Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat peningkatan kinerja angkutan peti kemas pada awal 2026. Sepanjang Triwulan I 2026, volume angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton atau naik 14,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.196.600 ton.
KAI menilai pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan distribusi barang nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 281 juta jiwa pada 2025. Dengan skala tersebut, kebutuhan logistik dinilai memerlukan moda transportasi yang mampu mengangkut barang dalam volume besar, terjadwal, dan efisien.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan kebutuhan logistik menunjukkan pentingnya penguatan sistem distribusi berbasis rel sebagai bagian dari solusi nasional.
“Dengan volume logistik yang terus meningkat, dibutuhkan moda transportasi yang mampu mengangkut dalam skala besar secara konsisten. Kereta api menjadi salah satu opsi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung distribusi nasional yang lebih efisien dan terstruktur,” ujar Anne, Rabu (22/4/2026).
Selain volume angkutan, KAI juga mencatat peningkatan ketepatan waktu operasional. Pada Triwulan I 2026, ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang tercatat 95,97 persen, sedangkan ketepatan waktu kedatangan mencapai 91,77 persen.
Angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 95,89 persen untuk keberangkatan dan 87,04 persen untuk kedatangan.
Untuk meningkatkan kapasitas angkut, KAI saat ini mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut disebut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.
KAI menilai kapasitas tersebut dapat meningkatkan efisiensi distribusi barang dalam jumlah besar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan untuk distribusi jarak jauh.
Berdasarkan kajian National Logistics Ecosystem (NLE) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2024, biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini menunjukkan perlunya diversifikasi moda transportasi guna meningkatkan efisiensi distribusi.
Sementara itu, dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030 Kementerian Perhubungan, pangsa angkutan barang berbasis kereta api ditargetkan mencapai 15 persen pada 2030, dari posisi saat ini yang masih di bawah 5 persen.
KAI menilai penguatan angkutan berbasis rel juga dapat membantu menjaga infrastruktur jalan melalui pengurangan beban kendaraan berat di jalan raya.
Menurut perusahaan, potensi pengembangan terbesar berada di Pulau Jawa sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional. Integrasi kawasan industri, pelabuhan, dan jaringan rel dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong peningkatan volume angkutan peti kemas.
Anne menambahkan pengembangan logistik berbasis rel membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar berjalan optimal.
“Ke depan, pengembangan logistik berbasis rel perlu didukung oleh integrasi jaringan, peningkatan kapasitas, serta sinergi dengan berbagai pihak. Dengan langkah tersebut, distribusi barang dapat berjalan lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi yang terus berkembang,” tutup Anne.(fahmi)































