Menu ✖

Mode Gelap
DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Ucapkan Selamat atas Pelantikan Plt. Kepala Dinas Pertanian Mulai Hari Ini, Argo Muria, Argo Sindoro, dan Argo Merbabu Gunakan Satu Nama KA Muria, KAI Ingatkan Pelanggan Jangan Keliru Pengobatan Gratis BMPRI Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Warga Kampung Antalisa Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

SENI BUDAYA

Hilangnya Mapel Sastra di Sekolah Jadi Sorotan, Pelaku Sastra Dorong Penguatan Ekosistem Sastra

badge-check


 Hilangnya Mapel Sastra di Sekolah Jadi Sorotan, Pelaku Sastra Dorong Penguatan Ekosistem Sastra Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Persoalan keberadaan mata pelajaran sastra di sekolah menjadi perhatian dalam Forum Diskusi bertajuk “Hilangnya Mapel Sastra di Sekolah (Amputasi Sejarah Sastra yang Panjang)”, yang digelar Jumat (31/7/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Jakarta Pusat.

Forum tersebut mempertemukan sejumlah akademisi, guru, penulis, penyair, pemerhati sastra, serta para pelaku sastra untuk membicarakan posisi dan masa depan sastra dalam dunia pendidikan.

Diskusi menghadirkan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Emmy Suhaemy, dan Della Red sebagai pembicara, dengan Ewith Bahar sebagai moderator. Hadir pula pengisi acara Ireng Halimun dan Mita Katoyo.

Forum tidak hanya berlangsung dalam bentuk pemaparan dari para pembicara. Sesi tanya jawab berkembang menjadi ruang dialog yang cukup terbuka. Sejumlah peserta turut menyampaikan pandangan dan kegelisahan mengenai keberadaan sastra di tengah perubahan sistem pendidikan, di antaranya Nanang R. Suprihatin, Putra Gara, serta peserta lainnya.

Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah bahwa sastrawan tidak semata-mata dilahirkan dari bangku sekolah. Menjadi sastrawan membutuhkan panggilan batin, kepekaan, imajinasi, pengalaman, dan jiwa yang tidak dimiliki atau dirasakan oleh setiap orang.

Karena itu, pendidikan sastra di sekolah tidak semestinya dipahami hanya sebagai proses mencetak sastrawan. Sastra memiliki fungsi yang lebih luas, yakni membangun kepekaan, daya imajinasi, kemampuan membaca kehidupan, sekaligus menjaga ingatan dan kebudayaan bangsa.

Dalam forum tersebut, Putra Gara menekankan bahwa persoalan utama yang perlu dipikirkan bersama bukan hanya mengenai ada atau tidaknya mata pelajaran sastra di sekolah, tetapi bagaimana para pelaku sastra membangun lingkungan yang memungkinkan sastra terus hidup.

“Karena dalam diskusi ini kita semua adalah para pelaku sastra, mari kita bergerak untuk membuat ekosistem agar sastra itu tetap ada, berkembang, dan lestari sepanjang masa,” ungkap Putra Gara.

Menurutnya, ekosistem sastra membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari sekolah, guru, akademisi, sastrawan, komunitas, penerbit, media, hingga pemerintah dan masyarakat.

Dengan ekosistem yang kuat, sastra tidak hanya hadir sebagai materi pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan masyarakat. Sekolah dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan sastra, sementara komunitas dan para pelaku sastra menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan serta keberlanjutannya.

Forum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sastra bukan sekadar pelajaran, melainkan jendela sejarah, imajinasi, dan nurani bangsa.

Di tengah perubahan zaman dan sistem pendidikan, keberadaan sastra membutuhkan perhatian bersama agar sejarah panjang kesusastraan Indonesia tidak terputus. Sebab, menjaga sastra pada akhirnya bukan hanya menjaga karya dan para sastrawan, tetapi juga merawat ingatan, identitas, imajinasi, dan jiwa kebudayaan bangsa.*** (Septi)

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM