Wartatrans.com, JAKARTA – Pengembangan kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, memasuki tahap kemitraan setelah Perumda Pasar Jaya dan PT Ratu Karya menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Kamis (17/9/2026).
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengembangkan kawasan dengan konsep Transit-Oriented Development (TOD).

Direktur Utama PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) Eric Kusuma mengatakan, pengembangan kembali kawasan tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hampir Rp1 triliun.
“Sebagai Pasar Modern, Pasar Minggu selain Kios dan Los Pasar UMKM juga akan dilengkapi Rumah Susun, Rumah Sakit, Perkantoran, Pusat Perbelanjaan, Food Court, dan fasilitas lainnya,” ujar Eric.
Proyek tersebut sebelumnya telah diposisikan sebagai peluang investasi.
Profil Jakarta Investment Centre (JIC) mencatat Pasar Minggu Development berada di lahan 16.594 meter persegi, berdampingan dengan Stasiun Pasar Minggu dan terminal bus.
Proyek dirancang sebagai pengembangan campuran yang mencakup pasar modern, 900 unit serviced apartment, ruang ritel, kantor bersama, serta fasilitas publik, dengan nilai investasi Rp696,50 miliar dan target mulai 2027.
Skema yang ditawarkan adalah Joint Operation. Pemilik menyediakan nilai tanah, sedangkan investor menanggung biaya pembangunan. JIC juga mencatat terdapat 1.755 unit pedagang eksisting dalam proyek tersebut.
Arah revitalisasi telah muncul sebelum MoU September. Pada Senin (27/7/2026), Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menyatakan, kondisi Pasar Minggu sudah mendesak untuk direvitalisasi.
“Kita tidak hanya melihat dari sisi PD Pasar Jaya atau lokasi binaan UMKM secara terpisah, tetapi secara keseluruhan harus diintegrasikan supaya aktivitas pedagang dan pembeli lebih mudah,” kata Syafrin.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan sebelumnya memaparkan roadmap 2025-2029. Dalam forum Bappeda DKI Jakarta, menempatkan integrasi hunian dan transportasi atau TOD pada 2027, setelah fase inovasi hijau dan efisiensi operasional pada 2026.
Masuknya Ratu Karya pada September menjadi perkembangan lanjutan dari proyek yang sebelumnya telah diposisikan sebagai peluang investasi.
MoU tersebut belum dapat disamakan dengan realisasi investasi atau komitmen pendanaan penuh sebesar nilai proyek JIC.
Dalam konteks korporasi, BIKE pada Rabu (19/8/2026) menyebut Ratu Karya masih termasuk calon entitas anak yang rencana akuisisinya berada pada tahap finalisasi perencanaan strategis dan evaluasi internal.
Perbedaan nilai investasi JIC sebesar Rp696,50 miliar dengan estimasi hampir Rp1 triliun yang disampaikan Eric menunjukkan adanya perbedaan angka yang perlu dibaca berdasarkan cakupan proyek dan tahapan investasinya. (Artha Tidar)































