Menu ✖

Mode Gelap
Pembiayaan Elektrifikasi Transjakarta Rp5,07 Triliun KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan KSOP Muara Angke Kampanye Pemeriksaan Kapal Terkonsentrasi

PERISTIWA

Pemerintah Tolak Bantuan Internasional, Penanganan Banjir Sumatra Dinilai Berisiko Lamban

badge-check


 Pemerintah Tolak Bantuan Internasional, Penanganan Banjir Sumatra Dinilai Berisiko Lamban Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sikap pemerintah Indonesia yang menolak bantuan internasional dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatra menuai kritik dari sejumlah pihak. Keputusan ini dinilai berpotensi memperlambat proses rekonstruksi dan rehabilitasi di wilayah terdampak, yang saat ini berada dalam kondisi darurat.

Hingga kini, tujuh bupati di Aceh telah menyatakan tidak mampu menangani bencana secara mandiri karena keterbatasan sumber daya serta luasnya wilayah yang rusak. Dampak banjir dan longsor yang melanda sejak akhir November itu mengakibatkan ribuan rumah rusak, puluhan desa terisolasi, dan infrastruktur utama lumpuh.

Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, menilai penolakan terhadap bantuan asing sebagai langkah yang tidak realistis di tengah tingginya kebutuhan warga.

“Keputusan menolak bantuan asing itu seperti mengabaikan masalah atau menyangkal kenyataan. Pemulihan hidup warga pascabencana membutuhkan sumber daya yang sangat besar,” ujarnya.

Avianto mengingatkan, jika bantuan—baik logistik, medis, maupun rekonstruksi—terlambat tiba, maka pemulihan akan berjalan semakin lambat. Situasi ini dapat berujung pada meningkatnya risiko kesehatan masyarakat, terutama penyakit bawaan banjir seperti diare, infeksi kulit, hingga penyakit pernapasan.

“Belum lagi warga yang membutuhkan obat rutin seperti pasien diabetes, TBC, hipertensi, atau HIV. Jika pasokan obat mereka terputus, kondisinya akan jauh lebih rentan,” kata Avianto.

Mantan Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh–Nias, Teuku Kamaruzzaman, memperkirakan proses pemulihan total wilayah terdampak bisa memakan waktu 20 hingga 30 tahun bila hanya mengandalkan kemampuan pemerintah.

Ia juga menilai bencana ini dapat memperdalam tingkat kemiskinan di Aceh yang sebelumnya sudah berada di atas rata-rata nasional.

“Bencana sebesar ini membutuhkan respon cepat. Tapi sense of crisis dari pemerintah tampaknya sangat kurang,” kata Kamaruzzaman.

Di lapangan, banyak warga yang kehilangan rumah dan harta benda mengaku tidak lagi sanggup bertahan. Salah satunya Fitriana, warga Aceh Tamiang, yang desanya hilang tersapu banjir.

“Stresnya luar biasa, depresi rasanya. Ini banjir terberat yang pernah kami alami,” tutur Fitriana yang ditemui dengan tubuh penuh lumpur.

Ia berharap pemerintah segera memberi kejelasan mengenai masa depan warga terdampak.

“Kami mohon bantuan. Sebagai rakyat yang kehilangan rumah, apa solusi untuk kami?” ujarnya lirih.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengatasi bencana tanpa bantuan internasional. Meski banyak tawaran datang dari berbagai negara, pemerintah disebut tetap memilih menangani krisis ini secara mandiri.

“Bencana ini musibah, tapi sekaligus menguji kita. Alhamdulillah, kita kuat. Kita mengatasi masalah dengan kekuatan kita sendiri,” kata Prabowo dalam peringatan HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12).

Berbagai organisasi kemanusiaan serta pemerhati kebencanaan mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap keputusan menolak bantuan asing. Mereka menilai keselamatan warga dan percepatan pemulihan harus menjadi prioritas utama, bukan pertimbangan politik.

Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi, pendistribusian logistik, serta penilaian kerusakan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah strategis untuk mencegah bertambahnya korban dan mempercepat pemulihan jangka panjang.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam

12 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

CELIOS Merilis Menteri Terburuk dan Terbaik 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Siapa Saja?

12 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

​Karmila, Demisioner Presma Universitas Bumi Persada, Suarakan Aspirasi Pascabencana Aceh di Ajang Nasional Future Leaders Summit 2026

12 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Karhutla Tembus 10 Hektare di Bagendang, Kalteng

12 Oktober 2026 - 05:09 WIB

Trending di NASIONAL