Menu ✖

Mode Gelap
IKN Diselimuti Kabut Asap, Istana Garuda Nyaris Tak Terlihat Hingga September 2026, Jasa Raharja Salurkan Santunan Korban Kecelakaan Rp2,19 Triliun INACA Beri Penghargaan 5 Bandara Momentum HUT Ke-56, INACA Ajak Semua Stakeholder Perkuat Industri Penerbangan KAI Services Perluas Pasar Kuliner Kereta Lewat Pameran Pangan Nusa 2026 Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

EKOBIS

Momentum HUT Ke-56, INACA Ajak Semua Stakeholder Perkuat Industri Penerbangan

badge-check


 Ketum INACA Perbesar

Ketum INACA

Wartatrans.com, TANGERANG – Momentum syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 INACA digelar di Cengkareng Heliport (CHP) Toos Sanitioso, Cengkareng, Tangerang, Kamis (15/10/2026).

INACA sebagai satu-satunya asosiasi maskapai penerbangan Indonesia telah menemani perjalanan maskapai penerbangan nasional  yang panjang, penuh lika-liku dan naik turun.

“INACA mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada semua stakeholder yang telah turut serta membangun maskapai penerbangan nasional hingga sampai pada tahap sekarang,” tutur Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja.

Pihaknya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap stakeholder.

Terutama kepada pemerintahan Presiden Prabowo beserta kementerian dan lembaga yang telah memberikan dukungan dan arahan pada maskapai penerbangan nasional sehingga menjadi lebih baik.

Terima kasih juga kepada operator penerbangan, baik itu teman-teman di seluruh maskapai penerbangan, pengelola bandara, Airnav, groundhandling, Pertamina, Jasa Raharja dan lainnya.

Tak lupa, INACA juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada stakeholder dari luar negeri seperti pabrikan pesawat Boeing, Embraer, Airbus, penyedia sistem maskapai penerbangan dan institusi lainnya.

Selain itu juga terima kasih kepada asosiasi-asosiasi terkait yang telah memberikan dukungan selama ini.

“Selanjutnya, kami juga mengajak semua stakeholder untuk ke depannya lebih menguatkan dan mengembangkan maskapai penerbangan nasional,” katanya.

Seperti diketahui, pascapandemi Covid-19 hinhga saat ini, maskapai penerbangan global dan nasional terus menerus mengalami tantangan.

Tantangan terbesar tentu dari faktor eksternal penerbangan seperti krisis geopolitik di berbagai belahan dunia seperti di Rusia-Ukraina serta di Timur Tengah, yang memengaruhi industri penerbangan dari berbagai hal.

Seperti harga avtur yang naik tinggi, pasokan sparepart yang terkendala, adanya beberapa rute yang ditutup dan berbahaya untuk diterbangi seperti di Timur Tengah, serta kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah.

Namun demikian sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar, maskapai penerbangan Indonesia diyakini akan mampu menghadapi semua tantangan tersebut.

“Kita tidak tahu perkembangan geopolitik global akan seperti apa. Namun kita tidak boleh berhenti karena transportasi udara bagi Indonesia yang wilayahnya berbentuk kepulauan sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan perikehidupan masyarakat. Untuk itu kami mengajak segenap stakeholder untuk menguatkan dan mengembangkan industri penerbangan nasional, sehingga membuat maskapai penerbangan juga menjadi kuat, berdaya saing tinggi dan memberikan manfaat kepada masyarakat melalui konektivitas transportasi udara,” paparnya.

Mengingat kondisi geografis wilayah Indonesia yang merupakan kepulauan, maka konektivitas transportasi udara menjadi sangat penting.

Maskapai penerbangan, baik itu untuk penerbangan berjadwal, tidak berjadwal dan penerbangan kargo mempunyai peranan yang sangat penting.

Maskapai penerbangan menurutnya, berperan dalam melancarkan lalu lintas orang di dalam pulau dan antar pulau. Maskapai penerbangan juga mendukung pengembangan industri lain seperti industri pertambangan, perikanan, perkebunan dan juga dapat mengatasi kemacetan lalu lintas perkotaan dengan advance air mobility (AAM) serta membantu kesehatan masyarakat dengan ambulance terbang.

“Selain itu maskapai penerbangan juga berperan mengembangkan industri e-commerce dengan pengangkutan kargo dengan cepat dan aman,” ujar dia.

INACA juga mengajak stakeholder lain untuk lebih berperan mengembangkan industri penerbangan dengan mengikuti perkembangan global.

Seperti penyediaan energi alternatif untuk mendukung penerbangan hijau (net zero emmision) tahun 2060, yaitu dengan penyediaan sustainable aviation fuel (SAF) serta energi listrik tanpa bahan fosil untuk pesawat.

“Kita memiliki sumber daya yang melimpah untuk pembuatan SAF dan energi listrik yang minim emisi seperti dari angin, sinar matahari, gas bumi dan lainnya. Kita juga mempunyai sumber daya manusia yang berlimpah dan berkualitas tinggi yang mampu mengembangkan industri penerbangan nasional. Kami yakin dengan orkestrasi dari pemerintah, industri penerbangan dan maskapai penerbangan akan mampu menghadapi tantangan dan menjadi lebih tangguh untuk ke depannya,” pungkas Denon. (omy)

 

Baca Lainnya

Hingga September 2026, Jasa Raharja Salurkan Santunan Korban Kecelakaan Rp2,19 Triliun

15 Oktober 2026 - 21:20 WIB

INACA Beri Penghargaan 5 Bandara

15 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KAI Services Perluas Pasar Kuliner Kereta Lewat Pameran Pangan Nusa 2026

15 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Sikapi Eskalasi Geopolitik Timteng, Garuda Perkuat Mitigasi Operasional

15 Oktober 2026 - 15:31 WIB

1.300 Penari Siap Terangi Malam Banyuwangi, Tampil Glow in the Dark!

15 Oktober 2026 - 15:08 WIB

myJasfren Jasa Raharja Hadirkan Fitur Jaminanku, Akses Layanan jadi Makin Mudah

15 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Perluas Pasar Ekspor-Impor, IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

14 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Pelindo Kembali Layani Pemindahan Muatan Antarkapal di Nipa Kepri

14 Oktober 2026 - 16:54 WIB

KAMAKSI Mendorong Transformasi Perumda Pasar Jaya dan Penguatan Ketahanan Pangan Propinsi DKI Jakarta

14 Oktober 2026 - 15:26 WIB

Gajah Tunggal Berencana Investasi Rp 10 Triliun Bangun Pabrik Ban EV

14 Oktober 2026 - 14:38 WIB

Trending di EKOBIS