Wartatrans.com, JAKARTA — Tulisan ini ngebahas perjalanan Sastra Betawi dari masa Batavia sampai era sekarang, dengan gaya khas Betawi yang santai.
Intinya, Sastra Betawi punya akar panjang dari bahasa Melayu pasar—bahasa rakyat yang egaliter, tanpa kasta. Dari situ lahir karya-karya awal seperti Siti Akbari dan Njai Dasima, yang jadi fondasi budaya Betawi modern.

Masuk abad 20, muncul tokoh ikonik lewat Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo, yang kemudian makin populer lewat adaptasi Rano Karno.
Sastra Betawi juga dibesarkan oleh para jawara seperti:
Firman Muntaco (penghidup roh Betawi dalam cerita rakyat), S. M. Ardan (realisme kehidupan Jakarta), dan Mahbub Djunaidi (satir cerdas dan jenaka).
Di era modern, muncul Chairil Gibran Ramadhan (CGR), yang disebut “Si Pitung Sastra Betawi”. Dia konsisten nulis, menerbitkan karya lewat Penerbit Padasan, dan mengangkat marwah budaya Betawi lewat sastra yang membumi.
Meski dipuji akademisi dunia seperti Benedict Anderson, Sastra Betawi masih kurang mendapat tempat di kampus (belum jadi program studi khusus). Namun, harapan tetap ada karena muncul generasi baru penulis Betawi.
Walau belum sepenuhnya diakui secara akademis, Sastra Betawi tetap hidup lewat karya dan komunitas. Tugas menjaganya ada di tangan penulis dan masyarakat sendiri—biar budaya Betawi nggak cuma jadi kenangan.*** (Dulloh)




























