Menu

Mode Gelap
Angkutan Petikemas KAI Tumbuh 20,28 Persen, Capai 3,43 Juta Ton hingga Juli 2026 Banggar DPRD Madina Sampaikan 20 Rekomendasi dalam Persetujuan Bersama LPJ APBD 2025 Bupati Aceh Tengah Beri Arahan dan Motivasi kepada Paskibraka DAMRI Raih Transportasi Indonesia Awards 2026, Bukti Komitmen Perkuat Konektivitas Nasional Delegasi Madagaskar Kunjungi IPC TPK, Modernisasi Bongkar Muat Berbasis Digital Jadi Sorotan Satgas PPA Aceh Tengah Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Percepatan Pembangunan Daerah

SENI BUDAYA

Resensi Buku Bom Waktu: Ketika Kemajuan Peradaban Menyisakan Ketimpangan

badge-check


 Resensi Buku Bom Waktu: Ketika Kemajuan Peradaban Menyisakan Ketimpangan Perbesar

Judul: Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan

Penulis: Riri Satria

Penerbit: Taresia

Tebal: 126 halaman

Cetakan: Pertama, Mei 2026

ISBN: 978-634-7496-12-6

Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah euforia kemajuan teknologi yang terus melesat, pertanyaan mendasar tentang keadilan sosial sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk peradaban modern. Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam buku Bom Waktu, kumpulan 100 puisi karya Riri Satria yang terbit pada Mei 2026.

Melalui seratus puisi yang tersusun dalam buku ini, Riri Satria mengajak pembaca menelusuri sisi lain dari kemajuan zaman. Ia tidak menolak perkembangan teknologi, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan, tetapi mengajak melihat secara lebih jernih kenyataan bahwa kemajuan tersebut belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh manusia.

Sebagaimana disampaikan dalam pengantar buku, kumpulan puisi ini lahir dari kegelisahan penulis ketika menyaksikan dunia bergerak semakin cepat. Internet memperluas akses informasi, kota-kota tumbuh menjulang, kecerdasan digital berkembang pesat, dan ekonomi terhubung dalam jaringan global. Namun di balik semua itu, masih terdapat jurang ketimpangan yang belum berhasil dijembatani.

Tema tersebut tampak jelas dalam puisi berjudul Perpustakaan Tanpa Dinding. Riri menggambarkan internet sebagai perpustakaan terbesar umat manusia yang menyimpan pengetahuan tanpa batas. Namun ia segera mengingatkan bahwa akses terhadap pengetahuan tidak selalu dimiliki semua orang. Melalui larik-larik sederhana, penulis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tetap menyisakan persoalan klasik berupa kesenjangan akses.

Kesederhanaan menjadi salah satu kekuatan utama buku ini. Riri tidak menggunakan bahasa yang rumit atau metafora yang berlapis-lapis. Sebaliknya, ia memilih menyampaikan gagasannya secara lugas sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Pilihan ini membuat tema-tema yang sebenarnya cukup kompleks, seperti digitalisasi, ekonomi global, kecerdasan buatan, dan perubahan budaya, menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kritik sosial yang kuat juga hadir dalam puisi Pasar yang Lupa Doa. Di sana, istilah-istilah ekonomi seperti inflasi, spekulasi, dan likuiditas digambarkan sebagai kata-kata yang terdengar elegan, tetapi sering membuat manusia lupa bahwa di balik angka-angka dan grafik terdapat kehidupan nyata yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Melalui puisi ini, Riri mempertanyakan apakah kesejahteraan benar-benar dapat diukur hanya dengan pertumbuhan ekonomi.

Kegelisahan yang sama kembali muncul dalam puisi Warisan Zaman. Penulis menyoroti kenyataan bahwa setiap generasi memang mewarisi berbagai kemajuan dari generasi sebelumnya, tetapi juga menerima warisan ketimpangan yang belum terselesaikan. Pertanyaan pada akhir puisi tentang apakah kemajuan cukup berarti untuk mengakhiri ketidakadilan menjadi refleksi yang terus membekas setelah buku ditutup.

Keunggulan lain dari Bom Waktu adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman reflektif secara konsisten. Setiap puisi seperti lampu kecil yang menerangi satu sudut peradaban. Ada yang membahas teknologi, ada yang berbicara tentang ekonomi, ada pula yang menyoroti perubahan budaya dan kesenjangan sosial. Ketika dibaca secara keseluruhan, puisi-puisi tersebut membentuk mozaik besar tentang wajah dunia modern, dengan segala keberhasilan sekaligus problematikanya.

Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Pembaca yang menyukai puisi dengan eksplorasi metafora yang kompleks atau permainan bahasa yang lebih eksperimental mungkin akan merasa sebagian puisi terlalu naratif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Kesederhanaan bahasa membuat pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis lebih mudah diterima dan direnungkan oleh pembaca yang lebih luas.

Pada akhirnya, Bom Waktu menawarkan pemahaman bahwa kemajuan peradaban tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati juga ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu menghadirkan keadilan, pemerataan kesempatan, dan akses yang setara bagi semua orang.

Melalui seratus puisi yang reflektif dan relevan, Riri Satria mengingatkan bahwa gedung-gedung tinggi, jaringan internet cepat, dan kecerdasan buatan tidak otomatis menghapus ketimpangan yang telah lama mengakar. Kemajuan baru memiliki makna ketika seluruh manusia dapat bergerak maju bersama.

Karena itu, Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan layak dibaca oleh penikmat sastra, mahasiswa, akademisi, aktivis sosial, maupun siapa saja yang ingin memahami wajah peradaban modern dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan cermin yang mengajak pembacanya mempertanyakan kembali makna kemajuan yang sesungguhnya.***

Penulis Resensi :

Khairani Piliang merupakan penulis yang aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Ia adalah penulis buku kumpulan cerpen Suatu Pagi di Dermaga (2017) dan buku kumpulan puisi Seduh Sedih yang Bertasbih (2025). Selain itu, ia telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi.

Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi berkarya serta kontribusinya dalam perkembangan sastra kontemporer Indonesia. Selain menulis, Khairani juga aktif dalam berbagai kegiatan literasi dan kerap dipercaya menjadi juri dalam sejumlah lomba kepenulisan.

Prestasinya antara lain sebagai pemenang lomba penulisan kreatif buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dan Dapur Sastra Jakarta. Melalui karya dan aktivitas literasinya, ia terus berupaya membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan sastra sebagai ruang bertumbuh dan berbagi gagasan bersama.*

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tak Hanya Jago Adegan Laga, Ismi Melinda Taklukkan Tantangan Merapi Merbabu Trail Run

3 Agustus 2026 - 15:37 WIB

Diding Boneng Tutup Usia, Jejak Tawa dan Dedikasinya Tetap Hidup di Dunia Hiburan

3 Agustus 2026 - 12:41 WIB

TISI Luncurkan Antologi Puisi Dwi Bahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, Octavianus Masheka: Bahasa Daerah Bagian dari Sejarah Perjuangan Kemerdekaan

3 Agustus 2026 - 08:41 WIB

Salman Yoga Akan Baca Puisi Bahasa Gayo pada Peluncuran Antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” di TIM Jakarta

2 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Salman Yoga S, Penyair Gayo yang Membawa Bahasa Ibu ke Panggung Sastra Nusantara

2 Agustus 2026 - 20:43 WIB

Nanda Winar Sagita Wakili Aceh di Balige Writers Festival 2026, Angkat Kisah Sisingamangaraja XII dan Aceh

2 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Bincang Santai Sastra Puisi: Dari Kata-Kata Merawat Kebudayaan dan Kebangsaan

2 Agustus 2026 - 14:04 WIB

SPEARS Band Tampil Memukau, Sound Of Campus Bekasi Jadi Ruang Ekspresi Musisi Muda

1 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Ireng Halimun dan Perjalanan Panjang Seni Lukis

1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Memorial Nasirun: Ketika Sang Maestro Pergi, Karyanya Tetap Abadi

1 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Trending di SENI BUDAYA