Menu ✖

Mode Gelap
Catatan M. Mujiburrohman: Mengapa Pemerintahan Prabowo Terus Digoyang?  Greenpeace Indonesia Gelar Aksi Damai, 11 Aktivis Sempat Ditangkap Aparat BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan ASDP Pastikan Pendampingan Penumpang Berlanjut Pascainsiden KMP Batumandi Prabowo Terima Rekomendasi DEN, Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional

SENI BUDAYA

Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil

badge-check


 Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil Perbesar

Wartatrans.com, DHARMASRAYA — Di sebuah sudut sederhana Rumah Baca Marenda, percakapan tentang sastra mengalir tanpa jarak. Tak ada podium tinggi, tak pula sekat formal antara pembicara dan peserta. Yang ada hanya lingkaran diskusi, kopi hangat, dan kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga api kreativitas tetap menyala.

Ahad siang itu, puluhan mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia duduk berbaur dengan pegiat literasi. Kegiatan bertajuk Lapau Literasi Sastra ini bukan sekadar penutup Tur Literasi Sumatera yang digelar Komunitas Seni Kuflet. Ia menjelma ruang refleksi—tentang proses kreatif yang sering kali terasa sunyi dan personal.

Di tengah diskusi, Sulaiman Juned menggeser cara pandang umum soal inspirasi. Ia menolak anggapan bahwa ide adalah sesuatu yang harus ditunggu.

“Ide itu bukan datang, tapi ditemukan. Bahkan dipungut,” katanya, pelan tapi tegas.

Baginya, kehidupan sehari-hari adalah ladang tak bertepi: percakapan remeh di warung kopi, fragmen pengalaman pribadi, hingga peristiwa kecil yang luput dari perhatian. Semua itu, jika ditangkap dengan kepekaan, bisa menjelma menjadi karya.

Namun, kata kuncinya bukan sekadar melihat—melainkan mencatat. Ia mengibaratkan ide sebagai sesuatu yang licin, mudah lepas dari ingatan jika tidak segera dituliskan. Catatan kecil, sepotong dialog, atau satu kalimat sederhana, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk bagi karya yang lebih utuh.

Para peserta usai acara

Gagasan serupa disampaikan Muhammad Subhan. Ia menekankan pentingnya disiplin dalam proses kreatif.

“Menulis itu bukan soal menunggu suasana, tapi membangun kebiasaan,” ujarnya.

Di titik ini, diskusi bergeser dari soal ide ke soal ketekunan. ‘Writer’s block’—momok yang kerap menghantui penulis—tidak lagi dipandang sebagai hambatan besar, melainkan bagian dari proses yang bisa dilampaui dengan ritme kerja yang konsisten.

Sementara itu, Amar Salahuddin melihat kegiatan ini dari sudut yang lebih luas: ekosistem literasi. Ia menilai ruang seperti Rumah Baca Marenda tak cukup hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang tumbuh bagi keberanian berekspresi.

“Mahasiswa harus didorong menjadi pencipta, bukan hanya penikmat,” katanya.

Dalam konteks itu, Lapau Literasi menjadi semacam laboratorium kecil—tempat ide diuji, dipertanyakan, dan dipertajam melalui dialog. Tidak ada penilaian mutlak tentang baik atau buruknya gagasan. Yang ada justru dorongan untuk terus mencoba.

Kegiatan ini sekaligus menutup perjalanan literasi Komunitas Seni Kuflet yang selama sepekan berkeliling di sejumlah titik di Jambi. Dharmasraya, yang berada di perlintasan Jambi dan Sumatera Barat, menjadi simpul akhir—sekaligus titik temu berbagai pengalaman.

Di tempat inilah, ide-ide yang semula tercecer—di perjalanan, di percakapan, di ingatan—dikumpulkan kembali. Seperti yang berulang kali ditekankan dalam diskusi: menulis bukan soal menunggu momen besar, melainkan merawat hal-hal kecil agar tidak hilang begitu saja.*** (rls)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Trending di SENI BUDAYA