Menu

Mode Gelap
Seniman Gayo Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”, Dinilai Mereduksi Martabat Pahlawan Aceh InJourney Percepat Konsolidasi Hotel BUMN, Perkuat Ekosistem Pariwisata Nasional Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Jadi Ujian Pemerataan Digital, Pengamat Ingatkan Jangan Sekadar Kejar PNBP PPN XIV Aceh 2026 Hadirkan Nusantara Puisi Musikal, Teatrikal, dan Puisi Visual di Perpustakaan Banda Aceh KAI Services Ajak Warga Pasar Gaplok Tukar Sampah dengan Sembako Giat ‘Jaga Jakarta on The Spot’,  Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Ajak Masyarakat Bersinergi Menjaga Kamtibmas

RAGAM

Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Jadi Ujian Pemerataan Digital, Pengamat Ingatkan Jangan Sekadar Kejar PNBP

badge-check


 Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Jadi Ujian Pemerataan Digital, Pengamat Ingatkan Jangan Sekadar Kejar PNBP Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Proses seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memasuki tahap evaluasi administrasi. Tiga operator seluler besar, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, bersaing memperebutkan spektrum yang dikenal sebagai “frekuensi emas”.

Pita frekuensi 700 MHz dinilai sangat strategis karena memiliki jangkauan sinyal yang luas serta kemampuan penetrasi ke dalam bangunan yang lebih baik, sehingga efektif untuk memperluas layanan di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas layanan data di kawasan perkotaan yang padat pengguna.

Di tengah optimisme pemerintah mempercepat pemerataan akses internet, sejumlah kalangan mengingatkan agar proses lelang tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Pengamat kebijakan publik dan telekomunikasi dari Indonesian ICT Institute, Heru Sutadi, menilai besarnya biaya yang harus ditanggung pemenang lelang berpotensi menghambat investasi jaringan jika pemerintah lebih mengutamakan nilai penawaran tertinggi.

“Jika pemerintah terjebak mengejar nilai penawaran tertinggi demi meningkatkan PNBP, operator akan terbebani belanja modal yang sangat besar sejak awal. Dampaknya bisa berupa lambatnya pembangunan jaringan di wilayah tertinggal maupun kenaikan tarif layanan data bagi masyarakat,” ujar Heru, Sabtu (28/6/2026).

Menurutnya, saat ini beban Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi beserta biaya regulasi di Indonesia telah mencapai sekitar 12 hingga 14 persen dari pendapatan kotor industri telekomunikasi. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibanding rekomendasi Global System for Mobile Communications Association (GSMA) yang menyarankan beban regulasi maksimal sekitar 10 persen agar industri tetap memiliki ruang untuk berinvestasi.

Heru juga mengingatkan kewajiban pembangunan jaringan di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang menjadi salah satu syarat lelang berpotensi sulit direalisasikan apabila tidak diikuti kebijakan insentif.

Menurutnya, tanpa pengurangan beban BHP atau bentuk stimulus lainnya, komitmen pembangunan di wilayah 3T dikhawatirkan hanya menjadi persyaratan administratif yang sulit diwujudkan secara optimal karena pertimbangan keekonomian operator.

Sementara itu, proses seleksi frekuensi ini juga menjadi ujian bagi Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam mewujudkan komitmen transparansi, kepastian hukum, dan akuntabilitas pengelolaan spektrum frekuensi nasional.

Publik berharap alokasi spektrum yang terbatas tersebut benar-benar mampu mendorong pemerataan konektivitas digital dan meningkatkan produktivitas ekonomi nasional, bukan sekadar menjadi instrumen untuk mengejar penerimaan negara dalam jangka pendek.*** (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IPCC Terus Melaju, Pergantian Pimpinan Perkuat Sinergi Ekosistem Kepelabuhanan Nasional

27 Juni 2026 - 10:14 WIB

Iran Tawarkan Transfer Teknologi ke Indonesia di Tengah Ketegangan Timur Tengah

27 Juni 2026 - 10:00 WIB

Tarif Listrik di ASEAN Dinilai Kurang Kompetitif, Stabilitas Dijaga tetapi Bebani Fiskal

27 Juni 2026 - 08:35 WIB

Pelindo dan Kejati Maluku Perkuat Sinergi, Dorong Pembangunan Terminal Pelabuhan Ambon

27 Juni 2026 - 05:59 WIB

Susunan Baru Direksi PT Pelindo Sinergi Lokaseva untuk Dukung Transformasi dan Tata Kelola Perusahaan

27 Juni 2026 - 05:52 WIB

Wali Kota Makassar Soroti Fenomena LGBT, Neno Warisman Dorong Daerah Bentuk Perda Larangan

26 Juni 2026 - 18:31 WIB

LGBT Masuk Kategori Ancaman Nonmiliter di Perpres 111/2025, Aktivis Cinta Keluarga Neno Warisman Ingatkan Bahayanya LGBT

26 Juni 2026 - 18:14 WIB

Pembangunan Pipa PAM Jaya Masif, Pasokan Air Di Jakarta Masih Defisit

26 Juni 2026 - 17:12 WIB

Terminal Teluk Lamong Raih Throughput 1,2 Juta TEUs, Dorong Jawa Timur Jadi Gerbang Baru Nusantara

26 Juni 2026 - 16:09 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Komunikasi Korporasi yang Kredibel dan Bernilai

26 Juni 2026 - 16:04 WIB

Trending di ANJUNGAN