Menu ✖

Mode Gelap
Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Bangun Sinergi dan Gagasan Strategis Pembangunan Korlantas Luncurkan STNK Digital Transportasi Umum Diusulkan Jadi Syarat Pembangunan Perumahan Surat Tak Digubris Gubernur, Seniman Jakarta Gelar Aksi Damai “Baca Puisi di Balai Kota” BNI Sahabat Sekolah Rakyat, Hadirkan Edukasi dan Inspirasi bagi Siswa di Sulsel Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Pertegas Peran Strategis sebagai Ruang Intelektual Partai

RAGAM

Karhutla dan Kabut Asap

badge-check


 Karhutla dan Kabut Asap Perbesar

Oleh: Abdul Samad Hatala., S.Sos., M.Si

Wartstrans.com, FAKFAK — Karhutla bukan lagi persoalan yang dapat dipandang sebagai peristiwa musiman semata. Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan gambut Bomberai–Tomage. Tahun 2026, kondisi yang terjadi terasa semakin memprihatinkan. Luasnya lahan yang terdampak kebakaran menjadi gambaran bahwa persoalan ini membutuhkan perhatian yang lebih serius dan penanganan yang lebih terukur.

Di tengah kondisi tersebut, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan peralatan pendukung operasional pemadaman akibat Luas wilayah yang terbakar tidak selalu sebanding dengan kemampuan peralatan yang tersedia. Bahkan, tidak seluruh titik kebakaran dapat dijangkau dengan kendaraan/peralatan operasional yang ada. Kondisi geografis, medan, serta karakteristik lahan gambut tentu membutuhkan metode dan peralatan yang berbeda dibandingkan penanganan kebakaran di wilayah bisa dijangkau.

Karena itu, pengalaman dari kejadian tahun ini seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi kemungkinan karhutla pada masa mendatang. Pemerintah dan instansi terkait perlu mempertimbangkan ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih memadai, termasuk peralatan yang mampu menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses. Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan keberanian dan tenaga manusia, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi, peralatan, data, serta strategi yang sesuai dengan karakter wilayah.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa sebenarnya penyebab kebakaran tersebut?

Kemarau panjang dan kondisi lahan yang kering memang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Namun, penjelasan mengenai penyebab karhutla semestinya tidak berhenti pada kondisi cuaca dan kekeringan. Perlu ada kajian dan penyelidikan yang lebih mendalam untuk mengetahui bagaimana api bermula, dari mana sumbernya, bagaimana penyebarannya, serta faktor apa saja yang menyebabkan kebakaran menjadi semakin luas. Sampai saat ini tidak ada suatu kepastian yang bisa menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya, apakah hanya sepenggal pongung rokok, apakah aktifitas perluasan kebun ataukah hal lain yang memicu terjadinya kebakaran, Semuanya belum terungkap

Hal ini penting bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk mendapatkan kepastian berdasarkan data dan fakta. Jika penyebabnya diketahui secara jelas, maka langkah pencegahan juga dapat dilakukan secara lebih tepat.

Instansi yang terkait harus mendapatkan informasi yang jelas. Jangan sampai setiap tahun kita hanya menghadapi kebakaran, memadamkan api, menunggu hujan, kemudian kembali menghadapi persoalan yang sama pada musim berikutnya.

Dampak karhutla kini semakin terasa dalam kehidupan masyarakat. Kabut asap memasuki ruang-ruang publik dan berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas udara dan tingkat keamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas di luar maupun di dalam ruangan.

Pertanyaan sederhananya adalah: apakah kualitas udara di Fakfak saat ini masih berada dalam kondisi yang aman bagi masyarakat?

Pertanyaan tersebut seharusnya dapat dijawab dengan data, bukan sekadar perkiraan.

Instansi yang berwenang perlu memberikan informasi secara terbuka mengenai kondisi kualitas udara, terutama ketika masyarakat mulai merasakan dampak kabut asap. Informasi mengenai kualitas udara, potensi risiko kesehatan, wilayah terdampak, serta langkah yang harus dilakukan masyarakat sangat penting agar publik tidak hanya menerima informasi melalui kabar dari media sosial atau percakapan dari mulut ke mulut.

Dalam situasi seperti ini, keterbukaan informasi bukan sekadar kebutuhan, tetapi bagian dari perlindungan.

Karhutla harus menjadi pelajaran penting. Penanganan tidak boleh hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan harus dimulai dari pemantauan titik rawan, kesiapan personel, ketersediaan peralatan, pemetaan wilayah, edukasi masyarakat, hingga sistem informasi dan peringatan dini.

Kawasan gambut memiliki karakteristik tersendiri. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di bawah permukaan. Karena itu, penanganannya membutuhkan pengetahuan, strategi, dan peralatan yang sesuai.

Apa yang terjadi di Bomberai–Tomage pada 2026 semestinya tidak berhenti sebagai sebuah catatan tentang kebakaran. Peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar pemerintah, lembaga terkait, masyarakat, akademisi, dan pihak lainnya dapat membangun sistem pencegahan dan penanganan karhutla yang lebih baik.

Pada akhirnya, karhutla bukan hanya persoalan api.

Ini menyangkut lingkungan, kesehatan masyarakat, keselamatan, ekonomi, dan masa depan wilayah.

Karena itu, sudah waktunya kita berhenti melihat karhutla hanya sebagai persoalan yang datang setiap musim kemarau. Kita perlu mencari penyebabnya, memperkuat penanganannya, dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.

Sebab ketika kabut asap sudah menyelimuti ruang publik, pertanyaan masyarakat tidak boleh dibiarkan hanya menjadi sebuah pertanyaan.***

(Penulis adalah wartawan Wartatrans.com)

Baca Lainnya

Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Bangun Sinergi dan Gagasan Strategis Pembangunan

26 September 2026 - 22:33 WIB

Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Pertegas Peran Strategis sebagai Ruang Intelektual Partai

26 September 2026 - 16:29 WIB

Silaturahmi DPTD PKS Kabupaten Bogor: Memperkuat Militansi, Soliditas, dan Amanah Kader

26 September 2026 - 15:54 WIB

Presiden Prabowo Bangun Kampung Haji Indonesia di Makkah, Langkah Bersejarah untuk Jemaah Haji Indonesia

26 September 2026 - 09:20 WIB

Catatan Kenangan Terakhir Wartatrans.com untuk Guruh Soekarno Putra

26 September 2026 - 09:01 WIB

Bupati dan Wabup Fakfak Dijadwalkan Hadiri Paripurna APBD-P 2026, Pimpinan OPD Diminta Hadir

26 September 2026 - 06:39 WIB

Pusat Kajian Kebudayaan Gayo Gelar Cerak-Cerak, Bahas Pentingnya Tutur Gayo di Tengah Perubahan Zaman

26 September 2026 - 06:35 WIB

Gelombang Pergantian dan Pengunduran Diri Pejabat Jadi Sorotan. Ada Apa dengan Aceh Tengah? 

26 September 2026 - 06:13 WIB

Catatan M. Mujiburrohman: Membaca Pertarungan Kepentingan di Era Presiden Prabowo

25 September 2026 - 21:56 WIB

IPCC Raih Penghargaan Best Infrastructures Sector pada EMCEA 2026

25 September 2026 - 21:20 WIB

Trending di ANJUNGAN