Menu

Mode Gelap
Ribuan Ojol Antre KPR DP 0%: Janji Gacor Perumahan Informal  Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000

SENI BUDAYA

FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor

badge-check


 FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Festival Film Horor (FFH) edisi ke-5 menghadirkan perspektif berbeda dalam melihat peran sensor dalam industri film horor Indonesia. Mengangkat tema “Horor, Sensor, dan Promosi Film Horor”, forum yang digagas para jurnalis ini justru menempatkan sensor bukan semata sebagai pembatas, melainkan bagian dari strategi kreatif dalam proses produksi hingga distribusi film.

Digelar di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/04), diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan pelaku industri dari berbagai lini. Mulai dari kritikus film, editor, hingga sutradara, semua sepakat bahwa sensor telah menjadi realitas yang tak terpisahkan dari ekosistem perfilman nasional.

Dalam forum tersebut terungkap bahwa praktik “sensor awal” sudah terjadi bahkan sebelum film memasuki tahap produksi. Kerahasiaan ide, penyamaran judul, hingga pembatasan informasi kepada kru menjadi langkah strategis untuk menjaga orisinalitas sekaligus menghindari potensi kendala di tahap sensor formal.

Pendekatan kreatif lain juga muncul dari para sineas, seperti mengangkat kisah nyata agar memiliki legitimasi kuat saat berhadapan dengan lembaga sensor. Meski demikian, strategi ini bukan tanpa tantangan, terutama ketika harus berhadapan dengan sensitivitas pihak keluarga atau lingkungan terkait cerita yang diangkat.

Di sisi kreatif, para pembicara menilai bahwa kekuatan film horor justru terletak pada kemampuan mengelola kejutan dan atmosfer, bukan semata eksploitasi visual yang berpotensi tersensor. Dengan pendekatan yang tepat, film horor dinilai tetap bisa tampil kuat tanpa harus melanggar batasan yang ada.

Menariknya, forum ini juga menyoroti bahwa sensor dan promosi memiliki irisan yang sama: keduanya menuntut kecermatan dalam membaca norma sosial dan budaya. Dengan kata lain, keberhasilan film horor tidak hanya ditentukan oleh kualitas cerita, tetapi juga kecerdasan dalam menavigasi batasan yang berlaku.

Dalam rangkaian acara tersebut, FFH juga menetapkan film Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sebagai Film Terpilih yang meraih Nini Suny Award. Sejumlah penghargaan lain turut diberikan kepada insan perfilman yang dinilai berkontribusi signifikan dalam pengembangan genre horor di Indonesia.

Melalui diskusi ini, FFH menegaskan perannya bukan hanya sebagai ajang apresiasi, tetapi juga ruang refleksi bagi pelaku industri untuk terus beradaptasi dan berinovasi di tengah berbagai regulasi. Sensor, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar batasan—melainkan tantangan yang mendorong lahirnya kreativitas baru dalam perfilman horor Tanah Air.*** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA