TAKENGON — Pusat Kajian Kebudayaan Gayo akan menyelenggarakan kegiatan cerak-cerak atau bincang dan diskusi kebudayaan yang secara khusus membahas tutur atau istilah kekerabatan dalam masyarakat Gayo.
Kegiatan bertajuk “Tutur Gayo: Pentingnya & Saat Ini?” tersebut akan digelar Minggu malam, 27 September 2026, pukul 20.00–21.30 WIB dan dapat diikuti secara langsung melalui Live TikTok Yusradi Usman al-Gayoni.
“Cerak-cerak kali ini akan membahas tentang tutur atau istilah kekerabatan dalam masyarakat Gayo. InsyaAllah digelar lusa, Minggu malam (27/9/2026), mulai pukul 20.00–21.30 WIB, melalui Live TikTok,” kata Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni, melalui pesan WhatsApp dari Inggris, Jumat (25/9/2026).
Menurut Yusradi, pembahasan mengenai tutur Gayo menjadi penting karena penggunaannya di tengah masyarakat mulai berkurang. Selain itu, ia melihat adanya kekeliruan dalam penggunaan sejumlah istilah kekerabatan.
“Selain penurunan penggunaan tutur, juga adanya kesalahan penggunaan tutur. Tutur yang mestinya digunakan untuk saudaranya ibu, digunakan untuk saudaranya bapak dan sebaliknya. Harusnya memanggil Pun, Ngah (rawan), Uwe (rawan), tapi dipanggil Cik,” jelasnya.

Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Yusradi Usman al-Gayon
Kondisi serupa, lanjut Yusradi, terjadi dalam penyebutan saudara laki-laki dari Ama. Menurutnya, penggunaan istilah yang lebih spesifik dalam sistem tutur Gayo kini semakin jarang terdengar.
“Untuk saudara laki-lakinya Ama juga, umumnya dipanggil Cik. Sudah mulai jarang yang memakai Ama Kul, Ama Lah, Encu, Ama Ucak, Ama Ecek atau merujuk ke tampilan fisik, seperti Ama Item, Ama Utih, Ama Onot,” bebernya.
Tutur Menunjukkan Posisi dalam Keluarga
Yusradi menjelaskan, tutur dalam masyarakat Gayo tidak sebatas panggilan kepada seseorang. Tutur berkaitan dengan posisi seseorang dalam struktur keluarga dan hubungan kekerabatan. Karena itu, berkurangnya pengenalan tutur kepada generasi muda dikhawatirkan membuat mereka semakin sulit memahami hubungan kekeluargaan.
“Akibat tutur tidak dikenalkan, generasi anak, cucu, cicit, dan seterusnya kurang mengetahui tutur, fungsi, dan pentingnya tutur. Anak-anak jadi tidak tahu tutur, bagaimana posisinya dalam keluarga, hubungannya dengan yang lain, dan tutur yang dipakai,” ujarnya.
Menurut Yusradi, pengetahuan mengenai hubungan kekerabatan juga penting untuk mengenali garis hubungan darah dalam keluarga. Ia menyebut dalam beberapa keadaan dapat terjadi kerje sabe diri, yakni perkawinan antarkerabat yang masih memiliki hubungan darah.
“Tidak jarang, sampai ada yang kerje sabe diri (menikah antarkerabat/masih punya hubungan darah). Tentu, kerje sabe diri ini tidak baik, khususnya dari sisi kesehatan dan aspek sosial,” katanya.
Diskusi “Tutur Gayo: Pentingnya & Saat Ini?” menghadirkan perwakilan Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, yang masih dalam tahap konfirmasi.
Narasumber lainnya adalah Yusradi Usman al-Gayoni, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, penulis buku Tutur Gayo, sekaligus inisiator World Gayonese Community/Diaspora Gayo Dunia.
Turut menjadi narasumber Yusra Habib Abdul Gani, Direktur Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark, dan penulis buku Meretas Identitas Gayo.
Diskusi akan dimoderatori Kamaruddin, Pengurus Yayasan Pasak Reje Linge, mantan Komisioner Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, penyusun TTS Gayo, sekaligus penulis buku Jirim Jisim: Aneka Sifat Manusia dalam Perspektif Gayo.*** (Fikar W Eda)





















