Menu ✖

Mode Gelap
5.000 Santri Dorong Perwali Literasi Al-Qur’an, FKTPQ Makassar Siapkan Munaqasyah Akbar Terminal Teluk Lamong Raih Dua Penghargaan Internasional di Singapura IPC TPK Catat Arus Barang 2,8 Juta TEUs pada Q3 2026, Efisiensi Logistik Nasional Diperkuat Pendapatan Non-Tol Jasa Marga Tumbuh 17,62% Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan Hadapi Tantangan Era Digital, Webinar Parenting Bahas Pentingnya Membangun Karakter Islami Sejak Dini

SENI BUDAYA

Racun Pujian di Tengah Euforia Kirab Pajajaran

badge-check


 Racun Pujian di Tengah Euforia Kirab Pajajaran Perbesar

Oleh: Bung Barnas

Wartatrans.com, KABAR — Malam itu, jalanan Kota Bandung menjelma lautan manusia. Ribuan warga tumpah-ruah menyambut “Kirab Napak Tilas Pajajaran – Mahkota Ajeg Ki Sunda”, sebuah helaran budaya yang membawa kembali ingatan kolektif masyarakat Sunda pada jejak panjang peradabannya. Dari Kiara Artha Park hingga halaman Gedung Sate, iring-iringan kesenian bergerak dalam denyut kendang, terompet penca, dan sorak warga yang nyaris tak putus.

Mahkota Binokasih — simbol warisan Pajajaran yang disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun — diarak melintasi kabupaten dan kota di Jawa Barat. Bagi sebagian masyarakat, kirab ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan penegasan identitas Sunda yang ingin ditegakkan kembali di tengah arus modernitas.

Puncak acara berlangsung pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Setiap daerah menampilkan kesenian unggulannya di hadapan publik dan tribun kehormatan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampak larut dalam suasana. Ia memberi saweran kepada para penampil, sebuah gestur sederhana yang langsung disambut gegap-gempita. Uang merah beterbangan di udara, sementara para penari dan pesilat semakin bersemangat memainkan atraksi.

Namun ada satu momen yang terasa berbeda.

Ketika rombongan seni pencak silat dari Garut memasuki arena, suasana berubah menjadi ledakan euforia. Sang gubernur masuk ke tengah lingkaran para pesilat yang bergerak dinamis seperti pusaran “mosh pit” dalam konser musik. Tiba-tiba tubuhnya diangkat tinggi-tinggi, dilempar ke udara, lalu ditangkap kembali oleh puluhan tangan yang menjulur dari bawah. Kendang penca menghentak keras, sorak warga membelah malam.

Adegan itu mungkin dimaknai sebagian orang sebagai bentuk cinta rakyat kepada pemimpinnya. Dan memang, sulit menampik bahwa gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi berhasil menyentuh lapisan masyarakat bawah. Cara komunikasinya cair, dekat, dan penuh simbol-simbol kebudayaan lokal. Julukan “Bapa Aing” tumbuh bukan dari ruang formal birokrasi, melainkan dari pengakuan emosional warga.

Pujian pun mengalir deras, baik di lapangan maupun di media sosial. Kritik nyaris tenggelam di antara tepuk tangan dan glorifikasi. Di titik inilah kebudayaan sering memberi pelajaran penting: bahwa pujian yang berlebihan dapat berubah menjadi jebakan.

Dalam tradisi lama Nusantara, para raja biasanya didampingi penasehat atau “pengingat” agar tidak terperangkap dalam sanjungan istana. Sebab pujian yang terus-menerus, tanpa penyeimbang, perlahan dapat melahirkan keterlenaan. Ia bekerja seperti candu — menyenangkan, memabukkan, tetapi diam-diam mengikis kewaspadaan.

Kebudayaan Sunda sendiri sesungguhnya mengenal falsafah keseimbangan. Ada silih asih, silih asah, silih asuh — saling menyayangi, saling mengingatkan, dan saling membimbing. Dalam nilai itu, kritik tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan bentuk kasih sayang sosial agar seseorang tidak kehilangan arah.

Karena itu, euforia budaya semestinya tidak berhenti pada pemujaan figur. Kirab Pajajaran akan lebih bermakna jika menjadi ruang untuk meneguhkan kesadaran kolektif: bahwa kepemimpinan yang sehat membutuhkan apresiasi sekaligus kontrol sosial.

Pujian memang dapat mengangkat seseorang setinggi langit. Tetapi tanpa penawar berupa kritik dan dialog yang jujur, ia juga bisa menjadi racun yang perlahan menjatuhkan.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Polemik DKJ Merembet ke DPRD, Tata Kelola Taman Ismail Marzuki Terancam Dievaluasi

15 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Indra Adhari Rilis Surga Cinta Jelang Remake Lagu Dirantai Gelang Rindu dari Exists Band Legendaris Malaysia

15 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Arief Okep Budiman, Menduniakan Karya Sinema Broadcast Lewat DR Production

15 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Itab Purnama ‘Drumer Formula Langit’ Siap Rilis Debut Single, Nantikan!

14 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Trending di SENI BUDAYA