Menu ✖

Mode Gelap
KKP Catat Kinerja Positif, Produksi Perikanan Capai 26,25 Juta Ton Kereta Api Terhubung dengan LRT, BRT hingga Bandara, Ini Data Pelanggan KAI Group Little Harbour, Dermaga Aman bagi Anak dan Ruang Tenang bagi Orang Tua di Pelindo Regional 2 Suasana Panas Terjadi Saat Pembacaan Vonis Bupati Pati Non Aktif Sudewo Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali Wujudkan Pelabuhan Bersih dan Bebas Pungli, IPC TPK Bersama Mitra Operasional Deklarasikan Komitmen Bersama

SENI BUDAYA

Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi

badge-check


 Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Tulisan ini ngebahas perjalanan Sastra Betawi dari masa Batavia sampai era sekarang, dengan gaya khas Betawi yang santai.

Intinya, Sastra Betawi punya akar panjang dari bahasa Melayu pasar—bahasa rakyat yang egaliter, tanpa kasta. Dari situ lahir karya-karya awal seperti Siti Akbari dan Njai Dasima, yang jadi fondasi budaya Betawi modern.

Masuk abad 20, muncul tokoh ikonik lewat Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo, yang kemudian makin populer lewat adaptasi Rano Karno.

Sastra Betawi juga dibesarkan oleh para jawara seperti:

Firman Muntaco (penghidup roh Betawi dalam cerita rakyat), S. M. Ardan (realisme kehidupan Jakarta), dan Mahbub Djunaidi (satir cerdas dan jenaka).

Di era modern, muncul Chairil Gibran Ramadhan (CGR), yang disebut “Si Pitung Sastra Betawi”. Dia konsisten nulis, menerbitkan karya lewat Penerbit Padasan, dan mengangkat marwah budaya Betawi lewat sastra yang membumi.

Meski dipuji akademisi dunia seperti Benedict Anderson, Sastra Betawi masih kurang mendapat tempat di kampus (belum jadi program studi khusus). Namun, harapan tetap ada karena muncul generasi baru penulis Betawi.

Walau belum sepenuhnya diakui secara akademis, Sastra Betawi tetap hidup lewat karya dan komunitas. Tugas menjaganya ada di tangan penulis dan masyarakat sendiri—biar budaya Betawi nggak cuma jadi kenangan.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali

21 Oktober 2026 - 19:41 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Apresiasi Semarak Kebudayaan Kabupaten Bogor, Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

21 Oktober 2026 - 12:56 WIB

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Trending di SENI BUDAYA