Menu

Mode Gelap
Ribuan Ojol Antre KPR DP 0%: Janji Gacor Perumahan Informal  Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000

SENI BUDAYA

Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi

badge-check


 Chairil Gibran Ramadhan: “Si Pitung” Sastra Betawi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Tulisan ini ngebahas perjalanan Sastra Betawi dari masa Batavia sampai era sekarang, dengan gaya khas Betawi yang santai.

Intinya, Sastra Betawi punya akar panjang dari bahasa Melayu pasar—bahasa rakyat yang egaliter, tanpa kasta. Dari situ lahir karya-karya awal seperti Siti Akbari dan Njai Dasima, yang jadi fondasi budaya Betawi modern.

Masuk abad 20, muncul tokoh ikonik lewat Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo, yang kemudian makin populer lewat adaptasi Rano Karno.

Sastra Betawi juga dibesarkan oleh para jawara seperti:

Firman Muntaco (penghidup roh Betawi dalam cerita rakyat), S. M. Ardan (realisme kehidupan Jakarta), dan Mahbub Djunaidi (satir cerdas dan jenaka).

Di era modern, muncul Chairil Gibran Ramadhan (CGR), yang disebut “Si Pitung Sastra Betawi”. Dia konsisten nulis, menerbitkan karya lewat Penerbit Padasan, dan mengangkat marwah budaya Betawi lewat sastra yang membumi.

Meski dipuji akademisi dunia seperti Benedict Anderson, Sastra Betawi masih kurang mendapat tempat di kampus (belum jadi program studi khusus). Namun, harapan tetap ada karena muncul generasi baru penulis Betawi.

Walau belum sepenuhnya diakui secara akademis, Sastra Betawi tetap hidup lewat karya dan komunitas. Tugas menjaganya ada di tangan penulis dan masyarakat sendiri—biar budaya Betawi nggak cuma jadi kenangan.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA