Wartatrans.com, TAKENGON — Nama Dr. Salman Yoga S telah lama mewarnai perjalanan sastra dan kebudayaan di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Penyair, penulis, kurator, editor, sekaligus penggerak komunitas kebudayaan ini dikenal konsisten membawa bahasa, tradisi, dan pengalaman masyarakat Gayo ke dalam karya sastra.
Salman tidak hanya menulis puisi. Ia berkarya dalam berbagai genre sastra, melakukan kerja kuratorial, menyunting dan mengeditori buku, sekaligus tetap menjalani kehidupan sebagai petani kopi Gayo.

Perjalanannya di dunia sastra telah berlangsung sejak dekade 1990-an. Salah satu karya awalnya adalah “Sajak-Sajak Rindu” yang terbit pada 1995. Setelah itu, sejumlah karya lain menyusul, antara lain Cicimpala Putih (2005), novel Tungku (2006), White Orchids Gayo Soil (2016), Satu Cerita 14 Bahasa (2019), Pungi den Pakan Laya (2020), Likes (2021), Belbuk (2022), Perempuan Batu Membatu dan Rempah Ganja (2024), serta Komunikasi Seni dan Kelising-Empat Lakon Drama (2025).
Sementara buku “Tiga Monolog Wih” saat ini masih dalam proses penerbitan.
Karya-karya Salman tidak berhenti pada pembaca berbahasa Indonesia. Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia, Arab, Jerman, Spanyol, sejumlah bahasa etnik di Aceh, hingga puluhan bahasa etnik di Nusantara.
Salah satu kekuatan Salman adalah kemampuannya menjadikan bahasa dan kebudayaan lokal sebagai bagian dari percakapan sastra yang lebih luas. Bahasa Gayo, bagi Salman, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan ingatan, sejarah, nilai, dan identitas masyarakatnya.
Kiprahnya juga tidak terlepas dari berbagai gerakan sosial, seni, literasi, dan kebudayaan. Ia terlibat dalam sejumlah komunitas di Aceh, antara lain The Gayo Institute (TGI), Komunitas Teater Reje Linge, Komunitas Sastra Bukit Barisan (KSBB), dan Komunitas Penulis Gayo Semesta (KopiGaS).
Pada 1999, Salman juga pernah melahirkan album baca puisi bertema konflik Aceh dan kampanye hak asasi manusia berjudul “Atas Nama Manusia-Mencintai Aceh Dengan Asap Ganja”.
Perannya dalam kebudayaan kemudian berkembang ke berbagai bidang. Pada 2025, Salman dipercaya sebagai transliterator skenario sekaligus coach bahasa untuk film “Black Coffee”, yang dibintangi Reza Rahadian, Sha Ine Febriyanti, dan Asmara Abigail, dengan sutradara Jeremias Nyangoen.
Di tingkat nasional dan internasional, Salman juga turut berperan dalam penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara XIV (PPN XIV) yang berlangsung di Aceh pada Juni 2026 dan diikuti peserta dari 14 negara. Dalam perhelatan tersebut, Salman mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Kurator.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Salman tidak hanya berada di wilayah penciptaan karya, tetapi juga dalam membangun ekosistem sastra dan kebudayaan.
Kini, melalui keterlibatannya dalam peluncuran antologi puisi dwibahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Salman kembali membawa suara Gayo ke panggung sastra nasional.
Ia akan membacakan puisi berbahasa Gayo, di antaranya “Kutalu Geralmu Ama” dan “Sara Rilah Ulung Kupi i Atas ni Buku”.
Dua karya tersebut memperlihatkan kedekatan Salman dengan kehidupan masyarakat Gayo: keluarga, ayah, alam, kopi, buku, waktu, dan ingatan.
Di tangan Salman, bahasa Gayo tidak hanya menjadi bahasa ibu. Ia menjadi bahasa sastra—bahasa yang membawa pengalaman lokal untuk berbicara kepada Indonesia dan bahkan dunia.
Dari Takengon, dari tanah kopi dan pegunungan Gayo, Salman Yoga terus menulis, menerjemahkan, merawat bahasa, serta membuka jalan agar kebudayaan daerah tetap memiliki tempat di panggung sastra Nusantara.*** (Jasa)






























