Menu

Mode Gelap
SMPN 259 Jakarta Angkat Isu Bullying Lewat Film Pendek Suara di Kepala Bimo Peringatan Maulid Malam ke-39 di Masjid An-Nur: “Belum Jatuh Cinta pada Rasulullah? Maulid Kita Belum Berefek!” KAI Gagalkan Dugaan Pencurian Kabel Bonding di Stasiun Kampung Bandan PELNI Gelar Fleet Safety Excellence Award 2026 Kemenhub Perkuat Kesiapan Awak Kapal PELNI Hadapi Situasi Darurat Pegayon Angkat Motif Pepir Gayo, Forum Budaya Disiapkan untuk Hidupkan Seni di Kem Seni Antara

PERON

KAI Angkut 26,49 Juta Ton Barang, Perkuat Efisiensi Logistik Nasional

badge-check


 KAI Angkut 26,49 Juta Ton Barang, Perkuat Efisiensi Logistik Nasional Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat peran angkutan barang berbasis rel guna mendukung efisiensi logistik nasional. Sepanjang Januari–Mei 2026, KAI melayani pengangkutan sebanyak 26.486.417 ton barang yang terdiri dari berbagai komoditas strategis.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api barang memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat dan industri karena mampu mengangkut volume besar dengan jadwal yang terukur.

“Kereta api barang membantu membuat biaya distribusi lebih efisien karena mampu melayani volume besar dalam satu perjalanan. Bagi dunia usaha, biaya distribusi yang lebih terkendali dapat membantu menjaga harga barang. Bagi masyarakat, rantai pasok yang lancar dapat mendukung harga yang lebih stabil,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Dari total volume angkutan barang tersebut, batu bara masih mendominasi dengan 21.563.901 ton. Selanjutnya peti kemas sebanyak 2.428.471 ton, bahan bakar minyak (BBM) 1.096.998 ton, semen dan klinker 977.983 ton, hasil perkebunan 268.728 ton, barang ritel 48.684 ton, serta komoditas lainnya 101.652 ton.

KAI menilai penguatan angkutan barang berbasis rel dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya logistik nasional. Biaya logistik sendiri mencakup seluruh biaya yang timbul dalam proses pemindahan barang dari produsen hingga ke konsumen, termasuk pengiriman, penyimpanan, dan bongkar muat.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Dengan nilai tersebut, setiap penurunan satu persen poin biaya logistik terhadap PDB setara dengan potensi efisiensi sekitar Rp238,2 triliun per tahun.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, biaya logistik Indonesia tercatat sebesar 14,29 persen terhadap PDB sebagai angka dasar tahun 2022. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 13,52 persen dan selanjutnya mencapai 12,50 persen.

Berdasarkan simulasi menggunakan PDB 2025, penurunan biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 13,52 persen berpotensi menciptakan ruang efisiensi sekitar Rp183,4 triliun per tahun. Sementara jika berhasil ditekan hingga 12,50 persen terhadap PDB, potensi efisiensinya mencapai sekitar Rp426,4 triliun per tahun.

“Angka ini menunjukkan bahwa logistik bukan urusan industri saja. Ketika biaya distribusi turun, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pelaku usaha bisa lebih efisien, harga barang lebih terjaga, dan daya beli masyarakat dapat ikut terdorong,” kata Anne.

Sebagai perbandingan, kajian Bank Dunia mencatat biaya logistik di kawasan Amerika Latin dan Karibia berada pada kisaran 16–26 persen terhadap PDB, sementara negara-negara maju sekitar 9 persen PDB. Di Asia, India mencatat biaya logistik sebesar 7,97 persen PDB pada 2023–2024.

Menurut KAI, data tersebut menunjukkan efisiensi logistik menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi. Karena itu, perusahaan terus mengoptimalkan layanan kereta api barang melalui penguatan pola operasi, peningkatan keandalan sarana dan prasarana, serta kerja sama dengan pelanggan korporasi dan mitra logistik.

“Investasi pada logistik berbasis rel adalah investasi untuk daya saing Indonesia. Semakin besar barang yang dapat dilayani melalui kereta api secara efisien, semakin besar peluang Indonesia menekan biaya logistik, memperkuat industri, dan menjaga daya beli masyarakat,” tutup Anne.(fahmi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KAI Gagalkan Dugaan Pencurian Kabel Bonding di Stasiun Kampung Bandan

20 September 2026 - 17:49 WIB

Satu KRL CLI-225 Kembali Beroperasi, Commuter Line Bogor Tambah 4 Perjalanan

19 September 2026 - 11:34 WIB

Akses Kota Baru Parahyangan ke Stasiun Whoosh Padalarang Disiapkan, Ada Skybridge

18 September 2026 - 07:54 WIB

KAI Catat 182.208 Pelanggan Manfaatkan Kereta Ekonomi Kerakyatan

18 September 2026 - 07:19 WIB

Kereta Makan M1 Kian Nyaman, KAI Services Perkuat Pengalaman Kuliner Penumpang

18 September 2026 - 06:44 WIB

KAI Services Perkuat Konsep Integrated Services untuk Perluas Bisnis

17 September 2026 - 16:04 WIB

Tarif Rp3.000, Kereta Petani dan Pedagang KAI Telah Layani 43.780 Pelanggan

17 September 2026 - 14:53 WIB

KAI Operasikan 113 PLTS di 92 Lokasi, Total Kapasitas Capai 4,43 MWp

17 September 2026 - 14:39 WIB

Peringati Harhubnas, Menhub Dudy: Harus jadi Momentum Evaluasi dan Perbarui Komitmen

17 September 2026 - 13:54 WIB

KAI Commuter Resmi Kelola KA Bandara YIA, Nama Layanan Berubah Jadi Commuter Line

17 September 2026 - 09:11 WIB

Trending di PERON