Menu ✖

Mode Gelap
DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Ucapkan Selamat atas Pelantikan Plt. Kepala Dinas Pertanian Mulai Hari Ini, Argo Muria, Argo Sindoro, dan Argo Merbabu Gunakan Satu Nama KA Muria, KAI Ingatkan Pelanggan Jangan Keliru Pengobatan Gratis BMPRI Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Warga Kampung Antalisa Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

SENI BUDAYA

Rani Pancarani Sulap Kelas Vokal Jadi Ruang Belajar yang Menyenangkan, Lagu Mandarin Kian Digemar

badge-check


 Rani Pancarani Sulap Kelas Vokal Jadi Ruang Belajar yang Menyenangkan, Lagu Mandarin Kian Digemar Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Penyanyi senior lagu Mandarin Rani Pancarani berhasil mengubah hobinya mengajar vokal menjadi aktivitas yang diminati banyak orang. Berawal dari kelas kecil saat pandemi COVID-19, kini kursus vokal yang dipimpinnya berkembang pesat dengan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari lansia hingga generasi muda yang ingin menguasai lagu-lagu Mandarin.

Rani mengungkapkan, ide membuka kelas lahir ketika sejumlah temannya meminta diajari bernyanyi secara berkelompok. Meski belum memiliki pengalaman mengajar kelas, ia menerima tantangan tersebut dan terus menyempurnakan metode pembelajarannya selama empat tahun terakhir.

Keunikan kelas Rani terletak pada pendekatan yang sangat personal. Setiap peserta bebas memilih lagu yang ingin dipelajari, kemudian lagu tersebut dibedah secara menyeluruh, mulai dari teknik vokal, pengaturan napas, interpretasi lagu, hingga cara mengucapkan lirik dengan benar.

“Setiap lagu memiliki karakter yang berbeda. Lagu Mandarin tentu berbeda dengan dangdut, keroncong, maupun lagu pop. Karena itu saya tidak pernah menggunakan satu metode untuk semua lagu,” jelasnya.

Di kelas Mandarin, perhatian terbesar diberikan pada pelafalan. Menurut Rani, kesalahan pengucapan akan memengaruhi rasa percaya diri penyanyi dan berdampak pada kualitas suara.

Karena itu, setiap murid diwajibkan menulis sendiri lirik lagu lengkap dengan berbagai catatan teknik yang diberikan selama latihan. Cara tersebut dinilai lebih efektif dibanding hanya membaca dari ponsel karena membantu peserta lebih cepat menghafal sekaligus memahami isi lagu.

Tidak hanya itu, suasana belajar juga dibuat santai. Rani bahkan sengaja menggelar kelas di restoran dengan iringan live keyboard agar para peserta terbiasa tampil di depan orang banyak. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi latihan mental yang sangat penting sehingga murid tidak lagi gugup saat bernyanyi di acara keluarga maupun kegiatan komunitas.

Hasilnya mulai terlihat dalam waktu singkat. Banyak peserta yang awalnya mengaku tidak berani bernyanyi di depan umum, kini sudah percaya diri tampil dalam berbagai acara. Bahkan beberapa keluarga sengaja mengikuti kelas bersama agar dapat tampil kompak saat menghadiri pesta atau gathering.

Rani menilai perkembangan murid terjadi lebih cepat karena mereka tidak hanya belajar dari penampilannya sendiri, tetapi juga menyerap koreksi yang diberikan kepada peserta lain.

“Saya selalu bilang, walaupun sedang menunggu giliran, kalian tetap belajar. Semua yang dibahas di kelas adalah ilmu,” katanya.

Menariknya, peserta kursus bukan hanya ingin belajar menyanyi. Sebagian datang karena ingin memperbaiki kemampuan berbahasa Mandarin melalui lagu. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap lagu-lagu Mandarin yang kini kembali populer.

Melihat antusiasme yang terus meningkat, Rani telah membuka sesi kelas tambahan. Ia juga mulai menerima permintaan membuka kelas di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) dan sejumlah kota lain. Namun, ia mengaku masih menyiapkan tenaga pengajar pendamping agar kualitas pembelajaran tetap terjaga.

Bagi Rani Pancarani, keberhasilan seorang guru bukan sekadar mencetak penyanyi profesional, melainkan membantu setiap murid menemukan rasa percaya diri dan menikmati proses belajar.

“Kepuasan terbesar saya adalah melihat perubahan murid. Dari yang awalnya takut bernyanyi, sekarang berani tampil dan menikmati setiap lagu yang mereka bawakan,” tutup Rani.*** (Buyil)

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM