Oleh: Bung Barnas
Wartatrans.com, KABAR — Malam itu, jalanan Kota Bandung menjelma lautan manusia. Ribuan warga tumpah-ruah menyambut “Kirab Napak Tilas Pajajaran – Mahkota Ajeg Ki Sunda”, sebuah helaran budaya yang membawa kembali ingatan kolektif masyarakat Sunda pada jejak panjang peradabannya. Dari Kiara Artha Park hingga halaman Gedung Sate, iring-iringan kesenian bergerak dalam denyut kendang, terompet penca, dan sorak warga yang nyaris tak putus.

Mahkota Binokasih — simbol warisan Pajajaran yang disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun — diarak melintasi kabupaten dan kota di Jawa Barat. Bagi sebagian masyarakat, kirab ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan penegasan identitas Sunda yang ingin ditegakkan kembali di tengah arus modernitas.
Puncak acara berlangsung pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Setiap daerah menampilkan kesenian unggulannya di hadapan publik dan tribun kehormatan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampak larut dalam suasana. Ia memberi saweran kepada para penampil, sebuah gestur sederhana yang langsung disambut gegap-gempita. Uang merah beterbangan di udara, sementara para penari dan pesilat semakin bersemangat memainkan atraksi.
Namun ada satu momen yang terasa berbeda.
Ketika rombongan seni pencak silat dari Garut memasuki arena, suasana berubah menjadi ledakan euforia. Sang gubernur masuk ke tengah lingkaran para pesilat yang bergerak dinamis seperti pusaran “mosh pit” dalam konser musik. Tiba-tiba tubuhnya diangkat tinggi-tinggi, dilempar ke udara, lalu ditangkap kembali oleh puluhan tangan yang menjulur dari bawah. Kendang penca menghentak keras, sorak warga membelah malam.
Adegan itu mungkin dimaknai sebagian orang sebagai bentuk cinta rakyat kepada pemimpinnya. Dan memang, sulit menampik bahwa gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi berhasil menyentuh lapisan masyarakat bawah. Cara komunikasinya cair, dekat, dan penuh simbol-simbol kebudayaan lokal. Julukan “Bapa Aing” tumbuh bukan dari ruang formal birokrasi, melainkan dari pengakuan emosional warga.
Pujian pun mengalir deras, baik di lapangan maupun di media sosial. Kritik nyaris tenggelam di antara tepuk tangan dan glorifikasi. Di titik inilah kebudayaan sering memberi pelajaran penting: bahwa pujian yang berlebihan dapat berubah menjadi jebakan.
Dalam tradisi lama Nusantara, para raja biasanya didampingi penasehat atau “pengingat” agar tidak terperangkap dalam sanjungan istana. Sebab pujian yang terus-menerus, tanpa penyeimbang, perlahan dapat melahirkan keterlenaan. Ia bekerja seperti candu — menyenangkan, memabukkan, tetapi diam-diam mengikis kewaspadaan.
Kebudayaan Sunda sendiri sesungguhnya mengenal falsafah keseimbangan. Ada silih asih, silih asah, silih asuh — saling menyayangi, saling mengingatkan, dan saling membimbing. Dalam nilai itu, kritik tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan bentuk kasih sayang sosial agar seseorang tidak kehilangan arah.
Karena itu, euforia budaya semestinya tidak berhenti pada pemujaan figur. Kirab Pajajaran akan lebih bermakna jika menjadi ruang untuk meneguhkan kesadaran kolektif: bahwa kepemimpinan yang sehat membutuhkan apresiasi sekaligus kontrol sosial.
Pujian memang dapat mengangkat seseorang setinggi langit. Tetapi tanpa penawar berupa kritik dan dialog yang jujur, ia juga bisa menjadi racun yang perlahan menjatuhkan.***



























