Oleh: Kamaruzzaman (Agam Rimba)

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Ada kabar yang selalu terasa berat bagi dunia seni: ketika seorang maestro berpulang, yang pergi bukan hanya seorang manusia, tetapi juga satu dunia pemikiran, pengalaman, keberanian, dan jejak kebudayaan yang selama puluhan tahun dibangunnya.
Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Nasirun berpulang pada pukul 05.58 WIB di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta setelah menjalani perawatan.
Bagi saya, Nasirun bukan sekadar nama besar dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Ia adalah seorang perupa yang berhasil menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk berdialog dengan tradisi, kebudayaan, spiritualitas, sekaligus persoalan kemanusiaan.
Kepergiannya tentu meninggalkan kesedihan yang dalam. Tetapi seorang seniman seperti Nasirun sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal di dalam karya-karyanya. Ia hidup di dalam gagasan yang pernah ditanamkannya. Dan ia akan terus hadir melalui ingatan orang-orang yang pernah melihat, membaca, merasakan, dan terinspirasi oleh karya-karyanya.
Nasirun dikenal dengan karakter visual yang kuat. Karya-karyanya tidak sekadar menghadirkan bentuk dan warna, tetapi juga membawa percakapan panjang mengenai tradisi Jawa, simbol budaya, spiritualitas, manusia, dan kehidupan sosial.
Di tangannya, kebudayaan tidak menjadi sesuatu yang beku. Tradisi justru menjadi sumber energi untuk melahirkan sesuatu yang baru.
Itulah salah satu kekuatan Nasirun. Ia tidak sekadar mengambil tradisi untuk dijadikan ornamen, tetapi mengolahnya menjadi bahasa seni yang hidup dan relevan dengan zamannya.
Bagi saya dan banyak seniman lainnya, perjalanan Nasirun memberikan pelajaran penting: bahwa seorang seniman harus memiliki keberanian untuk menemukan jalan pengucapannya sendiri.
Seni tidak lahir hanya dari keterampilan teknis. Seni lahir dari kegelisahan, pengalaman, keberanian, ketekunan, dan kecintaan terhadap kehidupan.
Nasirun telah melewati perjalanan itu. Ia membuktikan bahwa seorang seniman dapat berangkat dari akar budaya sendiri, kemudian berbicara kepada dunia tanpa harus kehilangan identitasnya.
Nasirun dan Ingatan tentang Indonesia
Ketika seorang maestro berpulang, kita sering kali mengatakan bahwa Indonesia kehilangan seorang seniman besar.
Tetapi bagi saya, kehilangan itu jauh lebih dalam. Kita kehilangan seseorang yang telah ikut menjaga ingatan kebudayaan Indonesia melalui bahasa seni.
Dalam karya Nasirun, kita dapat menemukan serpihan kehidupan, simbol-simbol tradisi, spiritualitas, kegelisahan manusia, dan perjalanan kebudayaan yang terus bergerak.
Karena itu, karya seorang seniman tidak pernah berhenti ketika tubuhnya berhenti berkarya.
Karya justru memulai perjalanan panjangnya sendiri. Ia berpindah dari ruang studio menuju ruang publik, dari galeri menuju ingatan penonton, dari satu generasi menuju generasi berikutnya. Nasirun telah meninggalkan warisan itu.
Dari Aceh, Kami Mengenang Nasirun
Sebagai seniman yang tumbuh dan berkarya dari Aceh, saya melihat Nasirun sebagai salah satu sosok yang memberikan inspirasi penting bagi perjalanan seni rupa Indonesia.
Ia mengajarkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar. Sebaliknya, akar budaya justru dapat menjadi kekuatan untuk melahirkan karya yang memiliki identitas.
Di tengah dunia yang semakin seragam, seorang seniman membutuhkan keberanian untuk mengatakan: inilah saya, inilah kebudayaan saya, dan inilah cara saya memandang dunia.
Nasirun telah melakukan itu melalui karya-karyanya. Karena itu, ketika mendengar kabar kepergiannya, yang muncul bukan hanya rasa kehilangan, tetapi juga rasa hormat yang dalam.
Indonesia kehilangan seorang maestro.
Namun Indonesia juga telah menerima warisan yang sangat besar. Warisan itu berupa karya, gagasan, keberanian, ketekunan, dan teladan bahwa seni dapat menjadi jalan untuk menjaga kebudayaan sekaligus merawat kemanusiaan.
Selamat Jalan, Maestro
Jenazah Nasirun dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Tempat itu menjadi ruang peristirahatan bagi seorang seniman yang sepanjang hidupnya telah memberikan banyak hal bagi dunia seni rupa Indonesia.
Selamat jalan, Nasirun. Tubuhmu mungkin telah kembali kepada tanah. Tetapi warna, garis, simbol, gagasan, dan kegelisahan yang pernah kau tuangkan ke dalam karya tidak akan ikut terkubur.
Karya-karyamu akan terus berbicara. Kepada hari ini. Kepada generasi yang akan datang. Dan kepada siapa pun yang kelak berdiri di hadapan karya-karyamu, lalu bertanya tentang manusia, kebudayaan, dan kehidupan.
Indonesia kehilangan seorang maestro, tetapi tidak kehilangan jejaknya. Nasirun akan tetap hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga, sahabat, dan seluruh insan seni yang ditinggalkan.
Selamat jalan, Maestro Nasirun. Karyamu akan terus hidup. Jejakmu akan terus menjadi bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia.***
(Penulis adalah wartawan Wartatrans.com dan pelukis asal Aceh)






























