Menu

Mode Gelap
ASDP Raih Penghargaan Top CSR 2026 Berkat Program Mudik Ramah Anak INACA Apresiasi Penyesuaian Fuel Surcharge dari Pemerintah Kemenhub Sesuaikan Fuel Surcharge Angkutan Udara Pendampingan Intensif PNM Dorong Kemandirian Ibu-Ibu Pelaku Usaha Mikro SBY Cup 2026 Memberi Pesan Voli Indonesia Siap Naik Kelas KAI: Ketertiban di Stasiun dan Perlintasan jadi Kesan Positif bagi Wisatawan Asing

RAGAM

Mengintip Keraton Pakuan Pajajaran Melalui Visual Mahkota Binokasih: Sebuah Catatan Spekulatif tentang Jejak Visual Kejayaan Sunda

badge-check


 Mengintip Keraton Pakuan Pajajaran Melalui Visual Mahkota Binokasih: Sebuah Catatan Spekulatif tentang Jejak Visual Kejayaan Sunda Perbesar

Oleh: Bung Barnaz

Wartatrans.com, BOGOR — Kirab budaya “Napak Tilas Pajajaran” yang membawa Mahkota Binokasih kembali ke Bogor pada Jumat, 8 Mei 2026, bukan sekadar seremoni budaya. Ia menjadi momentum emosional yang membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Sunda terhadap kejayaan Keraton Pakuan Pajajaran.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, “ieu teh munggaran, makuta Binokasih mulih ka jatina mulang ka asalna”—inilah kali pertama Mahkota Binokasih kembali pada kesejatian asalnya. Kalimat itu terasa lebih dari sekadar sambutan formal. Ada getaran primordial tentang kerinduan terhadap akar budaya Sunda yang lama tercerabut dari ruang sejarah modern.

Pertemuan Mahkota Binokasih dengan prasasti Batutulis di Bogor seperti mempertemukan dua saudara yang terpisah selama lebih dari empat abad. Mahkota itu dahulu “diungsikan” ke Sumedang ketika Pakuan Pajajaran runtuh pada 1578. Dalam kirab budaya tersebut, suasana haru tampak menyelimuti banyak orang. Air mata menetes, seakan sejarah yang lama hilang tiba-tiba menemukan jalannya pulang.

Namun di balik romantisme sejarah itu, muncul pertanyaan menarik: benarkah bentuk Mahkota Binokasih yang kita lihat hari ini memang sama seperti mahkota raja Sunda abad ke-16?

Mahkota yang Terlalu Sempurna?

Pertanyaan tersebut lahir dari pengamatan visual. Mahkota Binokasih tampak sangat rapi, presisi, dan nyaris tanpa cacat, padahal benda itu diyakini telah berusia sekitar empat abad.

Jika benar mahkota itu pernah dibawa melintasi hutan dan jalan setapak dari Bogor menuju Sumedang dalam situasi perang dan kekacauan, mestinya terdapat bekas benturan atau penyok kecil pada bagian-bagian runcingnya. Terlebih jika mahkota tersebut memang terbuat dari emas yang secara karakter lebih lentur dibanding banyak logam lain.

Secara teknik pengerjaan pun, detail ornamentasinya tampak begitu halus. Keratan logam, ukiran, hingga bentuk simetrisnya menimbulkan pertanyaan: apakah teknologi kriya logam di Pajajaran memang sudah sedemikian maju? Ataukah mahkota yang ada sekarang merupakan hasil rekonstruksi atau pembaruan visual pada masa berikutnya?

Pertanyaan ini bukan bentuk keraguan terhadap sejarah, melainkan upaya membaca artefak dari sudut pandang visual dan artistik.

Jejak Wayang dalam Mahkota Pajajaran

Secara visual, bentuk Mahkota Binokasih memiliki kemiripan kuat dengan mahkota tokoh wayang jenis praba atau praban, seperti yang dikenakan tokoh Rama Wijaya, Kresna, atau Baladewa.

Jika mahkotanya demikian megah dan ornamentatif, muncul pertanyaan lanjutan: seperti apa busana raja Pajajaran ketika itu? Tidak mungkin mahkota dengan detail rumit dikenakan bersama pakaian sederhana tanpa ornamen pendukung. Secara logis, kemewahan visual itu tentu hadir pula pada busana kerajaan, singgasana, hingga elemen arsitektur keraton.

Atau justru sebaliknya? Bisa jadi raja Sunda kala itu berpakaian lebih sederhana seperti para tetua adat kasepuhan Sunda yang hanya mengenakan iket dan pangsi berbahan berkualitas tinggi.

Semua ini memang masih berada dalam wilayah spekulasi visual, sebab belum ditemukan rujukan gambar otentik tentang bagaimana rupa raja Pajajaran beserta kelengkapan busananya.

Catatan Tome Pires tentang Pakuan Pajajaran

Gambaran tentang kejayaan visual Pajajaran sebenarnya dapat ditelusuri melalui catatan penjelajah Portugis, Tome Pires, yang datang ke Sunda sekitar tahun 1512–1515 pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja.

Dalam bukunya Suma Oriental, ia menggambarkan negeri Sunda sebagai kerajaan yang makmur dan tertata. Ia menulis bahwa istana raja memiliki 330 tiang kayu setinggi sekitar tujuh meter dengan ukiran indah pada berbagai bagian bangunan.

Deskripsi ini penting, sebab menunjukkan bahwa tradisi ornamentasi dan seni ukir di Pajajaran sudah berkembang tinggi pada awal abad ke-16. Artinya, kemungkinan adanya mahkota dengan detail artistik rumit bukan sesuatu yang mustahil.

Tome Pires juga mencatat bahwa Sunda memiliki emas berkualitas tinggi, yang mungkin menjadi bahan dasar pembuatan Mahkota Binokasih.

Gambaran Istana dalam Naskah Bujangga Manik

Jejak visual lain datang dari naskah Bujangga Manik, catatan perjalanan seorang bangsawan Pajajaran yang melakukan pengembaraan hingga Jawa dan Bali.

Dalam naskah itu digambarkan keberadaan rumah tamu kerajaan yang dihias indah, dengan balok kayu berwarna merah tua, tiang yang diberi prada, serta berbagai jenis tirai mewah berbahan kain sutra dan tekstil berkualitas tinggi.

Yang menarik, dalam salah satu bagian disebut adanya “sabuk wayang” atau ikat pinggang bergambar wayang. Ini menunjukkan bahwa budaya visual wayang sudah dikenal di lingkungan Pajajaran saat itu. Maka sangat mungkin bentuk ornamentasi Mahkota Binokasih juga mendapat pengaruh estetika wayang Hindu-Jawa.

Antara Sejarah dan Imajinasi

Hingga hari ini, visual Keraton Pakuan Pajajaran masih menjadi ruang kosong dalam sejarah Indonesia. Tidak ada foto, tidak ada lukisan sezaman, dan hampir tidak ada artefak utuh selain beberapa peninggalan simbolik seperti Mahkota Binokasih dan Prasasti Batutulis.

Karena itu, setiap upaya membayangkan wajah Pajajaran sering kali bergerak di antara sejarah dan imajinasi.

Jika Mahkota Binokasih memang asli dari era Pajajaran, maka dapat diasumsikan bahwa kerajaan Sunda kala itu memiliki tradisi visual dan ornamentasi yang sangat kaya. Namun semua jejak itu kini hilang—mungkin karena bahan bangunan yang mudah rusak, penjarahan, peperangan, atau sengaja disembunyikan demi menyelamatkan warisan kerajaan.

Pada akhirnya, Mahkota Binokasih bukan hanya benda pusaka. Ia adalah pintu imajinasi untuk membayangkan kembali bagaimana rupa kejayaan Sunda yang selama ini hanya hidup dalam naskah, mitos, dan ingatan kolektif masyarakatnya.***

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

MAA Jakarta Surati Menag soal Penggunaan Atribut Adat Aceh dalam Ucapan Keagamaan

14 Mei 2026 - 11:11 WIB

Catatan H. Erick Teguh M: Sarapan Pagi di Capitol Kopitiam, Kuala Lumpur

14 Mei 2026 - 10:39 WIB

BKI Pertahankan Kategori “High Performance” Pada Tokyo MoU 2025

13 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kunjungan Mahasiswa UI ke IPC TPK, Sinkronisasi Teori Akademik dan Realita Industri Pelabuhan

13 Mei 2026 - 20:35 WIB

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Pelindo, Dukung Penguatan Tata Kelola Pelabuhan Nasional

13 Mei 2026 - 19:41 WIB

Terminal Teluk Lamong Perkuat Kompetensi Pekerja dalam Pertolongan Pertama Kecelakaan

13 Mei 2026 - 18:51 WIB

PT Pelindo Solusi Maritim Modernisasi Crane Pelabuhan dengan Pembaruan Sistem Komputerisasi

13 Mei 2026 - 18:30 WIB

Dana Reboisasi Dinilai Perlu Masuk Skema Dana Desa untuk Penghijauan Hutan

13 Mei 2026 - 14:37 WIB

PNM Kembangkan Klaster Pala di Ngada untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

13 Mei 2026 - 14:26 WIB

Sambut Long Weekend, DAMRI Siapkan Lebih dari 50 Ribu Kursi AKAP dan Beragam Kemudahan Pemesanan Tiket

13 Mei 2026 - 14:05 WIB

Trending di JALUR