Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat peran angkutan barang berbasis rel guna mendukung efisiensi logistik nasional. Sepanjang Januari–Mei 2026, KAI melayani pengangkutan sebanyak 26.486.417 ton barang yang terdiri dari berbagai komoditas strategis.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api barang memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat dan industri karena mampu mengangkut volume besar dengan jadwal yang terukur.

“Kereta api barang membantu membuat biaya distribusi lebih efisien karena mampu melayani volume besar dalam satu perjalanan. Bagi dunia usaha, biaya distribusi yang lebih terkendali dapat membantu menjaga harga barang. Bagi masyarakat, rantai pasok yang lancar dapat mendukung harga yang lebih stabil,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Dari total volume angkutan barang tersebut, batu bara masih mendominasi dengan 21.563.901 ton. Selanjutnya peti kemas sebanyak 2.428.471 ton, bahan bakar minyak (BBM) 1.096.998 ton, semen dan klinker 977.983 ton, hasil perkebunan 268.728 ton, barang ritel 48.684 ton, serta komoditas lainnya 101.652 ton.
KAI menilai penguatan angkutan barang berbasis rel dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya logistik nasional. Biaya logistik sendiri mencakup seluruh biaya yang timbul dalam proses pemindahan barang dari produsen hingga ke konsumen, termasuk pengiriman, penyimpanan, dan bongkar muat.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Dengan nilai tersebut, setiap penurunan satu persen poin biaya logistik terhadap PDB setara dengan potensi efisiensi sekitar Rp238,2 triliun per tahun.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, biaya logistik Indonesia tercatat sebesar 14,29 persen terhadap PDB sebagai angka dasar tahun 2022. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 13,52 persen dan selanjutnya mencapai 12,50 persen.
Berdasarkan simulasi menggunakan PDB 2025, penurunan biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 13,52 persen berpotensi menciptakan ruang efisiensi sekitar Rp183,4 triliun per tahun. Sementara jika berhasil ditekan hingga 12,50 persen terhadap PDB, potensi efisiensinya mencapai sekitar Rp426,4 triliun per tahun.
“Angka ini menunjukkan bahwa logistik bukan urusan industri saja. Ketika biaya distribusi turun, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pelaku usaha bisa lebih efisien, harga barang lebih terjaga, dan daya beli masyarakat dapat ikut terdorong,” kata Anne.
Sebagai perbandingan, kajian Bank Dunia mencatat biaya logistik di kawasan Amerika Latin dan Karibia berada pada kisaran 16–26 persen terhadap PDB, sementara negara-negara maju sekitar 9 persen PDB. Di Asia, India mencatat biaya logistik sebesar 7,97 persen PDB pada 2023–2024.
Menurut KAI, data tersebut menunjukkan efisiensi logistik menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi. Karena itu, perusahaan terus mengoptimalkan layanan kereta api barang melalui penguatan pola operasi, peningkatan keandalan sarana dan prasarana, serta kerja sama dengan pelanggan korporasi dan mitra logistik.
“Investasi pada logistik berbasis rel adalah investasi untuk daya saing Indonesia. Semakin besar barang yang dapat dilayani melalui kereta api secara efisien, semakin besar peluang Indonesia menekan biaya logistik, memperkuat industri, dan menjaga daya beli masyarakat,” tutup Anne.(fahmi)






























