Menu ✖

Mode Gelap
Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan Transjakarta Laut Disiapkan, 3 Pulau Jadi Terminal Utama Juni 2027

KABIN

Strategi Dirut Garuda: Prioritaskan Perbaikan Armada dan Efisiensi

badge-check


 Armada Garuda Indonesia Perbesar

Armada Garuda Indonesia

Wartatrans.com, TANGERANG – Strategi Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan moncer dengan mengambil keputusan tegas.

Alih-alih menambah tiga pesawat baru, Bos Garuda memilih menunda ekspansi armada dan memusatkan energi pada perbaikan pesawat yang sudah ada.

Glenny mengatakan, perseroan sebelumnya menandatangani MoU pemesanan empat pesawat. Namun, dari seluruh rencana itu, hanya satu unit yang sudah dibayarkan uang muka. Tiga pesawat lainnya resmi dipostponed.

“MoU ada empat pesawat, baru satu yang DP. Tiga sisanya kami tunda dulu, karena prioritasnya perbaikan armada,” ujar Glenny dalam konferensi pers di Garuda Sentra Operasi, Tangerang, Kamis (13/11/2025).

Keputusan ini menegaskan arah perbaikan Garuda yang semakin konsisten sejak masuknya skema penyelamatan pemerintah dan BPI Danantara.

Meski Danantara setuju mengucurkan modal sebesar Rp23,67 triliun tapi mantan penerbang TNI AD ini cukup hati-hati.

Glenny yang merupakan pilot lulusan LPPU  Curug ini menilai, penyelamatan Garuda harus dimulai dari sektor operasional yang selama ini membebani keuangan.

“Kalau tidak diperbaiki, biaya tetap jalan terus,” ujarnya.

Dia memperkirakan proses pemulihan penuh membutuhkan waktu dua tahun hingga Garuda kembali mencetak laba.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menambahkan, seluruh rencana ekspansi saat ini sedang dihitung ulang.

Adanya posisi baru Direktur Transformasi yang dijabat Neil Raymond Mills membuat evaluasi armada dan jaringan rute dilakukan lebih ketat.

“Bukan dibatalkan, tapi sebagian akan kami tunda sampai analisisnya final,” kata Thomas.

Keputusan menahan ekspansi ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah nahkoda baru Glenny Kairupan, Garuda memilih stabilitas dan efisiensi lebih dulu, sebelum kembali terbang lebih tinggi. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global

1 Oktober 2026 - 08:12 WIB

AirNav-Airbus Teken MoU Efisiensi dan Keberlanjutan Ruang Udara Indonesia

30 September 2026 - 07:31 WIB

Menhub Dudy Galang Dukungan Keanggotaan Indonesia di Dewan ICAO

29 September 2026 - 21:23 WIB

Dampak Erupsi Gunung Dukono, Bandara Morotai Ditutup Mulai Hari Ini

26 September 2026 - 15:36 WIB

Bukaka Pasok 56 Garbarata Generasi Baru untuk Terminal 3 Changi

25 September 2026 - 21:31 WIB

Indonesia AirAsia Sabet Penghargaan Best Low-Cost Airline di Indonesia dari Skytrax

24 September 2026 - 17:00 WIB

Kemenhub Terus Pantau Dampak Karhutla pada Penerbangan di Kalimantan

23 September 2026 - 03:52 WIB

6 Pesawat N219 PTDI Siap Perkuat Armada di TNI-AD

22 September 2026 - 15:37 WIB

Melalui Pertukaran Data ADS-B, AirNav dan CAAS Perkuat Layanan Lintas FIR

21 September 2026 - 10:41 WIB

Pelita Air Bagikan Ratusan Tiket Nonton Gratis MotoGP di Mandalika

19 September 2026 - 13:19 WIB

Trending di EKOBIS