Wartatrans.com, JAKARTA – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memperkuat komitmen pelestarian ekosistem laut melalui program rehabilitasi terumbu karang.
Kali ini di perairan sekitar Pulau Hanita, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Program yang dilaksanakan bersama CECT Sustainability Trisakti dan Yayasan Peduli Indonesia pada periode 2024–2026 ini menjadi bagian dari upaya Perusahaan mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut.
Direktur Hubungan Kelembagaan, Hendri Ginting mengatakan, pelestarian ekosistem laut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Khususnya di wilayah pesisir yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” ucap Ginting, Jumat (12/6/2026).
“Pelindo memandang laut bukan hanya sebagai ruang konektivitas, tetapi juga sebagai ekosistem yang perlu dijaga keberlanjutannya. Melalui program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Hanita, kami ingin berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut sekaligus memperkuat peran masyarakat pesisir dalam upaya pelestarian yang berkelanjutan.”
Program rehabilitasi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada periode 2024–2025 menggunakan 25 unit substrat melalui transplantasi sebanyak 3.250 fragmen karang pada area rehabilitasi seluas 4.500 meter persegi.
Selanjutnya, kata dia, tahap kedua dilaksanakan pada periode 2025–2026 dengan 25 unit substrat tambahan, jumlah fragmen, dan luasan rehabilitasi yang sama.
Dengan demikian, total program rehabilitasi mencakup 50 unit substrat, 6.500 fragmen karang, dan area rehabilitasi seluas 9.000 meter persegi.
“Pelaksanaan program ini diharapkan dapat mendukung pemulihan habitat bawah laut serta memberikan manfaat ekologis jangka panjang bagi kawasan pesisir dan laut di sekitar Pulau Hanita,” ujarnya.
Selain berfokus pada pemulihan ekosistem bawah laut, program ini juga melibatkan masyarakat pesisir dalam kegiatan transplantasi dan pemeliharaan terumbu karang secara berkala.
Sebanyak 10 warga dari Desa Seraya Marannu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, turut terlibat dalam program tersebut, terdiri atas lima nelayan lokal dan lima perempuan setempat.
Hendri menambahkan, pelibatan masyarakat menjadi aspek penting agar program rehabilitasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman karang, tetapi juga membangun kepedulian bersama terhadap keberlanjutan lingkungan laut.
“Keberhasilan program lingkungan sangat bergantung pada kolaborasi dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, Pelindo mendorong pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga pada peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat pesisir dalam menjaga laut sebagai sumber kehidupan,” urainya.
Seiring berjalannya program, kondisi ekosistem bawah laut di area rehabilitasi mulai menunjukkan perkembangan positif. Terumbu karang yang ditransplantasikan tumbuh dengan baik, sementara berbagai jenis ikan dan biota laut mulai kembali terlihat di sekitar area rehabilitasi.
Berdasarkan hasil monitoring, tingkat keberhasilan hidup atau survival rate terumbu karang dalam program ini mencapai 98,69 persen.
Rehabilitasi ini juga diestimasi berkontribusi terhadap peningkatan serapan karbon hingga ±2.250 kg CO₂ per tahun.
Kepala Desa Seraya Marannu, Kabupaten Manggarai Barat, Sutirman, menyampaikan dukungannya terhadap program rehabilitasi terumbu karang di wilayah perairan desanya.
Menurutnya, program tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya warga yang bekerja di sektor perikanan.
“Program pelestarian terumbu karang ini selain menjaga kelestarian laut dalam jangka panjang, juga sangat berdampak positif bagi perekonomian masyarakat, khususnya warga kami yang bekerja di sektor perikanan,” kata Sutirman. (omy)































