Wartatrans.com, DHARMASRAYA — Di sebuah sudut sederhana Rumah Baca Marenda, percakapan tentang sastra mengalir tanpa jarak. Tak ada podium tinggi, tak pula sekat formal antara pembicara dan peserta. Yang ada hanya lingkaran diskusi, kopi hangat, dan kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga api kreativitas tetap menyala.
Ahad siang itu, puluhan mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia duduk berbaur dengan pegiat literasi. Kegiatan bertajuk Lapau Literasi Sastra ini bukan sekadar penutup Tur Literasi Sumatera yang digelar Komunitas Seni Kuflet. Ia menjelma ruang refleksi—tentang proses kreatif yang sering kali terasa sunyi dan personal.

Di tengah diskusi, Sulaiman Juned menggeser cara pandang umum soal inspirasi. Ia menolak anggapan bahwa ide adalah sesuatu yang harus ditunggu.
“Ide itu bukan datang, tapi ditemukan. Bahkan dipungut,” katanya, pelan tapi tegas.
Baginya, kehidupan sehari-hari adalah ladang tak bertepi: percakapan remeh di warung kopi, fragmen pengalaman pribadi, hingga peristiwa kecil yang luput dari perhatian. Semua itu, jika ditangkap dengan kepekaan, bisa menjelma menjadi karya.
Namun, kata kuncinya bukan sekadar melihat—melainkan mencatat. Ia mengibaratkan ide sebagai sesuatu yang licin, mudah lepas dari ingatan jika tidak segera dituliskan. Catatan kecil, sepotong dialog, atau satu kalimat sederhana, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk bagi karya yang lebih utuh.

Para peserta usai acara
Gagasan serupa disampaikan Muhammad Subhan. Ia menekankan pentingnya disiplin dalam proses kreatif.
“Menulis itu bukan soal menunggu suasana, tapi membangun kebiasaan,” ujarnya.
Di titik ini, diskusi bergeser dari soal ide ke soal ketekunan. ‘Writer’s block’—momok yang kerap menghantui penulis—tidak lagi dipandang sebagai hambatan besar, melainkan bagian dari proses yang bisa dilampaui dengan ritme kerja yang konsisten.
Sementara itu, Amar Salahuddin melihat kegiatan ini dari sudut yang lebih luas: ekosistem literasi. Ia menilai ruang seperti Rumah Baca Marenda tak cukup hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang tumbuh bagi keberanian berekspresi.
“Mahasiswa harus didorong menjadi pencipta, bukan hanya penikmat,” katanya.
Dalam konteks itu, Lapau Literasi menjadi semacam laboratorium kecil—tempat ide diuji, dipertanyakan, dan dipertajam melalui dialog. Tidak ada penilaian mutlak tentang baik atau buruknya gagasan. Yang ada justru dorongan untuk terus mencoba.
Kegiatan ini sekaligus menutup perjalanan literasi Komunitas Seni Kuflet yang selama sepekan berkeliling di sejumlah titik di Jambi. Dharmasraya, yang berada di perlintasan Jambi dan Sumatera Barat, menjadi simpul akhir—sekaligus titik temu berbagai pengalaman.
Di tempat inilah, ide-ide yang semula tercecer—di perjalanan, di percakapan, di ingatan—dikumpulkan kembali. Seperti yang berulang kali ditekankan dalam diskusi: menulis bukan soal menunggu momen besar, melainkan merawat hal-hal kecil agar tidak hilang begitu saja.*** (rls)





























