan sekadar membaca rangkaian huruf dalam Al-Qur’an. Mengaji adalah cara untuk kembali mengingat siapa diri kita, dari mana kita berasal, kepada siapa kita akan kembali, dan untuk apa kehidupan ini dijalani.
Beberapa ayat yang dibaca dengan perlahan pada pagi hari mungkin tidak langsung mengubah keadaan. Tetapi ia dapat mengubah cara kita memandang keadaan.
Masalah mungkin tetap ada, tetapi hati menjadi lebih tenang menghadapinya. Kesulitan belum tentu segera hilang, tetapi kita memiliki kekuatan untuk melewatinya. Dunia tidak serta-merta menjadi lebih baik, tetapi diri kita belajar untuk tidak mudah kehilangan arah.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika ada waktu luang. Ia semestinya menjadi cahaya yang menemani perjalanan hidup. Sebab manusia bukan hanya membutuhkan makanan untuk tubuh, tetapi juga membutuhkan petunjuk untuk jiwa.
Pagi adalah awal. Dan setiap awal adalah kesempatan untuk memperbaiki langkah.
Sebelum membuka telepon genggam, bukalah Al-Qur’an. Sebelum membaca begitu banyak kabar tentang dunia, bacalah pesan dari Yang Menciptakan dunia. Sebelum sibuk mencari jawaban dari manusia, dekatkan diri kepada sumber segala petunjuk.
Tidak harus banyak. Satu halaman yang dibaca dengan hati yang hadir jauh lebih bermakna daripada banyak halaman yang hanya dilafalkan tanpa penghayatan.
Jadikan mengaji sebagai kebiasaan, bukan sekadar kegiatan sesekali. Karena hati yang setiap hari disentuh ayat-ayat Tuhan akan memiliki ruang untuk bertumbuh: menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih kuat menghadapi kehidupan.
Selamat pagi.
Mari kita awali hari dengan mengaji, lalu melangkah menjalani kehidupan dengan hati yang lebih jernih, pikiran yang lebih tenang, dan keyakinan bahwa setiap langkah akan selalu berada dalam pengawasan-Nya.
Sebab pagi bukan hanya tentang bagaimana kita memulai hari, tetapi juga tentang kepada siapa kita pertama kali mengarahkan hati.***

























