Menu

Mode Gelap
3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

EKOBIS

Mengenal SDN Malabar II, SR Tertua Jabar di PTPN I Kebun Malabar

badge-check


 SR tertua di Jawa Barat (ist) Perbesar

SR tertua di Jawa Barat (ist)

Wartatrans.com, PANGALENGAN — Mengenal sekolah rakyat (SR) yang kini menjadi SDN Malabar II, di tengah hamparan hijau perbukitan teh Gunung Malabar, Kabupaten Bandung.

Ini kini menjadi sebuah monumen hidup pendidikan nasional yang kini dirawat di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara I (Persero).

Bangunan panggung ikonik yang dikenal sebagai SD Negeri Malabar II—dahulu bernama Vervoloog Malabar—bukan sekadar aset perkebunan, melainkan saksi bisu lahirnya embrio pendidikan rakyat yang telah bertahan selama lebih dari satu abad.

Didirikan tahun 1901 oleh sang pionir perkebunan, Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha, sekolah ini merupakan wujud kepedulian sosial untuk memberantas buta aksara di kalangan kaum pribumi.

Pada era kolonial yang penuh batasan struktural, Bosscha mendobrak tradisi dengan memberikan akses pendidikan cuma-cuma bagi anak-anak karyawan dan buruh petik teh agar mereka mampu mengenyam pendidikan setara sekolah dasar.

Kini, sekolah itu menjadi SD Negeri Malabar II yang dikelola penuh oleh pemerintah.

Meskipun sudah beralih rupa, tilas sejarah berdiri hingga peralihannya tetap terjaga. Beberapa foto yang menggambarkan aktivitas belajar siswa masa lampau tersimpan dan terpajang sebagai pengingat.

Sejarah itu menjadi pemacu semangat semua warga sekolah untuk mewarisi sikap perjuangan dan prestasi.

PTPN I sebagai pewaris sejarah memang telah melepas aset monumental ini kepada pemerintah. Namun, dalam operasional di lapangan, aset yang berada dalam manajemen Regional 2 itu tetap dijaga dan dipertahankan nilai-nilai orisinalitasnya.

Aset-aset milik PTPN I (Persero) yang memiliki nilai sejarah bangsa sangat banyak.

Sekolah atau sarana pendidikan menjadi aset sejarah yang yang cukup banyak selain pabrik-pabrik, rumah-rumah dinas, dan artefak lainnya.

Semua aset tersebut terus dijaga dan dirawat dengan baik sebagai cermin moralitas spirit generasi masa depan.

Direktur Utama PTPN I (Persero), Teddy Yunirman Danas menegaskan komitmennya menjaga warisan bersejarah ini sejalan dengan misi sosial berkelanjutan yang diemban oleh perusahaan hari ini.

“PTPN I hadir tidak hanya sebagai penggerak ekonomi wilayah, tetapi juga berkomitmen aktif dalam mencerdaskan generasi penerus, baik putra-putri karyawan maupun masyarakat di sekitar perkebunan. Ini adalah warisan moral yang menegaskan bahwa sejak dulu perusahaan peduli dengan pendidikan,” tutur Teddy.

Menurutnya, merawat SDN Malabar II adalah bentuk penghormatan terhadap akar sejarah sekaligus investasi jangka panjang bagi masa depan literasi bangsa.

Nilai historis sekolah ini begitu membekas bagi para alumninya lintas generasi.

Asep (85), seorang pensiunan karyawan pabrik teh Malabar, mengenang masa-masa sulit saat dirinya menimba ilmu di sekolah panggung tersebut pada era kolonial.

“Dulu saya sekolah di sana sekitar tahun 1950-an. Menurut orang-orang, Tuan Bosscha sangat berani membuka sekolah bagi kaum pribumi, khususnya wong cilik. Padahal saat itu pemerintah kolonial Belanda melarangnya. Saya sendiri tidak ketemu sama beliau,” tutur Asep.

Cerita lain datang dari Maman (86) atau yang akrab disapa Abah Uci. Pria senja yang kini masih aktif bekerja sebagai penarik ojek pangkalan di kawasan Pintu Malabar ini merupakan alumnus yang merasakan atmosfer sekolah tersebut pasca-kemerdekaan RI.

Di zamannya, masyarakat setempat lebih mengenal Vervoloog Malabar dengan sebutan Sekolah Rakyat (SR) Ciemas.

“Tahun 1958 abah sudah lulus dari SR Ciemas. Sekolah ini dulu dibangun oleh Bosscha. Kondisinya dulu mah bagus, terawat. Sekarang bangunan panggungnya terlihat kusam, sayang belum ada bantuan pemugaran apa pun dari pemerintah,” ungkap Abah Uci.

Pada masanya, SR Ciemas merupakan satu-satunya sentral pendidikan di Pangalengan, sehingga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai pelosok wilayah tersebut untuk menuntut ilmu.

Menariknya, pendidikan di sekolah ini telah mengalir di nadi keluarganya selama tiga generasi.

“Zaman abah masuk SR mah kan kita sudah merdeka. Tetapi orang tua hingga kakek abah dulu juga sekolahnya di sana. Setelah lulus, orang tua abah bekerja di rumah pegawai perkebunan yang orang Belanda,” lanjutnya.

Berdasarkan catatan silsilah kerja perkebunan, Abah Uci mengenyam pendidikan di SR Malabar di bawah era kepemimpinan Administratur Van Deer Meer (1945-1948) hingga era Administratur Brewer (1955-1958). Meski tidak mengingat pasti nama pimpinan perkebunan di masa lampau, ditarik dari lini masa sejarah, kakeknya disinyalir bersekolah di masa keemasan KAR Bosscha (1896-1928).

Sementara ayahnya menapaki bangku sekolah di era Administratur R.A. Kerkhoven (1928-1934) atau Ermeling (1934-1942).

Pada awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki empat ruang belajar bersahaja berukuran 5 x 6 meter.

Arsitekturnya menyimpan nilai filosofis tinggi; berdinding bilik bambu dengan lantai kayu jati yang kokoh menopang langkah kaki anak-anak perkebunan.

Di atas lantai kayu itulah, para murid zaman dulu belajar menggelar tikar dan menulis menggunakan sabak serta gerip.

Berkat kedisiplinan para pengajarnya, lulusan sekolah ini tidak hanya terserap menjadi tenaga kerja terampil di Perkebunan Malabar, tetapi banyak pula yang sukses di luar.

Generasi itu berhasil memutus rantai kemiskinan dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Kota Bandung.

Transformasi identitas sekolah ini mencerminkan dinamika perjalanan sejarah bangsa. Berawal dari Vervoloog Malabar, sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Rendah pasca-kemerdekaan, lalu Sekolah Rakyat (SR), hingga akhirnya kini berstatus Sekolah Dasar Negeri (SDN).

Pihak manajemen perkebunan sempat menambah tiga ruang permanen untuk kantor dan kelas lanjutan pada tahun 1955 demi mengakomodasi lonjakan murid. Kendati seiring berdirinya SDN Malabar 4 pada tahun 1982 membuat dominasi sekolah panggung ini perlahan surut.

“Namun, PTPN I memastikan komitmennya agar warisan literasi purba di tanah Priangan ini tetap terjaga dan tidak padam ditelan zaman,” tutup Teddy. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

16 Agustus 2026 - 18:25 WIB

Puluhan Relawan Airnav Indonesia, Taspen, dan Jasindo Mengabdi di Boyolali

16 Agustus 2026 - 15:57 WIB

Hendak Kirim Bantuan bagi Korban Gempa NTT dengan Kapal? PELNI Bebaskan Biaya Kirim

16 Agustus 2026 - 13:51 WIB

Beli Pertalite Harga Pertamax

16 Agustus 2026 - 00:12 WIB

Maknai Momen Kemerdekaan, InJourney Airports Tanam 81.000 Mangrove

15 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Camat Caringin Garut Sampaikan 2 Pesan Penting HUT Pramuka Ke 65 Di Bumper Biru

15 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Toko Mandiri Indogrosir Bidik UMKM Lokal

15 Agustus 2026 - 07:55 WIB

PTP Nonpetikemas Edukasi Perkuat Budaya Safety Driving di Terminal Kijing

15 Agustus 2026 - 07:34 WIB

IPC TPK Salurkan 4 Gerobak Sampah, Perkuat Kepedulian Lingkungan di Palembang

15 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Trending di RAGAM