Menu ✖

Mode Gelap
Menperin Lantik Pengurus Pusat Iperindo Periode 2026–2030 Dampak Karhutla, 3 Laga Bola Isenmulang Pindah Lokasi Menembus Bukit Sejak Zaman Kolonial, Ini 10 Terowongan Kereta Api Tertua Hingga September, Penumpang Transjakarta-MRT-LRT Jakarta Tembus 368,4 Juta MRA Indonesia–Portugal Buka Peluang Awak Kapal Perikanan Indonesia Bekerja di Level Global KAI Layani 394 Juta Pelanggan, Integrasi Kereta dan Transportasi Kota Makin Luas

SENI BUDAYA

FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor

badge-check


 FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Festival Film Horor (FFH) edisi ke-5 menghadirkan perspektif berbeda dalam melihat peran sensor dalam industri film horor Indonesia. Mengangkat tema “Horor, Sensor, dan Promosi Film Horor”, forum yang digagas para jurnalis ini justru menempatkan sensor bukan semata sebagai pembatas, melainkan bagian dari strategi kreatif dalam proses produksi hingga distribusi film.

Digelar di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/04), diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan pelaku industri dari berbagai lini. Mulai dari kritikus film, editor, hingga sutradara, semua sepakat bahwa sensor telah menjadi realitas yang tak terpisahkan dari ekosistem perfilman nasional.

Dalam forum tersebut terungkap bahwa praktik “sensor awal” sudah terjadi bahkan sebelum film memasuki tahap produksi. Kerahasiaan ide, penyamaran judul, hingga pembatasan informasi kepada kru menjadi langkah strategis untuk menjaga orisinalitas sekaligus menghindari potensi kendala di tahap sensor formal.

Pendekatan kreatif lain juga muncul dari para sineas, seperti mengangkat kisah nyata agar memiliki legitimasi kuat saat berhadapan dengan lembaga sensor. Meski demikian, strategi ini bukan tanpa tantangan, terutama ketika harus berhadapan dengan sensitivitas pihak keluarga atau lingkungan terkait cerita yang diangkat.

Di sisi kreatif, para pembicara menilai bahwa kekuatan film horor justru terletak pada kemampuan mengelola kejutan dan atmosfer, bukan semata eksploitasi visual yang berpotensi tersensor. Dengan pendekatan yang tepat, film horor dinilai tetap bisa tampil kuat tanpa harus melanggar batasan yang ada.

Menariknya, forum ini juga menyoroti bahwa sensor dan promosi memiliki irisan yang sama: keduanya menuntut kecermatan dalam membaca norma sosial dan budaya. Dengan kata lain, keberhasilan film horor tidak hanya ditentukan oleh kualitas cerita, tetapi juga kecerdasan dalam menavigasi batasan yang berlaku.

Dalam rangkaian acara tersebut, FFH juga menetapkan film Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sebagai Film Terpilih yang meraih Nini Suny Award. Sejumlah penghargaan lain turut diberikan kepada insan perfilman yang dinilai berkontribusi signifikan dalam pengembangan genre horor di Indonesia.

Melalui diskusi ini, FFH menegaskan perannya bukan hanya sebagai ajang apresiasi, tetapi juga ruang refleksi bagi pelaku industri untuk terus beradaptasi dan berinovasi di tengah berbagai regulasi. Sensor, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar batasan—melainkan tantangan yang mendorong lahirnya kreativitas baru dalam perfilman horor Tanah Air.*** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali

21 Oktober 2026 - 19:41 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Apresiasi Semarak Kebudayaan Kabupaten Bogor, Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

21 Oktober 2026 - 12:56 WIB

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Trending di SENI BUDAYA