Wartatrans.com, JAKARTA — Penyair dan sastrawan asal Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, Dr. Salman Yoga S, akan tampil membacakan puisi berbahasa Gayo dalam peluncuran dan diskusi sastra antologi bersama puisi dwibahasa (Indonesia–Daerah) bertajuk “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”.
Kegiatan yang digelar dalam rangka menyemarakkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tersebut akan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 14.00–16.30 WIB, di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Gedung Ali Sadikin, Lantai 4, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh komunitas sastra Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) sebagai ruang apresiasi terhadap keberagaman bahasa daerah sekaligus upaya memperkuat keberadaan bahasa ibu dalam khazanah sastra Indonesia.
Acara akan diawali sambutan dari Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Diskusi sastra akan dipandu oleh Swary Utami Dewi sebagai moderator, dengan menghadirkan tiga pembicara, yakni Octavianus Masheka, Saut Poltak Tambunan, dan Eva Yenita Syam.
Sementara itu, sejumlah penyair dan deklamator akan tampil membacakan karya dalam sesi pembacaan puisi. Mereka antara lain Kurnia Effendi, Nurhayati, Hana, Indar, Boyke Sulaiman, Jose Rizal Manua, Salman Yoga S, Imam Ma’arif, dan Rissa Churia.
Salman Yoga akan membawa dua puisi berbahasa Gayo yang disertai versi bahasa Indonesia. Salah satunya berjudul “Kutalu Geralmu Ama” atau “Kupanggil Namamu Ayah”, yang mengangkat sosok ayah sebagai figur pekerja keras, pemimpin keluarga, sekaligus penyangga kehidupan.
Melalui puisi tersebut, Salman menghadirkan pengalaman kultural masyarakat Gayo tentang hubungan anak dan orang tua. Bahasa Gayo tidak hanya menjadi medium penyampaian pesan, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan ingatan budaya.
Selain itu, Salman Yoga juga akan membacakan puisi “Sara Rilah Ulung Kupi i Atas ni Buku” atau “Satu Lembar Daun Kopi di Atas Buku”. Puisi ini membawa pembaca pada lanskap kehidupan Gayo yang lekat dengan kopi, alam, buku, waktu, dan tradisi literasi.
Kehadiran Salman Yoga dalam kegiatan tersebut sekaligus membawa warna sastra Gayo ke ruang sastra nasional. Bahasa Gayo ditempatkan bukan sekadar sebagai bahasa daerah, tetapi sebagai bagian dari kekayaan ekspresi sastra Indonesia.
Tema “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” menjadi penting di tengah perubahan zaman, ketika bahasa daerah menghadapi tantangan keberlangsungan di tengah dominasi bahasa nasional dan bahasa global.
Peluncuran antologi ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai bahasa daerah melalui puisi, sekaligus menegaskan bahwa keberagaman bahasa merupakan salah satu kekuatan kebudayaan Indonesia.
Bagi Salman Yoga, pembacaan puisi dalam bahasa Gayo di ruang sastra Jakarta juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan bahasa dan kebudayaan Gayo kepada khalayak yang lebih luas.*** (Jasa)






























