Wartatrans.com, TAKENGON — Keindahan yang selama ini dijuluki sebagai “Swiss Indonesia” kini menghadapi ancaman serius pascabencana hidrometeorologi yang melanda kawasan itu tujuh bulan lalu. Longsor dan banjir bandang yang menerjang wilayah dataran tinggi Gayo meninggalkan kerusakan cukup parah, mulai dari akses jalan, fasilitas wisata, hingga lahan perkebunan kopi masyarakat.
Danau yang berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut itu selama ini menjadi salah satu ikon wisata andalan . Lanskap pegunungan yang mengelilingi danau, udara sejuk, serta hamparan air yang tenang menjadikan kawasan tersebut dikenal luas sebagai destinasi wisata unggulan di Tanah Gayo.

Tak hanya menjadi magnet wisata, kawasan juga menopang perekonomian masyarakat melalui sektor perkebunan yang telah dikenal hingga mancanegara.
Namun, pascabencana, sejumlah fasilitas penunjang wisata mengalami kerusakan. Infrastruktur jalan menuju kawasan wisata dilaporkan banyak yang rusak akibat longsor. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Bupati , , bergerak cepat dengan mendatangi kantor di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Haili Yoga didampingi Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, Erwin Pratama.
Di hadapan Menteri Pariwisata, Haili Yoga menjelaskan posisi strategis kawasan Danau Lut Tawar sebagai salah satu sumber pemasukan daerah yang menggabungkan potensi wisata alam dan komoditas ekspor nasional.
“Wilayah ini adalah satu-satunya daerah yang menggabungkan potensi wisata alam kelas dunia dengan komoditas ekspor unggulan nasional, yakni Kopi Gayo. Keduanya memiliki nyawa yang sama, yaitu kelestarian alam,” ujar Haili Yoga.
Menurut dia, kerusakan lingkungan akibat bencana tidak hanya memukul sektor pariwisata, tetapi juga berdampak langsung terhadap produktivitas perkebunan kopi masyarakat.
“Ketika alam rusak akibat bencana, maka pariwisata mati dan produktivitas kopi pun menurun karena banyak kebun kopi yang rusak,” katanya.
Menteri Pariwisata disebut merespons serius kondisi tersebut. Ia mengaku memahami urgensi penanganan kawasan Danau Lut Tawar karena dampaknya berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat di dataran tinggi Gayo.
Pemerintah daerah berharap adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam proses pemulihan kawasan wisata dan lingkungan di sekitar Danau Lut Tawar, sehingga pesona alam yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Aceh dapat kembali pulih.*** (Basaruddin BGS)





























