Menu

Mode Gelap
Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000 Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

SENI BUDAYA

Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil

badge-check


 Lapau Literasi di Dharmasraya: Merawat Ide dari Warung Kopi hingga Catatan Kecil Perbesar

Wartatrans.com, DHARMASRAYA — Di sebuah sudut sederhana Rumah Baca Marenda, percakapan tentang sastra mengalir tanpa jarak. Tak ada podium tinggi, tak pula sekat formal antara pembicara dan peserta. Yang ada hanya lingkaran diskusi, kopi hangat, dan kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga api kreativitas tetap menyala.

Ahad siang itu, puluhan mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia duduk berbaur dengan pegiat literasi. Kegiatan bertajuk Lapau Literasi Sastra ini bukan sekadar penutup Tur Literasi Sumatera yang digelar Komunitas Seni Kuflet. Ia menjelma ruang refleksi—tentang proses kreatif yang sering kali terasa sunyi dan personal.

Di tengah diskusi, Sulaiman Juned menggeser cara pandang umum soal inspirasi. Ia menolak anggapan bahwa ide adalah sesuatu yang harus ditunggu.

“Ide itu bukan datang, tapi ditemukan. Bahkan dipungut,” katanya, pelan tapi tegas.

Baginya, kehidupan sehari-hari adalah ladang tak bertepi: percakapan remeh di warung kopi, fragmen pengalaman pribadi, hingga peristiwa kecil yang luput dari perhatian. Semua itu, jika ditangkap dengan kepekaan, bisa menjelma menjadi karya.

Namun, kata kuncinya bukan sekadar melihat—melainkan mencatat. Ia mengibaratkan ide sebagai sesuatu yang licin, mudah lepas dari ingatan jika tidak segera dituliskan. Catatan kecil, sepotong dialog, atau satu kalimat sederhana, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk bagi karya yang lebih utuh.

Para peserta usai acara

Gagasan serupa disampaikan Muhammad Subhan. Ia menekankan pentingnya disiplin dalam proses kreatif.

“Menulis itu bukan soal menunggu suasana, tapi membangun kebiasaan,” ujarnya.

Di titik ini, diskusi bergeser dari soal ide ke soal ketekunan. ‘Writer’s block’—momok yang kerap menghantui penulis—tidak lagi dipandang sebagai hambatan besar, melainkan bagian dari proses yang bisa dilampaui dengan ritme kerja yang konsisten.

Sementara itu, Amar Salahuddin melihat kegiatan ini dari sudut yang lebih luas: ekosistem literasi. Ia menilai ruang seperti Rumah Baca Marenda tak cukup hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang tumbuh bagi keberanian berekspresi.

“Mahasiswa harus didorong menjadi pencipta, bukan hanya penikmat,” katanya.

Dalam konteks itu, Lapau Literasi menjadi semacam laboratorium kecil—tempat ide diuji, dipertanyakan, dan dipertajam melalui dialog. Tidak ada penilaian mutlak tentang baik atau buruknya gagasan. Yang ada justru dorongan untuk terus mencoba.

Kegiatan ini sekaligus menutup perjalanan literasi Komunitas Seni Kuflet yang selama sepekan berkeliling di sejumlah titik di Jambi. Dharmasraya, yang berada di perlintasan Jambi dan Sumatera Barat, menjadi simpul akhir—sekaligus titik temu berbagai pengalaman.

Di tempat inilah, ide-ide yang semula tercecer—di perjalanan, di percakapan, di ingatan—dikumpulkan kembali. Seperti yang berulang kali ditekankan dalam diskusi: menulis bukan soal menunggu momen besar, melainkan merawat hal-hal kecil agar tidak hilang begitu saja.*** (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA