Menu

Mode Gelap
Siswa MTs Pati Kehilangan Dua Jarinya, Diduga Karena Perundungan Siap – Siap, Pertengahan Agustus 2026 Indonesia Hujan Meteor Perseid TISI Luncurkan Antologi Puisi Dwi Bahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, Octavianus Masheka: Bahasa Daerah Bagian dari Sejarah Perjuangan Kemerdekaan BRIN: Rel Tua 120 Tahun Rangkasbitung-Labuan Direaktivasi KKP Proyeksikan Tambak Udang Terintegrasi Sumba Timur Hasilkan Rp4 Triliun per Tahun EAZI Percepat Layanan Logistik Nasional, Terminal Teluk Lamong Sabet Radar Surabaya Awards 2026

SENI BUDAYA

TISI Luncurkan Antologi Puisi Dwi Bahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, Octavianus Masheka: Bahasa Daerah Bagian dari Sejarah Perjuangan Kemerdekaan

badge-check


 TISI Luncurkan Antologi Puisi Dwi Bahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, Octavianus Masheka: Bahasa Daerah Bagian dari Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat dan menghidupkan bahasa daerah melalui sastra. Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, TISI akan meluncurkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa bertajuk “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”.

Kegiatan yang menjadi seri kelima program TISI tersebut akan digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 14.00–16.30 WIB, di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Gedung Ali Sadikin Lantai 4, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Ketua TISI Octavianus Masheka mengatakan, peluncuran antologi tersebut merupakan bagian dari konsistensi TISI dalam merawat keberadaan bahasa ibu dari berbagai daerah di Indonesia melalui karya sastra.

“TISI mengadakan kegiatan merawat bahasa ibu dari beberapa daerah di seluruh Indonesia setiap tahunnya dengan menghadirkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa tersebut,” ujar Octavianus kepada wartawan di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Menurut penyair dan sastrawan yang akrab disapa Bung Octa itu, program tersebut tidak berhenti pada penerbitan buku. TISI juga berupaya menciptakan ruang pertemuan bagi para pelaku sastra bahasa daerah dan bahasa Indonesia untuk berdiskusi, membaca puisi, sekaligus memperkenalkan kekayaan bahasa daerah kepada masyarakat luas.

Ia menegaskan, tema “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” memiliki relevansi kuat dengan momentum Kemerdekaan RI ke-81. Menurutnya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi atau bagian dari identitas budaya, tetapi juga memiliki jejak penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

“Bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Batak, Sunda, dan masih banyak lagi bahasa daerah di seluruh Indonesia ikut berperan pada awal Kemerdekaan RI tahun 1945, khususnya lewat komunikasi perjuangan saat itu,” kata Octavianus.

Karena itu, momentum kemerdekaan, lanjut dia, menjadi kesempatan untuk kembali mengingatkan generasi sekarang bahwa keberagaman bahasa merupakan salah satu kekuatan yang membentuk Indonesia.

 

TISI Konsisten Rawat Bahasa Ibu

Octavianus menjelaskan, kegiatan tahun 2026 ini merupakan seri kelima dari rangkaian kegiatan sastra yang digagas TISI. Program tersebut akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya komunitas untuk menjaga keberlangsungan bahasa ibu melalui pendekatan sastra.

“Acara sastra tahun 2026 ini merupakan seri ke-5 dan akan terus berlanjut,” ujarnya.

Dalam kegiatan kali ini, TISI juga mengundang para pelaku sastra, khususnya yang berkaitan dengan bahasa daerah dan bahasa Indonesia, untuk hadir dalam diskusi sastra. Selain diskusi, kegiatan juga akan diramaikan dengan pembagian buku dan hadiah uang tunai bagi peserta.

Acara akan dibuka dengan sambutan Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta.

Sementara sesi diskusi sastra akan dimoderatori Swary Utami Dewi, dengan menghadirkan tiga pembicara, yakni Octavianus Masheka, Saut Poltak Tambunan, dan Eva Yenita Syam.

 

Hadirkan Penyair dari Berbagai Latar

Peluncuran dan diskusi antologi puisi dwi bahasa ini juga akan menghadirkan sejumlah penyair dan deklamator untuk membacakan karya-karya dalam buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku.”

Mereka antara lain Kurnia Effendi, Nurhayati, Hana, Indar, Boyke Sulaiman, Jose Rizal Manua, Salman Yoga S, Imam Ma’arif, dan Rissa Churia.

Kehadiran Salman Yoga S, penyair asal Gayo, turut memperlihatkan keberagaman latar bahasa dan budaya yang menjadi perhatian TISI dalam program antologi tersebut.

Bagi Octavianus, menjaga bahasa ibu melalui puisi merupakan salah satu cara agar bahasa daerah tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Melalui buku, diskusi, dan pembacaan puisi, TISI ingin menjadikan sastra sebagai ruang untuk mempertemukan bahasa, budaya, sejarah, dan semangat kebangsaan.

Dengan mengangkat tema “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, TISI sekaligus mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai ruang untuk menjaga identitas, kebudayaan, dan keberagaman bahasa yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.***

Kontributor: Lasman Simanjuntak

Baca Lainnya

Salman Yoga Akan Baca Puisi Bahasa Gayo pada Peluncuran Antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” di TIM Jakarta

2 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Salman Yoga S, Penyair Gayo yang Membawa Bahasa Ibu ke Panggung Sastra Nusantara

2 Agustus 2026 - 20:43 WIB

Nanda Winar Sagita Wakili Aceh di Balige Writers Festival 2026, Angkat Kisah Sisingamangaraja XII dan Aceh

2 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Bincang Santai Sastra Puisi: Dari Kata-Kata Merawat Kebudayaan dan Kebangsaan

2 Agustus 2026 - 14:04 WIB

SPEARS Band Tampil Memukau, Sound Of Campus Bekasi Jadi Ruang Ekspresi Musisi Muda

1 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Ireng Halimun dan Perjalanan Panjang Seni Lukis

1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Memorial Nasirun: Ketika Sang Maestro Pergi, Karyanya Tetap Abadi

1 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Hilangnya Mapel Sastra di Sekolah Jadi Sorotan, Pelaku Sastra Dorong Penguatan Ekosistem Sastra

31 Juli 2026 - 19:31 WIB

Indra Adhari Rilis “Rindu Seorang Ayah”, Single ke-7 dalam Konsep One Month One Song

31 Juli 2026 - 13:16 WIB

Perkembangan Seni Rupa Aceh Butuh Kolaborasi Semua Pihak, Seniman Besar Lahir dari Perjuangan panjang 

31 Juli 2026 - 02:33 WIB

Trending di SENI BUDAYA