Menu

Mode Gelap
Optimalisasi Layanan Pelabuhan, Kemenhub Hibahkan Aset BMN ke Pemkab Mamuju KAI Daop 1 Jakarta Tambah Perjalanan KA, Akses ke Yogyakarta, Solo, Cilacap, dan Bandung Semakin Fleksibel Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial Ini Respon Kemenhub Terkait Info Rencana Pemberian Akses Overflight Pesawat Militer Asing  PTP Nonpetikemas Perkuat Layanan Bongkar Muat Bijih Timah di Tanjung Pandan FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor

RAGAM

Dongeng tentang Sang Penanya Bunyi di Samudra Raya

badge-check


 Dongeng tentang Sang Penanya Bunyi di Samudra Raya Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Pada masa ketika peta dunia masih dilukis dengan tinta tipis dan keyakinan, dan Tanah Angin Barat di ujung Sumatra hanya dikenal melalui kabar para pelaut dan hikayat para ulama, hiduplah seorang lelaki yang namanya sengaja disamarkan oleh zaman. Orang-orang memanggilnya dengan berbagai sebutan—si Pendengar, Penanya Bunyi, atau kadang hanya “ia yang membawa ingatan.” Ia berasal dari pesisir yang menghadap Samudra Hindia Raya, dekat gugusan pulau yang oleh pedagang Gujarat dan Aceh disebut Pulau-Pulau Banyak, tempat arus laut berkelok seperti pikiran manusia.

Sejak kecil, ia tidak tertarik pada senjata atau perniagaan. Ketika anak-anak lain belajar menghitung lada dan timah, ia duduk di tepi pantai mendengarkan perahu berlabuh, mencatat perbedaan bunyi tali basah dan tali kering dalam ingatannya. Ia percaya setiap suara memiliki asal dan maksud, sebagaimana setiap manusia memiliki silsilah. Orang tuanya mengira ia aneh, namun seorang tua di kampung berkata, “Anak ini kelak akan membaca dunia tanpa huruf.”

Ketika usianya cukup untuk berlayar, ia meninggalkan pesisir asalnya dengan kapal kayu berhaluan tinggi, mengikuti jalur angin musim menuju bandar-bandar besar. Ia singgah di Lamuri yang mulai sepi, lalu ke pelabuhan yang menghadap Selat Malaka, tempat saudagar Arab, Turki, dan Eropa bertukar barang dan kabar. Namun yang ia cari bukan kain atau rempah, melainkan bunyi: azan dengan langgam berbeda, tabuhan gendang yang menandai waktu dagang, dan syair pelaut yang dilantunkan untuk menahan takut di laut terbuka.

Ia tidak mencatat dengan tinta. Ia mencatat dengan kesabaran. Di setiap negeri, ia duduk lama, mendengar lebih banyak daripada berbicara. Ia belajar bahwa di tanah pesisir, musik berjalan bersama ombak, sementara di pedalaman ia berakar pada langkah kaki dan napas manusia. Ia melihat bahwa bunyi dapat menyatukan orang, tetapi juga dapat memisahkan mereka bila dilupakan asalnya.

Pada suatu masa, ia menyeberang ke pulau-pulau kecil di selatan Sumatra, tempat masyarakat hidup dari laut dan hutan bakau. Di sana ia mendengar dendang yang hanya dinyanyikan saat bulan condong ke barat. Dendang itu tidak untuk hiburan, melainkan untuk mengingatkan manusia akan batas: antara darat dan laut, antara hidup dan mati. Ia tinggal lama, membantu menarik jala, memperbaiki perahu, hingga orang-orang mempercayainya dengan cerita yang tak pernah dibagikan kepada orang luar.

Namun zaman mulai berubah. Kapal-kapal asing datang dengan meriam dan perjanjian. Banyak adat dianggap penghalang kemajuan, banyak bunyi lama ditinggalkan demi irama baru yang lebih keras dan cepat. Lelaki itu menyaksikan bagaimana ingatan perlahan tergerus. Maka ia memutuskan kembali ke Tanah Angin Barat, bukan sebagai pengelana, melainkan sebagai penjaga.

Ia mendirikan tempat berkumpul—bukan istana, bukan pula surau—melainkan ruang terbuka tempat orang duduk melingkar. Di sana ia tidak mengajarkan lagu terlebih dahulu, melainkan cara mendengar. “Sebelum engkau menabuh,” katanya, “engkau harus tahu apa yang hendak kau jawab.” Anak-anak muda mula-mula gelisah, sebab mereka ingin segera bermain bunyi. Namun perlahan mereka belajar bahwa senyap pun adalah bagian dari ilmu.

Ia mengajarkan bahwa bunyi bukan milik siapa pun, tetapi titipan zaman. Bahwa lagu tidak lahir untuk dipamerkan, melainkan untuk menyimpan pengalaman manusia. Ia meminta murid-muridnya pergi ke kampung, ke pulau, ke pedalaman, dan kembali bukan dengan hafalan, melainkan pemahaman. “Jika kau tak mengerti dari mana bunyi itu datang,” katanya, “kau tak akan tahu ke mana ia pergi.”

Kabar tentangnya menyebar. Para alim berdiskusi dengannya tentang hubungan bunyi dan doa. Para tetua adat menemuinya untuk memastikan tradisi mereka tidak dipotong dari akarnya. Bahkan saudagar dan utusan negeri asing duduk bersamanya, heran melihat seorang lelaki yang tidak menawarkan apa-apa selain cara mendengar dunia. Ia tidak menolak perubahan, tetapi menolak lupa.

Di usia lanjut, rambutnya memutih seperti buih laut. Ia jarang bepergian jauh, tetapi murid-muridnya telah tersebar mengikuti jalur angin dan arus. Mereka membawa bukan namanya, melainkan caranya. Lelaki itu tahu, kelak namanya akan hilang, dan ia tidak keberatan. Baginya, yang penting adalah bunyi-bunyi tua tetap menemukan telinga baru.

Pada suatu subuh, ia berjalan ke pantai tempat ia dulu belajar mendengar. Ia duduk lama, menatap Samudra Hindia Raya yang tak pernah benar-benar diam. Orang-orang berkata, ketika matahari naik, tubuhnya telah tiada, tetapi angin hari itu membawa irama yang ganjil—seolah laut sedang bercerita.

Sejak saat itu, para pelaut Tanah Angin Barat percaya: bila angin berhembus dengan nada yang tak biasa, itu pertanda dunia sedang mengingat dirinya sendiri. Dan di antara ingatan itu, tersembunyi jejak seorang lelaki tanpa nama, yang pada abad yang jauh telah mengajarkan bahwa bunyi adalah ilmu, dan mendengar adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.*** (Ari J. Palawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial

13 April 2026 - 19:00 WIB

Efisiensi Anggaran, Pemkot Depok Alihkan Insentif Bimroh ke Guru Ngaji

13 April 2026 - 17:02 WIB

Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi

13 April 2026 - 09:33 WIB

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Trending di ANJUNGAN