Menu ✖

Mode Gelap
Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

RAGAM

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci

badge-check


 Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Nama Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri jarang muncul dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia arus utama. Padahal, pada paruh pertama abad ke-20, namanya bergaung kuat di dua kota suci umat Islam: Makkah dan Madinah. Ia bukan sekadar penuntut ilmu dari Nusantara, melainkan pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—sebuah posisi yang hanya dicapai segelintir ulama dunia Islam.

Syekh Muhammad Ahyad lahir di Bogor, Jawa Barat, pada malam Rabu, 21 Ramadhan 1302 Hijriah, bertepatan dengan sekitar tahun 1884 atau 1885 Masehi. Nama lengkapnya panjang, sebagaimana tradisi ulama besar: Muhammad Ahyad bin Muhammad bin Idris bin Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. Nisbah al-Bughuri menegaskan asal-usulnya dari Bogor, sebuah kota yang pada masa itu mulai dikenal sebagai ladang lahirnya ulama-ulama besar Nusantara.

Pendidikan agama Syekh Muhammad Ahyad bermula dari rumah. Ayahnya, Kiai Muhammad Idris, menjadi guru pertama yang menanamkan dasar-dasar keilmuan Islam. Menariknya, ia juga mengenyam pendidikan sekolah umum Belanda (MULO), sebuah pengalaman langka bagi santri pada zamannya. Perpaduan pendidikan tradisional pesantren dan sistem sekolah modern itu membentuk watak keilmuannya yang terbuka sekaligus kukuh pada tradisi.

Pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1899, Syekh Muhammad Ahyad berangkat ke Tanah Suci. Makkah dan Madinah menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun. Di sana, ia menuntut ilmu melalui halaqah-halaqah para masyayikh terkemuka di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—dua pusat keilmuan Islam dunia. Dari tangan para ulama inilah ia menyerap berbagai disiplin ilmu agama, dari fikih, tafsir, hadis, hingga tasawuf.

Keteguhan dan kedalaman ilmunya perlahan mengantarkannya ke posisi yang tidak biasa bagi seorang ulama Nusantara. Syekh Muhammad Ahyad diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram. Ia juga dikenal mengajar di Masjid Nabawi. Karena kiprahnya yang melintasi dua kota suci inilah ia kemudian dijuluki “Syekh Haramain”—gelar yang menandai otoritas keilmuannya di Makkah dan Madinah sekaligus.

Dalam dunia tasawuf, peran Syekh Muhammad Ahyad tak kalah penting. Ia menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah setelah wafatnya guru sekaligus mertuanya, Syekh Mukhtar ‘Atharid, seorang ulama besar asal Nusantara yang juga berpengaruh di Makkah. Dari majelis zikir dan bimbingan rohani yang ia pimpin, lahir jejaring murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Nusantara.

Di balik reputasinya sebagai ulama besar, Syekh Muhammad Ahyad menjalani kehidupan keluarga yang sederhana. Ia dikaruniai tujuh orang anak, dan menetap di Makkah hingga akhir hayatnya. Kota suci itu bukan sekadar tempat belajar dan mengajar, melainkan ruang pengabdian seumur hidup.

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri wafat pada malam Sabtu, 9 Shafar 1372 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1952 Masehi, dalam usia sekitar 70 tahun. Ia dimakamkan di Maqbarah Jannatul Ma‘la, pemakaman bersejarah di Makkah al-Mukarramah—tempat peristirahatan para tokoh besar Islam.

Jejak Syekh Muhammad Ahyad adalah potret nyata kontribusi ulama Nusantara dalam peradaban Islam global. Dari Bogor ke Haramain, dari surau keluarga hingga mimbar Masjidil Haram, hidupnya menegaskan bahwa Islam Indonesia tidak pernah berada di pinggiran sejarah. Ia justru menjadi bagian dari pusatnya—tenang, bersahaja, namun berpengaruh lintas zaman.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Kejari Langsa Sita Rp250,9 Juta, Pulihkan Kerugian Negara dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase

30 September 2026 - 02:39 WIB

Trending di RAGAM