Menu

Mode Gelap
Presiden GPAB Sayangkan Penunjukan Jubir Aceh, Dinilai Lukai Nilai Perjuangan Penunjukan Jubir Aceh Picu Polemik, Publik Soroti Konsistensi Sikap terhadap Warisan Hasan Tiro Perluas Kerja Sama Penguatan SDM, BPSDMP Gandeng 7 Pemda di Sulsel Menhub Dudy Tinjau Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Pastikan Siap Layani Jemaah Haji 2026 Aceh Tengah Belum Pulih, Ancaman Banjir dan Longsor Susulan Masih Mengintai PTP Nonpetikemas Cabang Pangkal Balam Perkuat Layanan Bongkar Muat CPO

SENI BUDAYA

Seni Aceh: Tempat untuk Pulang

badge-check


 Seni Aceh: Tempat untuk Pulang Perbesar

Oleh: Muhammad, M.Pd

_____

Wartatrans.com, ACEH — Tahun 1990-an awal, masih terlihat akrab dan membumilah zikir, dalail maupun nasyid dilantunkan pada tiap-tiap acara besar ataupun kecil guna membawa tamu kepada pengiring sela bincang oleh si pemilik rumah atau tempat bahkan desa yang sedang adakan hajatan.

Suara anak-anak yang membawa syair, nazam maupun nasyid itu bagai tambahan ekstra ilmu dan dendang peluluh lelah keseharian warga.

Mereka yang sepanjang hari sibuk mencari nafkah dapat menikmati suguhan estetis alam kebudayaan Aceh yang konon Islami dan membumi, setidaknya saban Jumat rapalan yang diiringi shalawat maupun pukulan rapai sayup belum mampu diganti oleh tayangan tv yang berisi perang, sinetron atau berita Soeharto.

Aceh merupakan zona seni yang didominasi warna tradisi sebagai elementer ekspresif, bahkan dogma bahwa jika menyaksikan sesuatu yang hanya membuang waktu tanpa bermakna atau berpahala, itu telah dianggap perbuatan sia-sia, hana (tidak) guna, buet (perbuatan) syetan, sehingga apapun meskipun itu seni, setidaknya beunalah (harus ada) faedah.

Jadi mengingatkan segala sesuatu dalam wacana seni Aceh adalah segala yang memberikan nilai positif dan dalam sisi agama (Islam) berisi/ bernilai ibadah, sehingga kesenian Aceh tidak menjadi tertolak, tidak menjadi racun bagi tumbuh dan bertahannya peradaban Islam di negeri yang sangat banyak telah melahirkan para ilmuan khususnya bidang agama juga sastra.

Suatu kali terdapat kunjungan pertunjukan rapai di Eropa, salah satu penonton yang berkunjung di sana berurai air mata saat mendengar rapa’i itu dipukul/dibunyikan, sehingga bagai hilanglah sedikit rindu dendam pada kampung halaman si anak Aceh itu.

Bagai tergambar dengan jelas dihadapannya lereng bukit dan sungai-sungai masa kecil saat telapak kaki belum melangkah mengarungi dunia maha luas, itulah etnik, seni sebagai tempat kembali, sebuah kemampuan yang memintas jarak seluruh perjalanan, seni Aceh, dapatkah dikembalikan sebagai alamat pulang seluruh esensi kehidupan orang Aceh masa kini juga masa depan?

Pada 2021 di kampung kecil Beuringen, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Jambo Budaya berkesempatan hadir menyiarkan langsung pertunjukan rapai berikut debus beringen yang juga bertetangga dengan Kampung Kelahiran admin.

Sebuah hajatan sunatan putra orang desa setempat mengundang penampil rapai debus untuk mengisi seremoni hajatan tuan rumah, sontak kampung kampung lain sekitar pun warganya tumpah ruah, malam ba’da Isya seluruh penduduk bagaikan larut dalam decak kagum dengan suguhan rapai dan debus, sesekali dari lingkaran penonton unjug diri, berdebus dan ada juga yang mencoba pukulan rapai, layaknya bintang tamu.

Musim panen yang disyukuri, momen beranjak dewasa generasi yang didiidik itulah suatu komparasi yang akhirnya bukan lagi ‘sebab’ mengapa pertunjukan seni tradisi itu masih dipelihara dan sangat digandrungi, itu semua justru sebuah anugerah betapa orang Aceh masih sangat menikmati kesenian asli yang membumi, atra droe (kepemilikan), autentik atau local wisdom yang secara normatif sekalipun tetaplah mendapat tempat istimewa bagi seluruh kalangan pencinta kesenian di Aceh.

Kesenian Aceh tidak saja menjadi eksperimen di saat karya itu diciptakan, tetapi berkumpul segala filosofi, karakter juga alam yang ekspresif membuat seni yang tercipta dari keluhuran nilai ilmu dan adab orang Aceh itu memberikan penyuguhaan yang kompleks.

Bila hendak ditilik dari berbagai sisi, kekayaan nilai seni Aceh sangat beragam sehingga para peneliti seni Aceh akhirnya harus juga mampu mengupas lapis nilai-nilai yang kaya itu sebagai kesanggupan mengaktualkan risetnya, agar tidak seperti menciduk air laut dan mengatakan semuanya asin, sebab ada juga masa payau, bahkan kesenian Aceh pernah berada pada fase hambar akibat perang yang berkepanjangan juga ditinggal mati penyuguhnya sehingga membawa rasa kehilangan yang amat sangat, karenanya tak ada kata terlambat untuk kembali kepada seni tradisi dengan menyelamatkannya.

Pada 2016 di Aceh Utara sebuah hajatan pernikahan menampilkan suguhan Seudati, usai suguhan hidangan pesta perkawinan putrinya, tuan rumah meminta semua undangan tidak langsung beranjak, mereka diperkenankan menikmati tari seudati di atas panggung dalam nuansa perkampungan yang di dominasi tambak/kolam ikan, suasana malam yang biasanya gelap gulita dan para nelayan lekas kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat saat itu berubah persis seperti pasar malam.

Grup seudati yang ditampilkan pun adalah berisi seniman legendaris, sehingga tampaklah nyata bagaimana pakem seudati dengan seluruh elemen yang disuguhkan membawa kesan sangat identik yang mengikat waktu masa kini untuk kembali ke masa dulu, terpelihara setiap rukun dan tertib suguhannya.

Syair atau pesan yang dibacakan syech /vokalnya pun tak luput disisip berbagai nasihat bagi pengantin juga ruh budaya sebagai pesan inti dari yang ditampilkan itu membawa serta juga emosi dan ekspresi seniman Aceh pada pentingnya terus diberi ruang bagi seudati mendapat tempat istimewa dalam kehidupan di Aceh, sehingga tidak asing di negeri sendiri.

Pesan yang luas masyarakat Aceh yang memang terbiasa menikmati hidup dengan merdeka adalah juga tetap mendapatkan pertunjukan seni yang matang dan bukan coba-coba, meskipun tidak sedikit karya seni Aceh justru lahir dari ragaman perpaduan pertunjukan budaya bangsa-bangsa di berbagai belahan bumi akibat jaringan orang Aceh tempo dulu yang sudah melanglang.

Kampung kita justru laboratorium seni Aceh yang memang sudah menjadi bagian penting kebudayaan. Alangkah aneh jika kampung Aceh itu berubah menjadi tempat ketika seni Aceh ditampilkan justru dianggap tamu.

Itu merupakan kesilapan yang perlu segera diralat agar berdayanya seniman Aceh termasuk kesanggupan masyarakat Aceh sendiri memberi tempat istimewa terhadap apa yang telah dimiliki endatu orang Aceh, tidak justru dianggap kolot.

Bagian dari memelihara kebudayaan Aceh tanpa melihat karya seni Aceh yang istimewa itu dapatlah dianggap sebagai proyek tanpa hasil sebab tidak bersumber dari tujuan yang berfokus pada esensi atau nilai-nilai Aceh itu sendiri, sehingga mewacanakan seni untuk menciptakan sebuah relasi pasar yang sangat terikat dengan kekinian dapat ditabuhi penting sekali melihat barang (karya seni) yang asli daripada yang palsu atau coba-coba.

Setiap sejarah seni Aceh dikupas, bahan-bahan yang dikaji tak hanyalah semata seni dalam arti tekstual atau performance-nya namun elemen makna dan latar belakang yang memfilter kesenian Aceh itu sehingga dapat terus dipelihara dan tetap layak dikonsumsi/ditampilkan secara teknis dengan elemen pertunjukan masa kini, dari sanalah jalan untuk pulang, kembali menjadi Aceh yang berdaulat secara penuh lewat seni.***

– Penulis merupakan praktisi seni budaya, jurnalis, menetap di Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ati Ganda Siap Berbagi Pengalaman di Diskusi Kartini Seni Musik dan Film 2026

19 April 2026 - 06:32 WIB

Nucke Rahma SH, Novelis Kondang Siap Jadi Narasumber Ngobrol Santai Bareng Kartini Seni, Musik dan Film 2026

18 April 2026 - 18:42 WIB

GLN Gareulis Luncurkan TALENTA 2026, Dorong Literasi sebagai Gerakan Transformatif

18 April 2026 - 15:00 WIB

Fahira Idris dalam Goresan Kartun Putra Gara untuk Pameran JAKARTUN 2026

18 April 2026 - 11:41 WIB

Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl.

17 April 2026 - 21:19 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Zee Asadel Magma Baru Industri Film Indonesia

16 April 2026 - 14:12 WIB

Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi

16 April 2026 - 05:55 WIB

Studiosa dan Nazar Apache: Membangun Ekosistem Musik Aceh dari Akar Kreativitas

16 April 2026 - 05:45 WIB

Film Kupilih Jalur Langit, Drama Religi Tanpa Dakwah

16 April 2026 - 05:35 WIB

Trending di SENI BUDAYA