Menu

Mode Gelap
Aceh Tengah Kembali Dikepung Banjir, Warga Panik — Kampung Terisolir, Akses Lumpuh Penyumbang emas untuk pembelian pesawat RI 01. Wafat Perkuat Peran sebagai Flag State, Indonesia Partisipasi dalam Sidang IMO SSE ke-12 Wakil Bupati Kudus Bellinda Mengangkat Adik Mendikdasmen Sebagai ‘Anak Buahnya’ Naik Kereta Saat Lebaran 2026, Pelanggan KAI Bantu Tekan Emisi hingga Puluhan Juta Kg CO₂e Gerakan Penanganan dari Hulu Ke Hilir menuju Kendaraan Zero ODOL 2027

RAGAM

Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat

badge-check


 Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Langit Aceh seakan redup di awal Ramadhan 1447 H. Di saat umat menyambut bulan suci dengan harap dan doa, Allah SWT memanggil pulang salah satu hamba terbaik-Nya, ulama kharismatik dari Reubee, Abu Bukhari bin Sanusi.

Berita wafatnya Abu Cek Reubee menyebar cepat. Dari rumah ke rumah, dari warung ke meunasah, dari Delima hingga pelosok Pidie. Ratusan masyarakat bergegas menuju rumah duka. Sebagian langsung menuju RSU Sigli, tak percaya bahwa sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat itu kini telah tiada.

Abu bukan sekadar ulama. Beliau adalah pelita.

Pelita yang menerangi persoalan faraidh ketika masyarakat bingung dalam pembagian warisan.Pelita yang menenangkan hati saat terjadi perselisihan.

Pelita yang tidak pernah meninggikan suara, namun ilmunya meninggikan derajatnya.

Sejak kecil beliau telah ditempa dalam kemandirian. Menimba ilmu di Dayah Lampoh Pande Reubee, lalu melanjutkan ke Dayah MUDI MESRA, di bawah bimbingan ulama besar Aceh seperti Abon Aziz Samalanga.

Di sana, beliau dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena adabnya. Takzimnya kepada guru membuatnya istimewa di mata para masyayikh.

Beliau terdepan saat gotong royong membangun dayah. Tangannya ikut mengangkat kayu, keringatnya jatuh demi tegaknya ilmu. Ilmu yang kini terus mengalir menjadi amal jariyah.

Puluhan tahun beliau mengabdi untuk umat. Mengajarkan faraidh, membimbing masyarakat, dan menjadi peneduh di tengah persoalan. Tanpa pamrih. Tanpa mencari pujian.

Dan Allah memilih 1 Ramadhan sebagai waktu kepulangannya.

Betapa indah waktu yang Allah pilih untuk seorang hamba yang hidupnya dihabiskan untuk agama.
Aceh kehilangan satu cahaya.

Pidie kehilangan satu guru.
Reubee kehilangan satu ayah bagi umat.

Namun sungguh, ulama tidak pernah benar-benar pergi.

Ilmunya hidup.
Doanya hidup.
Didikannya hidup dalam santri dan masyarakat.
Semoga Allah melapangkan kubur beliau, menjadikannya taman dari taman-taman surga, mengampuni segala khilafnya, dan mengumpulkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah untuk Abu Cek Reubee. (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wakil Bupati Kudus Bellinda Mengangkat Adik Mendikdasmen Sebagai ‘Anak Buahnya’

7 April 2026 - 18:38 WIB

12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana

7 April 2026 - 15:49 WIB

Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

7 April 2026 - 15:25 WIB

Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap

7 April 2026 - 15:18 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa Gelar Sosialisasi Prosedur Kapal Penumpang

7 April 2026 - 14:02 WIB

DLH Aceh Barat Terapkan Sanksi Denda bagi Pembuang Sampah Sembarangan di Meulaboh

7 April 2026 - 06:01 WIB

Ahmad Dhani Meyakini Faktor Rejeki Penentu Seorang Bisa Menjadi Penyanyi Populer

7 April 2026 - 05:09 WIB

Istana Di Tengah Hutan Borneo

6 April 2026 - 09:05 WIB

Atas Intervensi Presiden Prabowo, Makam Serka Anumerta M. Nur Ichwan Digeser dari TPU ke TMP

5 April 2026 - 16:19 WIB

Teater Puisi “Sengkewe Sepanjang Musim” Hidupkan Ruang Publik Takengon

5 April 2026 - 08:15 WIB

Trending di RAGAM