Wartatrans.com, JAKARTA — Indonesia Kehilangan Seniman Besar, Kebudayaan kehilangan salah satu penjaganya.
Kabar duka pagi ini terasa begitu berat untuk ditulis. Sabtu, 26 September 2026, Indonesia kembali kehilangan seorang seniman besar. Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra – Guruh Soekarno Putra – telah berpulang. Ia mengembuskan napas terakhir di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sebagai wartawan, saya terbiasa menulis tentang kepergian seseorang. Saya mencari fakta, menyusun kronologi, mengutip pernyataan keluarga, lalu menutup berita dengan kalimat duka.
Tetapi pagi ini terasa berbeda.
Sebab yang pergi bukan sekadar seorang tokoh. Yang berpulang adalah seseorang yang sepanjang hidupnya menjadikan seni sebagai jalan pengabdian kepada Indonesia, dan beberapa pekan sebelumnya, saya sempat berjumpa beliau di acara untuk wawancara.
Tetapi, itulah umur – tak ada yang bisa menduga. Pertemuan beberapa Pekan lalu itu adalah pertemuan saya dengan beliau yang terakhir.
Guruh adalah putra Bung Karno. Nama besar itu tentu melekat dalam dirinya. Namun sejarah mencatat, Guruh tidak berhenti sebagai anak seorang presiden. Ia membangun namanya sendiri melalui musik, tari, koreografi, pertunjukan, busana dan berbagai kerja kebudayaan.
Di situlah saya melihat kebesaran Guruh. Ia tidak sekadar mewarisi nama besar ayahnya. Ia berusaha meneruskan semangat kebudayaan yang diyakini sebagai bagian penting dari jati diri bangsa.
Musik menjadi salah satu jalannya.
“Melati Suci” dan “Simfoni Raya Indonesia” bukan hanya karya yang pernah diperdengarkan di panggung. Karya-karya itu menjadi bagian dari ingatan kebudayaan Indonesia. Di dalamnya terasa semangat kebangsaan, kecintaan terhadap tanah air dan upaya mempertemukan kekayaan tradisi dengan ekspresi zaman.
Guruh juga tidak pernah melihat seni sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Musik bertemu tari. Tari bertemu koreografi. Koreografi bertemu busana. Busana bertemu panggung. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam sebuah pertunjukan.
Itulah cara Guruh berbicara tentang Indonesia. Ia tidak banyak berkhotbah tentang kebudayaan. Ia menciptakannya, menghidupkannya, mempertunjukkannya.
Ia membawa unsur-unsur tradisi ke panggung modern. Ia membuka ruang bagi para pemusik, penari dan pekerja seni. Ia bereksperimen dengan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan perhatian terhadap akar kebudayaan Nusantara.
Bagi seorang wartawan yang berkecimpung dalam dunia kebudayaan, sosok seperti Guruh selalu menarik untuk dikenang.
Sebab kebudayaan tidak hanya hidup di museum. Kebudayaan hidup ketika ada orang yang mau merawatnya.
Ketika ada seniman yang mau menciptakan karya. Ketika ada generasi yang mau meneruskannya. Dan Guruh telah mengambil bagian dalam perjalanan itu selama puluhan tahun.
Bahkan menjelang akhir hayatnya, ia masih memikirkan seni. Pada Agustus 2026, ketika usianya telah memasuki 73 tahun, Guruh masih mempersiapkan pagelaran “Untuk Indonesia” di Kemang, Jakarta. Bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga diarahkan untuk kegiatan sosial bagi anak-anak penyintas kanker.
Ia masih memberikan perhatian terhadap “Melati Suci” dan “Simfoni Raya Indonesia”. Ia masih membina Paduan Suara Gema Indonesia. Ia masih memikirkan karya wastra.
Seolah-olah usia tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti mencintai kebudayaan.
Di situlah catatan terakhir tentang Guruh menjadi begitu bermakna.
Ia pergi ketika masih berada di jalan yang sama: jalan seni, jalan kebudayaan, jalan pengabdian kepada Indonesia.
Bagi saya, Guruh Soekarno Putra bukan hanya bagian dari keluarga besar Soekarno.
Ia adalah bagian dari sejarah panjang kesenian Indonesia.
Ia adalah seniman yang mencoba menjadikan panggung sebagai ruang untuk memperkenalkan Indonesia kepada Indonesia sendiri.
Dan mungkin, itulah warisan terbesarnya. Bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus dilakukan melalui pidato. Kadang melalui sebuah lagu. Kadang melalui gerak tari. Kadang melalui kain dan busana. Kadang melalui panggung pertunjukan.
Kadang melalui kerja sunyi seorang seniman yang terus menciptakan sesuatu agar kebudayaan tidak kehilangan denyutnya.
Hari ini panggung itu kehilangan salah satu pemain pentingnya.
Namun karya tidak ikut pergi. Nada-nada yang pernah ia ciptakan masih dapat dimainkan. Gerak yang pernah ia koreografikan masih dapat dipelajari.
Wastra yang pernah ia gagas masih dapat dikenakan. Dan semangat kebudayaan yang pernah ia perjuangkan masih dapat diteruskan.
Sebagai wartawan Wartatrans.com, catatan ini bukan sekadar berita tentang seorang tokoh yang meninggal dunia. Ini adalah catatan kenangan.
Catatan penghormatan kepada seorang seniman yang telah memberikan sebagian besar hidupnya kepada seni dan kebudayaan Indonesia.
Selamat jalan, Guruh Soekarno Putra.
Terima kasih telah meninggalkan warna dalam kanvas kebudayaan Indonesia.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, serta menempatkan almarhum di antara hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.
Dari panggung kehidupan, engkau telah turun. Tetapi dari panggung kebudayaan Indonesia, namamu masih akan terus disebut.*** (Sutrisno Buyil)





















