Menu

Mode Gelap
360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026 Ciptakan Petugas Andal, KAI Daop 7 Madiun Selenggarakan Diklat Refreshing PPKA KAI Group Perkuat Integrasi Antarmoda, Jumlah Penumpang LRT Jabodebek hingga Whoosh Meningkat pada Triwulan I 2026 Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik Belum Pulih dari Bencana, Rencana Pacuan Kuda di Takengon Diprotes Helikopter Jatuh di Sanggau Kalimantan Barat, Delapan Orang Tewas

SENI BUDAYA

Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi

badge-check


 Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Tulisan ini ngebahas perjalanan Sastra Betawi dari masa Batavia sampai era sekarang, dengan gaya khas Betawi yang santai.

Intinya, Sastra Betawi punya akar panjang dari bahasa Melayu pasar—bahasa rakyat yang egaliter, tanpa kasta. Dari situ lahir karya-karya awal seperti Siti Akbari dan Njai Dasima, yang jadi fondasi budaya Betawi modern.

Masuk abad 20, muncul tokoh ikonik lewat Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo, yang kemudian makin populer lewat adaptasi Rano Karno.

Sastra Betawi juga dibesarkan oleh para jawara seperti:

Firman Muntaco (penghidup roh Betawi dalam cerita rakyat), S. M. Ardan (realisme kehidupan Jakarta), dan Mahbub Djunaidi (satir cerdas dan jenaka).

Di era modern, muncul Chairil Gibran Ramadhan (CGR), yang disebut “Si Pitung Sastra Betawi”. Dia konsisten nulis, menerbitkan karya lewat Penerbit Padasan, dan mengangkat marwah budaya Betawi lewat sastra yang membumi.

Meski dipuji akademisi dunia seperti Benedict Anderson, Sastra Betawi masih kurang mendapat tempat di kampus (belum jadi program studi khusus). Namun, harapan tetap ada karena muncul generasi baru penulis Betawi.

Walau belum sepenuhnya diakui secara akademis, Sastra Betawi tetap hidup lewat karya dan komunitas. Tugas menjaganya ada di tangan penulis dan masyarakat sendiri—biar budaya Betawi nggak cuma jadi kenangan.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Zee Asadel Magma Baru Industri Film Indonesia

16 April 2026 - 14:12 WIB

Studiosa dan Nazar Apache: Membangun Ekosistem Musik Aceh dari Akar Kreativitas

16 April 2026 - 05:45 WIB

Film Kupilih Jalur Langit, Drama Religi Tanpa Dakwah

16 April 2026 - 05:35 WIB

Dari Sakit ke Karya: Dudin Lahirkan Lagu Religi dari Perenungan

14 April 2026 - 22:19 WIB

Di Tengah Konflik Timur Tengah, Partai Demokrat Berikan Bansos Hasil Lelang Lukisan SBY

14 April 2026 - 07:20 WIB

Nina Septiana Nugroho, Konsisten Dukung FORWAN

13 April 2026 - 21:08 WIB

FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor

13 April 2026 - 18:37 WIB

Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti

13 April 2026 - 12:54 WIB

Marcell Darwin Ungkap Adegan Paling Menguras Emosi di Film Dalam Sujudku

12 April 2026 - 10:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA