Menu ✖

Mode Gelap
KAI Group Layani 394,4 Juta Pelanggan hingga September 2026, Tumbuh 7,06 Persen Kendaraan Roda Tiga, Menakar Peluang dan Tantangan jadi Angkutan Umum Kemenhub Dorong Penguatan Kolaborasi Ekosistem Maritim Kemenhub Dorong Layanan Penumpang Lebih Mudah dan Terintegrasi saat di Bandara Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik

WISATA

Mari Rayakan Warisan Rasa dalam Ekspresi yang Paling Elegan di ROSO Yogya

badge-check


 Pengunjung menikmati menu di ROSO Yogyakarta Perbesar

Pengunjung menikmati menu di ROSO Yogyakarta

Wartatrans.com, YOGYAKARTA – Mari rayakan warisan rasa Indonesia yang autentik dalam ekspresi elegan saat di Yogyakarta.

Ya, sebuah babak baru dalam perjalanan kuliner Indonesia resmi dimulai dengan hadirnya ROSO Restaurant Yogyakarta di Grand Hotel De Djokja.

Lebih dari sekadar restoran, ROSO hadir sebagai sebuah destinasi gastronomi yang mengangkat kekayaan cita rasa Nusantara melalui pendekatan yang elegan, autentik, dan berkelas dunia.

Berlandaskan filosofi “The Finest Expression of Indonesian Taste,” ROSO menghadirkan pengalaman bersantap yang merayakan Indonesia bukan hanya melalui rasa, tetapi juga melalui cerita, budaya, tradisi, dan manusia di balik setiap hidangan.

Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, kehadiran ROSO merupakan bagian penting dari transformasi hotel menuju era baru sebagai destinasi heritage luxury terkemuka di Yogyakarta.

“ROSO adalah perwujudan dari apa yang ingin kami hadirkan di Grand Hotel De Djokja sebuah pengalaman yang berakar kuat pada budaya Indonesia namun disajikan dengan standar hospitality kelas dunia,” ungkapnya.

Pihaknya percaya bahwa warisan kuliner Indonesia memiliki kualitas dan kedalaman yang layak ditempatkan sejajar dengan destinasi gastronomi terbaik di dunia.

“Melalui ROSO, kami mengundang para tamu untuk merasakan Indonesia dengan cara yang lebih mendalam, personal, dan berkesan.”

Setiap menu dirancang untuk membawa para tamu menjelajahi kepulauan Indonesia melalui bahasa yang paling universal: makanan.

Pembukaan ROSO Yogyakarta ditandai dengan sebuah Opening Dinner yang istimewa, sebuah perayaan yang tidak hanya menandai lahirnya restoran baru, tetapi juga menjadi simbol perjalanan sebuah gagasan yang pertama kali tumbuh di Bali dan kini menemukan rumah barunya di Yogyakarta.

Pada malam bersejarah tersebut, Chef Ketut Gede Arya Prima Udayana (Chef Prima) dan Chef Komang Kardana (Chef Kardana) dari ROSO Bali berkolaborasi bersama Chef Kolibin, Head Chef ROSO Yogyakarta, menghadirkan sebuah pengalaman kuliner yang merepresentasikan semangat, filosofi, dan masa depan gastronomi Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi simbol estafet nilai dan visi dari ROSO Bali kepada ROSO Yogyakarta, sebuah komitmen yang sama terhadap keaslian cita rasa, penghormatan terhadap budaya, dan standar pelayanan yang mengedepankan kehangatan khas Indonesia.

Di jantung perayaan tersebut, para tamu diajak menikmati Seven-Courses Journey, sebuah rangkaian tujuh hidangan yang disusun sebagai perjalanan rasa melintasi Nusantara.

Setiap chapter menghadirkan interpretasi modern dari tradisi kuliner Indonesia, mempertemukan teknik gastronomi kontemporer dengan resep-resep yang telah diwariskan lintas generasi.

Perjalanan dimulai dengan sebuah penghormatan kepada salah satu bahan pangan paling ikonik di Indonesia: Tempe.

Melalui hidangan bertajuk “Tempe dalam Gegurit Rasa,” ROSO menghadirkan tempe dalam ekspresi yang sama sekali baru. Terdiri dari Lemper Tempe, Tempe Coin, dan Tempe Cone.

Sajian ini mengeksplorasi tekstur, aroma, dan rasa dengan pendekatan modern tanpa menghilangkan akar budayanya.

Hasilnya adalah sebuah pengalaman yang mengubah cara pandang terhadap bahan pangan sederhana yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Dari Jawa, perjalanan berlanjut ke Sumatera Utara melalui Naniura, salah satu warisan kuliner paling berharga dari masyarakat Batak.

Menggunakan salmon premium yang diproses dengan lebih dari dua puluh jenis rempah Nusantara, hidangan ini menghadirkan rasa yang segar, kompleks, dan penuh karakter.

Sebuah kesempatan langka untuk menikmati tradisi kuliner yang hingga kini masih erat kaitannya dengan upacara adat dan perayaan istimewa.

Dari Pulau Dewata, hadir Lobster Base Genep, interpretasi elegan dari bumbu legendaris Bali yang dipadukan dengan butter-poached lobster tail, basil segar, daun bawang bakar.

Hidangan ini memperlihatkan bagaimana kekayaan rempah Bali dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman fine dining yang modern dan berkelas.

Adapun Sampi Menyat-Nyat menghadirkan karakter Bali yang lebih berani dan mendalam.

US Prime Beef Short Ribs dimasak perlahan hingga mencapai kelembutan sempurna, dipadukan dengan nangka muda, biji-bijian lokal, serta sambal embe yang aromatik.

Sebuah hidangan yang mencerminkan kehangatan, ketulusan, dan keramahan yang menjadi jiwa dari hospitality Indonesia.

Sebagai penghormatan kepada tanah tempat ROSO Yogyakarta berdiri, perjalanan ini juga menghadirkan Manuk Nom, hidangan yang terinspirasi dari tradisi kuliner Keraton Yogyakarta.

“Mengangkat cita rasa yang dahulu hadir dalam berbagai perjamuan kerajaan, hidangan ini menjadi jembatan antara keanggunan budaya keraton dan kehangatan masakan yang hidup di tengah masyarakat Yogyakarta hingga hari ini,” ungkap Chef Prima.

Namun lebih dari sekadar menu pembuka, Seven-Courses Journey merupakan representasi filosofi yang akan terus menjadi fondasi ROSO ke depannya.

Dan setiap sajian menjadi media untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui cara yang paling berkesan.

Menariknya, pengalaman yang diperkenalkan pada malam pembukaan ini tidak hanya hadir untuk satu malam saja. Para tamu nantinya dapat menikmati rangkaian menu kolaborasi tersebut sebagai bagian dari pengalaman bersantap di ROSO Yogyakarta, sekaligus menemukan inspirasi cita rasa yang juga hidup di ROSO Bali.

Hubungan antara kedua destinasi ini menghadirkan sesuatu yang unik dua interpretasi berbeda dari satu filosofi yang sama. Satu berakar di Bali, satu tumbuh di Yogyakarta, namun keduanya disatukan oleh penghormatan yang sama terhadap kekayaan kuliner Indonesia.

Sementara itu, Philip Walasary, Director of Food & Beverage sekaligus Executive Chef Grand Hotel De Djokja, menjelaskan, menghadirkan kuliner Indonesia dalam sebuah presentasi yang elegan memerlukan lebih dari sekadar kemampuan memasak.

Kuliner Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Rempah yang berlapis, aroma yang khas, dan bumbu yang begitu kuat menjadikan setiap hidangan memiliki karakter yang unik.

Karena itu, para talenta kuliner di ROSO tidak dapat menyajikan hidangan secara sembarangan.

Mereka harus memahami sejarah di balik setiap makanan, mengenali nilai budaya yang membentuknya, serta menemukan kembali cita rasa yang tepat, rasa yang membangkitkan kenangan masa kecil, kehangatan masakan warisan, dan kekhasan daerah yang tidak tergantikan. (omy)

Baca Lainnya

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Industri Pelayaran Kejar Nilai Ekspor, Bukan Sekadar Tambah Kapal

6 Oktober 2026 - 17:04 WIB

BNI Tawarkan Investasi SBN SBR015 via wondr, Imbal Hasil hingga 6,85%

6 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Yes, BNI Tingkatkan Layanan Keuangan Digital bagi Nasabah Emerald dan Private

6 Oktober 2026 - 14:35 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Kehadiran MotoGP Mandalika 2026 Perluas Jaringan Transportasi Lombok

6 Oktober 2026 - 05:04 WIB

Joumpa Masuk di Layanan wondr, BNI Perluas Ekosistem Perjalanan

6 Oktober 2026 - 04:54 WIB

Aceh Tengah Bersama Kodim 0106 Raih Juara Stand Terbaik Indonesia Fest 2026

5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Trending di PERISTIWA