Menu

Mode Gelap
KKP Proyeksikan Tambak Udang Terintegrasi Sumba Timur Hasilkan Rp4 Triliun per Tahun EAZI Percepat Layanan Logistik Nasional, Terminal Teluk Lamong Sabet Radar Surabaya Awards 2026 Sertifikat Laik Fungsi Jembatan Musi V Terbit, Tol Palembang–Betung Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026 Salman Yoga Akan Baca Puisi Bahasa Gayo pada Peluncuran Antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” di TIM Jakarta Salman Yoga S, Penyair Gayo yang Membawa Bahasa Ibu ke Panggung Sastra Nusantara Pemerhati Sosial Politik Ingatkan UUPA Jangan Jadi Karpet Merah bagi Pemodal Tambang Di Aceh

SENI BUDAYA

Nanda Winar Sagita Wakili Aceh di Balige Writers Festival 2026, Angkat Kisah Sisingamangaraja XII dan Aceh

badge-check


 Nanda Winar Sagita Wakili Aceh di Balige Writers Festival 2026, Angkat Kisah Sisingamangaraja XII dan Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BALIGE — Penulis asal Aceh, Nanda Winar Sagita, menjadi satu-satunya penulis yang mewakili Aceh dalam program Emerging Writers Balige Writers Festival (BWF) 2026 di Toba Art Space, Balige, Sumatera Utara.

Festival sastra yang memasuki penyelenggaraan keempat tersebut berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Membaca Sumatra” dan subtema “Marsirimpa”, istilah Batak yang bermakna gotong royong.

BWF 2026 menghadirkan lebih dari 20 program dengan melibatkan sekitar 40 penulis nasional dan lokal. Rangkaian kegiatan meliputi diskusi sastra, peluncuran buku, kelas kreatif, pembacaan karya, bazar buku, pameran seni rupa, hingga kegiatan yang terbuka bagi masyarakat.

Dalam festival tersebut, Nanda membawa cerpen berjudul “Tidak Ada Tuhan Hari Ini”. Karya tersebut mengambil latar sejarah Batak, khususnya kisah hari-hari terakhir perjuangan Sisingamangaraja XII, sekaligus mengangkat persinggungan sejarah perjuangan Tanah Batak dengan Aceh dalam menghadapi kolonialisme Belanda.

Cerita Nanda bertolak dari hubungan historis antara perjuangan Sisingamangaraja dan perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda.

Sejumlah catatan sejarah yang ditampilkan pada salah satu panel kawasan wisata terkait Sisingamangaraja menyebutkan, hubungan tersebut telah terjalin sejak masa Sisingamangaraja XI. Pada 1871, Sisingamangaraja XI disebut bertemu dengan sejumlah ulebalang Aceh untuk membicarakan dasar perjanjian pertahanan antara Aceh dan Tanah Batak.

Ia juga disebut mengunjungi Raja Rondahaim Saragih di Pematang Raya, Simalungun, untuk membicarakan kerja sama pertahanan menghadapi Belanda.

Hubungan tersebut kemudian berlanjut pada masa Sisingamangaraja XII. Pada 1887, ketika sejumlah kampung dan rumah penduduk diduduki Belanda, disebut datang pasukan bantuan dari Aceh. Pada tahun yang sama, pasukan Sisingamangaraja XII melakukan serangan terhadap sejumlah posisi Belanda, antara lain di Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangaronsong, Huta Paung, Parsingguran, dan Pollung.

Keterkaitan perjuangan Tanah Batak dan Aceh juga disebut semakin kuat melalui hubungan dengan perjuangan Teuku Umar. Pada 1896, ketika pasukan Teuku Umar melancarkan serangan besar terhadap Belanda di Aceh, Sisingamangaraja disebut mengirim Teuku Raden ke Habinsaran dan melakukan serangan terhadap pasukan Belanda di Meranti.

Kabar gugurnya Teuku Umar pada 1899 juga disebut turut memengaruhi Sisingamangaraja dan semangat perjuangan di Tanah Batak.

Latar sejarah tersebut kemudian menjadi pijakan Nanda dalam menulis Tidak Ada Tuhan Hari Ini. Meski berlatar Tanah Batak, Nanda tetap memasukkan identitas kulturalnya sebagai orang Aceh dan Gayo.

“Meskipun cerpennya berlatar Batak, identitas saya sebagai orang Aceh dan Gayo tetap saya selipkan ke dalam cerita itu. Karena memang hubungan Batak dan Gayo pada khususnya sudah erat sejak lama,” ujar Nanda.

Menurut Nanda, keterlibatannya dalam BWF 2026 menjadi kesempatan penting untuk mengembangkan kemampuan kepenulisan sekaligus memperluas perspektif melalui pertemuan dengan penulis dari berbagai daerah.

“Semoga kehadiran saya di Balige Writers Festival ini bisa mengembangkan kemampuan menulis saya,” katanya.

Keikutsertaan Nanda di BWF 2026 juga melanjutkan kiprahnya dalam forum sastra nasional dan internasional. Pada 2025, ia sebelumnya terpilih sebagai Emerging Writer dalam Ubud Writers & Readers Festival di Bali.

Melalui Tidak Ada Tuhan Hari Ini, Nanda tidak sekadar menghadirkan kisah sejarah dari Sumatera Utara. Ia mencoba mempertemukan dua ruang ingatan geografis dan kultural, yakni Batak dan Aceh-Gayo.

Baginya, sejarah perlawanan terhadap kolonialisme memperlihatkan bahwa batas-batas wilayah tidak selalu menjadi batas bagi hubungan antarmasyarakat.

Kehadiran Nanda dalam BWF 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya membaca Sumatra sebagaimana tema festival: bukan semata sebagai kumpulan wilayah yang terpisah, melainkan sebagai ruang yang sejak lama terhubung melalui sejarah, perjuangan, mobilitas masyarakat, dan kebudayaan.

Dalam semangat “Marsirimpa”, sastra menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan dan pengalaman berbagai masyarakat di Sumatra—termasuk hubungan historis Aceh, Gayo, dan Tanah Batak.*** (Jasa)

Baca Lainnya

Salman Yoga Akan Baca Puisi Bahasa Gayo pada Peluncuran Antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” di TIM Jakarta

2 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Salman Yoga S, Penyair Gayo yang Membawa Bahasa Ibu ke Panggung Sastra Nusantara

2 Agustus 2026 - 20:43 WIB

Bincang Santai Sastra Puisi: Dari Kata-Kata Merawat Kebudayaan dan Kebangsaan

2 Agustus 2026 - 14:04 WIB

SPEARS Band Tampil Memukau, Sound Of Campus Bekasi Jadi Ruang Ekspresi Musisi Muda

1 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Ireng Halimun dan Perjalanan Panjang Seni Lukis

1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Memorial Nasirun: Ketika Sang Maestro Pergi, Karyanya Tetap Abadi

1 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Hilangnya Mapel Sastra di Sekolah Jadi Sorotan, Pelaku Sastra Dorong Penguatan Ekosistem Sastra

31 Juli 2026 - 19:31 WIB

Indra Adhari Rilis “Rindu Seorang Ayah”, Single ke-7 dalam Konsep One Month One Song

31 Juli 2026 - 13:16 WIB

Perkembangan Seni Rupa Aceh Butuh Kolaborasi Semua Pihak, Seniman Besar Lahir dari Perjuangan panjang 

31 Juli 2026 - 02:33 WIB

Para Penyair Mancanegara Bergema di Hari Puisi Indonesia ke-14

29 Juli 2026 - 14:00 WIB

Trending di SENI BUDAYA