Wartatrans.com, JAKARTA — Kabar membanggakan datang dari dunia perfilman Indonesia. Film Solata karya sutradara dan produser Ichwan Persada berhasil meraih penghargaan internasional dalam ajang Sofia International Film Festival di Sofia, Bulgaria.
Penghargaan bertajuk Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism itu menjadi pengakuan atas kontribusi film tersebut dalam mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan Indonesia ke panggung dunia.

Bagi saya, pencapaian ini menghadirkan kenangan tersendiri. Tahun lalu, saat bertemu Ichwan Persada, saya melihat sosok sineas yang sederhana, rendah hati, dan memiliki kecintaan besar terhadap dunia literasi. Dalam sejumlah pertemuan sambil menikmati kopi, ia kerap berbagi cerita tentang film yang sedang dipersiapkannya untuk tayang di jaringan bioskop nasional.
Bahkan, beberapa buku sempat dipinjamkannya kepada saya. Dari berbagai percakapan itu, saya mulai memahami premis yang dibangun dalam Solata. Film tersebut menghadirkan sebuah elegi tentang guru sekaligus pekerja sosial yang mengabdikan diri di sebuah desa terpencil di Toraja. Sebuah kawasan yang digambarkan dengan langit biru dan perbukitan hijau yang menenangkan, bernama Solata.
Perjalanan film ini menuju layar lebar tidaklah mudah. Selama lebih dari dua bulan, Ichwan terus berjuang agar karyanya dapat diputar di jaringan bioskop XXI. Dengan kegigihannya, ia akhirnya berhasil bertemu langsung dengan pihak pengelola dan memperoleh jadwal tayang. Saya pun secara pribadi memberikan dukungan, termasuk saat menghadiri pemutaran terbatas untuk uji tayang sebelum film tersebut resmi hadir di bioskop.
Ketika akhirnya Solata tayang di jaringan XXI, momen itu tentu menjadi kebahagiaan besar bagi Ichwan Persada, para kru, dan seluruh pemain yang terlibat dalam proses kreatif film tersebut.
Namun kebahagiaan yang lebih besar datang pada malam penganugerahan di Sofia.
Menurut rilis yang disampaikan Winbert Hutahaean, Atase Kebudayaan KBRI Bulgaria di Sofia, selain Solata, film dokumenter DJUM karya Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto dan film pelajar Dolanan Nusantara karya Dimas Surya Pratama juga berhasil meraih penghargaan pada kategori masing-masing.
Penghargaan untuk Solata diterima langsung oleh Ichwan Persada yang hadir di Sofia. Sementara penghargaan untuk DJUM dan Dolanan Nusantara diterima oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria yang mewakili para sineas Indonesia.
Malam penganugerahan berlangsung pada 6 Juni 2026 di bawah patronase Wakil Presiden Republik Bulgaria, Iliana Iotova, dan dihadiri para pelaku industri perfilman dari berbagai negara.
Prestasi ini menjadi langkah penting bagi perjalanan Solata di kancah internasional. Film yang mengangkat kisah pengabdian, pendidikan, dan kemanusiaan tersebut kini terus melangkah menuju panggung yang lebih besar.
Saya meyakini bahwa keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan satu film, melainkan juga kemenangan bagi para pekerja kreatif Indonesia yang terus berkarya di tengah berbagai keterbatasan, termasuk persoalan pembiayaan industri kreatif yang hingga kini masih membutuhkan dukungan investasi dan modal ventura yang lebih nyata.
Untuk Ichwan Persada, selamat atas pencapaian ini. Teruslah berkarya dan tetap berpegang pada prinsip yang sering Anda sampaikan: modal utama sebuah film adalah naskah; yang kedua naskah; dan yang ketiga tetap naskah.
Dari Toraja menuju Sofia, Solata telah membuktikan bahwa cerita yang kuat akan selalu menemukan jalannya untuk berbicara kepada dunia.***



























