Wartatrans.com, JAKARTA – Primbon Jawa selama ini kerap dipahami sebagai bagian dari tradisi ramalan dan pengetahuan mistis. Namun, melalui pameran seni interaktif PORONEPTU, perupa Sri Hardana mencoba menghadirkan cara pandang berbeda dengan menempatkan Primbon Jawa sebagai pengetahuan lokal sekaligus ruang refleksi bagi manusia masa kini.
Pameran bertajuk “Menafsir Ulang Primbon Jawa dalam Seni Instalasi Pop Surealisme” tersebut akan berlangsung pada 7–11 Agustus 2026 di Balai Budaya Jakarta, Jalan Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Pameran dibuka pada Jumat, 7 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB dan dapat dikunjungi setiap hari selama periode pameran, mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.
Melalui PORONEPTU, Sri Hardana mengolah berbagai simbol yang berkaitan dengan estetika Jawa, angka neptu, serta fragmen visual candi ke dalam sebuah pengalaman seni yang bersifat spiritual sekaligus imajinatif.
Material kertas daur ulang menjadi salah satu medium utama yang digunakan, kemudian diolah dengan teknik digital print dan disusun dalam konfigurasi puzzle. Pendekatan tersebut dipadukan dengan ornamentasi surealistik untuk menciptakan ruang visual yang tidak hanya menarik secara estetis, tetapi juga membuka kemungkinan tafsir bagi pengunjung.
Kurator pameran, Citra Smara Dewi, menghadirkan karya tersebut sebagai ruang dialog antara tradisi dan pengalaman manusia kontemporer. Primbon tidak semata-mata diposisikan sebagai sesuatu yang harus dipercaya atau ditolak, melainkan sebagai warisan pengetahuan lokal yang dapat dibaca kembali melalui perspektif seni.
Yang menarik, PORONEPTU tidak menempatkan pengunjung sebagai penonton pasif. Publik justru menjadi bagian penting dari karya melalui pendekatan partisipatoris yang ditawarkan dalam pameran.
Pengunjung diajak datang dengan membawa satu pertanyaan personal mengenai kehidupan. Pertanyaan itu dapat berkaitan dengan cinta, pekerjaan, rezeki, harapan, kecemasan, maupun masa depan.
Melalui interaksi tersebut, pengunjung diajak untuk bertanya, melempar, menemukan, dan menafsirkan. Proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman artistik yang ditawarkan PORONEPTU.
Dengan pencahayaan yang redup, permainan warna, tata ruang, serta konfigurasi visual yang imajinatif, pameran ini membangun suasana kontemplatif. Pengunjung tidak hanya melihat objek seni, tetapi juga diajak memasuki ruang refleksi untuk berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan personal.
PORONEPTU pada akhirnya menjadi pertemuan antara tradisi Jawa, seni kontemporer, teknologi visual, dan pengalaman personal publik. Primbon yang selama ini berada dalam wilayah tradisi kemudian dibaca kembali sebagai sumber gagasan artistik dan ruang perenungan tentang kehidupan manusia hari ini.
Pameran ini terbuka untuk publik dan berlangsung selama lima hari, 7–11 Agustus 2026, di Balai Budaya Jakarta.
PORONEPTU mengajak publik datang bukan hanya untuk melihat karya, tetapi membawa pertanyaan tentang hidupnya sendiri. Sebab, karya ini menjadi utuh ketika publik ikut terlibat di dalamnya.*** (Daus)






























