Menu

Mode Gelap
InJourney Airports Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT TOD MRT, Ketika Stasiun Membentuk Ekonomi Baru Ibu Kota Dari Tim Alfa hingga Ubi Bombing, Upaya Padamkan Karhutla Way Kambas Jelang Kedatangan Kapal Garibaldi, Pangkalan TNI AL Bergerak 2 Fungsi Subsidi BBM Bocor, Ekonomi Rakyat Boncos Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

SENI BUDAYA

Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil

badge-check


 Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil Perbesar

Wartatrans.com, DHARMASRAYA — Di sebuah sudut sederhana Rumah Baca Marenda, percakapan tentang sastra mengalir tanpa jarak. Tak ada podium tinggi, tak pula sekat formal antara pembicara dan peserta. Yang ada hanya lingkaran diskusi, kopi hangat, dan kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga api kreativitas tetap menyala.

Ahad siang itu, puluhan mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia duduk berbaur dengan pegiat literasi. Kegiatan bertajuk Lapau Literasi Sastra ini bukan sekadar penutup Tur Literasi Sumatera yang digelar Komunitas Seni Kuflet. Ia menjelma ruang refleksi—tentang proses kreatif yang sering kali terasa sunyi dan personal.

Di tengah diskusi, Sulaiman Juned menggeser cara pandang umum soal inspirasi. Ia menolak anggapan bahwa ide adalah sesuatu yang harus ditunggu.

“Ide itu bukan datang, tapi ditemukan. Bahkan dipungut,” katanya, pelan tapi tegas.

Baginya, kehidupan sehari-hari adalah ladang tak bertepi: percakapan remeh di warung kopi, fragmen pengalaman pribadi, hingga peristiwa kecil yang luput dari perhatian. Semua itu, jika ditangkap dengan kepekaan, bisa menjelma menjadi karya.

Namun, kata kuncinya bukan sekadar melihat—melainkan mencatat. Ia mengibaratkan ide sebagai sesuatu yang licin, mudah lepas dari ingatan jika tidak segera dituliskan. Catatan kecil, sepotong dialog, atau satu kalimat sederhana, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk bagi karya yang lebih utuh.

Para peserta usai acara

Gagasan serupa disampaikan Muhammad Subhan. Ia menekankan pentingnya disiplin dalam proses kreatif.

“Menulis itu bukan soal menunggu suasana, tapi membangun kebiasaan,” ujarnya.

Di titik ini, diskusi bergeser dari soal ide ke soal ketekunan. ‘Writer’s block’—momok yang kerap menghantui penulis—tidak lagi dipandang sebagai hambatan besar, melainkan bagian dari proses yang bisa dilampaui dengan ritme kerja yang konsisten.

Sementara itu, Amar Salahuddin melihat kegiatan ini dari sudut yang lebih luas: ekosistem literasi. Ia menilai ruang seperti Rumah Baca Marenda tak cukup hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang tumbuh bagi keberanian berekspresi.

“Mahasiswa harus didorong menjadi pencipta, bukan hanya penikmat,” katanya.

Dalam konteks itu, Lapau Literasi menjadi semacam laboratorium kecil—tempat ide diuji, dipertanyakan, dan dipertajam melalui dialog. Tidak ada penilaian mutlak tentang baik atau buruknya gagasan. Yang ada justru dorongan untuk terus mencoba.

Kegiatan ini sekaligus menutup perjalanan literasi Komunitas Seni Kuflet yang selama sepekan berkeliling di sejumlah titik di Jambi. Dharmasraya, yang berada di perlintasan Jambi dan Sumatera Barat, menjadi simpul akhir—sekaligus titik temu berbagai pengalaman.

Di tempat inilah, ide-ide yang semula tercecer—di perjalanan, di percakapan, di ingatan—dikumpulkan kembali. Seperti yang berulang kali ditekankan dalam diskusi: menulis bukan soal menunggu momen besar, melainkan merawat hal-hal kecil agar tidak hilang begitu saja.*** (rls)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Maknai Kemerdekaan RI, InJourney Group Hadirkan Kesenian Rakyat

18 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending di EKOBIS