Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, Pemerintah Iran justru mengedepankan agenda kerja sama ekonomi dan teknologi dengan Indonesia. Duta Besar Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, menyatakan negaranya siap mentransfer teknologi di berbagai sektor strategis, mulai dari kesehatan, pertanian, energi hingga teknologi antariksa.
Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi dalam Friday Morning Talk yang digelar Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid) di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Menurut Boroujerdi, Iran tidak hanya ingin menjalin hubungan dagang dengan Indonesia, tetapi juga berbagi penguasaan teknologi yang selama ini menjadi salah satu kekuatan negaranya meski menghadapi berbagai sanksi internasional.
“Iran siap mentransfer teknologi kepada Indonesia. Banyak negara menjual peralatan, tetapi tidak memberikan teknologinya. Kami siap berbagi teknologi untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, dan sektor-sektor strategis lainnya demi kepentingan kedua negara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama hampir tiga tahun bertugas di Indonesia dirinya telah berdialog dengan sejumlah pejabat pemerintah mengenai peluang kerja sama tersebut. Menurutnya, Iran memiliki pengalaman mengembangkan berbagai teknologi secara mandiri yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sipil.
Boroujerdi menyebut teknologi satelit, drone, hingga hasil riset di bidang kesehatan dan pertanian tidak hanya memiliki fungsi pertahanan, tetapi juga dapat digunakan untuk pertanian presisi, pemantauan perubahan iklim, penanggulangan bencana, pelayanan kesehatan, dan pembangunan nasional.
Ia menegaskan siap menjadi fasilitator apabila pemerintah maupun pelaku usaha Indonesia berminat memperluas kolaborasi di bidang teknologi.
Selain menawarkan kerja sama, Boroujerdi juga menyinggung situasi keamanan di Timur Tengah. Ia menegaskan Iran tidak memiliki kepentingan menutup Selat Hormuz dan menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut selama ini tetap terbuka.
Menurutnya, gangguan terhadap stabilitas kawasan terjadi akibat serangan terhadap Iran, bukan karena kebijakan negaranya.
Boroujerdi juga menyampaikan bahwa Iran tidak memiliki konflik dengan negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia. Ia mengatakan Teheran telah memberi jaminan tidak akan mengambil tindakan terhadap negara tetangga selama wilayah mereka tidak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Di sisi lain, ia mengkritik keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan yang menurutnya tidak memberikan jaminan keamanan, serta menilai konflik di Timur Tengah telah berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia, melalui terganggunya perdagangan dan distribusi energi.
Melalui tawaran transfer teknologi tersebut, Iran berharap hubungan bilateral dengan Indonesia tidak hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi kemitraan strategis yang mampu memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi, serta mendorong pembangunan ekonomi kedua negara.*** (Dulloh)


























