Menu

Mode Gelap
KAI Services Bekali Frontliner dengan Solution Mindset Jelang Angkutan Lebaran 2026 Evakuasi Kereta Bandara Soetta Selesai, Perjalanan Kembali Normal Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat Menhub Dudy Dorong Sinergi Bareng Jateng dan Komisi V DPR di Angleb 2026 Ditjen Hubud dan API Teken Akta Penegasan Kembali Perjanjian Sewa BMN di 10 Bandara Antisipasi Lonjakan Arus Barang Ramadan, IPC Terminal Petikemas Optimalkan Fasilitas dan Layanan Terminal

RAGAM

Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat

badge-check


 Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Langit Aceh seakan redup di awal Ramadhan 1447 H. Di saat umat menyambut bulan suci dengan harap dan doa, Allah SWT memanggil pulang salah satu hamba terbaik-Nya, ulama kharismatik dari Reubee, Abu Bukhari bin Sanusi.

Berita wafatnya Abu Cek Reubee menyebar cepat. Dari rumah ke rumah, dari warung ke meunasah, dari Delima hingga pelosok Pidie. Ratusan masyarakat bergegas menuju rumah duka. Sebagian langsung menuju RSU Sigli, tak percaya bahwa sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat itu kini telah tiada.

Abu bukan sekadar ulama. Beliau adalah pelita.

Pelita yang menerangi persoalan faraidh ketika masyarakat bingung dalam pembagian warisan.Pelita yang menenangkan hati saat terjadi perselisihan.

Pelita yang tidak pernah meninggikan suara, namun ilmunya meninggikan derajatnya.

Sejak kecil beliau telah ditempa dalam kemandirian. Menimba ilmu di Dayah Lampoh Pande Reubee, lalu melanjutkan ke Dayah MUDI MESRA, di bawah bimbingan ulama besar Aceh seperti Abon Aziz Samalanga.

Di sana, beliau dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena adabnya. Takzimnya kepada guru membuatnya istimewa di mata para masyayikh.

Beliau terdepan saat gotong royong membangun dayah. Tangannya ikut mengangkat kayu, keringatnya jatuh demi tegaknya ilmu. Ilmu yang kini terus mengalir menjadi amal jariyah.

Puluhan tahun beliau mengabdi untuk umat. Mengajarkan faraidh, membimbing masyarakat, dan menjadi peneduh di tengah persoalan. Tanpa pamrih. Tanpa mencari pujian.

Dan Allah memilih 1 Ramadhan sebagai waktu kepulangannya.

Betapa indah waktu yang Allah pilih untuk seorang hamba yang hidupnya dihabiskan untuk agama.
Aceh kehilangan satu cahaya.

Pidie kehilangan satu guru.
Reubee kehilangan satu ayah bagi umat.

Namun sungguh, ulama tidak pernah benar-benar pergi.

Ilmunya hidup.
Doanya hidup.
Didikannya hidup dalam santri dan masyarakat.
Semoga Allah melapangkan kubur beliau, menjadikannya taman dari taman-taman surga, mengampuni segala khilafnya, dan mengumpulkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah untuk Abu Cek Reubee. (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Antisipasi Lonjakan Arus Barang Ramadan, IPC Terminal Petikemas Optimalkan Fasilitas dan Layanan Terminal

20 Februari 2026 - 19:28 WIB

Torehkan Pertumbuhan 9%, PT Terminal Teluk Lamong Catat Kinerja Gemilang di Awal 2026

20 Februari 2026 - 16:36 WIB

Takengon Diguyur Hujan, Warga Diminta Waspada Longsor dan Banjir Lokal

20 Februari 2026 - 12:42 WIB

Respons Cepat di Perairan Banten, KN Jembio-P.215 Padamkan Kebakaran KM Inti Marina VII

20 Februari 2026 - 11:10 WIB

Menagih “Manis di Bibir” Bupati Lucky Hakim: Antara Retorika Audit Dana Desa, Tata Ruang, Banjir, dan Realita Pelantikan Kuwu

19 Februari 2026 - 16:15 WIB

Trending di RAGAM