Menu

Mode Gelap
KAI Lanjutkan Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, 17 Pelanggan Masih Dirawat Perkuat Standar Layanan dan Keselamatan Secara Berkelanjutan, DAMRI Tingkatkan Kompetensi Pengemudi di Berbagai Layanan Kemenhub Teken 2 Perjanjian Konsesi Strategis dengan PT Pelindo Dukung Kelancaran Logistik Wilayah, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Peran ASDP Ramaikan Forum Inabuyer 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

RAGAM

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci

badge-check


 Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Nama Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri jarang muncul dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia arus utama. Padahal, pada paruh pertama abad ke-20, namanya bergaung kuat di dua kota suci umat Islam: Makkah dan Madinah. Ia bukan sekadar penuntut ilmu dari Nusantara, melainkan pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—sebuah posisi yang hanya dicapai segelintir ulama dunia Islam.

Syekh Muhammad Ahyad lahir di Bogor, Jawa Barat, pada malam Rabu, 21 Ramadhan 1302 Hijriah, bertepatan dengan sekitar tahun 1884 atau 1885 Masehi. Nama lengkapnya panjang, sebagaimana tradisi ulama besar: Muhammad Ahyad bin Muhammad bin Idris bin Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. Nisbah al-Bughuri menegaskan asal-usulnya dari Bogor, sebuah kota yang pada masa itu mulai dikenal sebagai ladang lahirnya ulama-ulama besar Nusantara.

Pendidikan agama Syekh Muhammad Ahyad bermula dari rumah. Ayahnya, Kiai Muhammad Idris, menjadi guru pertama yang menanamkan dasar-dasar keilmuan Islam. Menariknya, ia juga mengenyam pendidikan sekolah umum Belanda (MULO), sebuah pengalaman langka bagi santri pada zamannya. Perpaduan pendidikan tradisional pesantren dan sistem sekolah modern itu membentuk watak keilmuannya yang terbuka sekaligus kukuh pada tradisi.

Pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1899, Syekh Muhammad Ahyad berangkat ke Tanah Suci. Makkah dan Madinah menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun. Di sana, ia menuntut ilmu melalui halaqah-halaqah para masyayikh terkemuka di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—dua pusat keilmuan Islam dunia. Dari tangan para ulama inilah ia menyerap berbagai disiplin ilmu agama, dari fikih, tafsir, hadis, hingga tasawuf.

Keteguhan dan kedalaman ilmunya perlahan mengantarkannya ke posisi yang tidak biasa bagi seorang ulama Nusantara. Syekh Muhammad Ahyad diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram. Ia juga dikenal mengajar di Masjid Nabawi. Karena kiprahnya yang melintasi dua kota suci inilah ia kemudian dijuluki “Syekh Haramain”—gelar yang menandai otoritas keilmuannya di Makkah dan Madinah sekaligus.

Dalam dunia tasawuf, peran Syekh Muhammad Ahyad tak kalah penting. Ia menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah setelah wafatnya guru sekaligus mertuanya, Syekh Mukhtar ‘Atharid, seorang ulama besar asal Nusantara yang juga berpengaruh di Makkah. Dari majelis zikir dan bimbingan rohani yang ia pimpin, lahir jejaring murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Nusantara.

Di balik reputasinya sebagai ulama besar, Syekh Muhammad Ahyad menjalani kehidupan keluarga yang sederhana. Ia dikaruniai tujuh orang anak, dan menetap di Makkah hingga akhir hayatnya. Kota suci itu bukan sekadar tempat belajar dan mengajar, melainkan ruang pengabdian seumur hidup.

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri wafat pada malam Sabtu, 9 Shafar 1372 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1952 Masehi, dalam usia sekitar 70 tahun. Ia dimakamkan di Maqbarah Jannatul Ma‘la, pemakaman bersejarah di Makkah al-Mukarramah—tempat peristirahatan para tokoh besar Islam.

Jejak Syekh Muhammad Ahyad adalah potret nyata kontribusi ulama Nusantara dalam peradaban Islam global. Dari Bogor ke Haramain, dari surau keluarga hingga mimbar Masjidil Haram, hidupnya menegaskan bahwa Islam Indonesia tidak pernah berada di pinggiran sejarah. Ia justru menjadi bagian dari pusatnya—tenang, bersahaja, namun berpengaruh lintas zaman.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

JMSI Sulawesi Tengah Kecam Pernyataan Mantan Direktur RSUD Undata Yang Hina Jurnalis

6 Mei 2026 - 02:35 WIB

Kartunis Dorong Pameran “JAKARTUN” untuk HUT Jakarta ke-499

5 Mei 2026 - 13:46 WIB

Pase Raya Gelar Halal Bihalal, Pererat Warga Aceh Utara di Perantauan

5 Mei 2026 - 10:55 WIB

Massa Aksi Padati Gedung Gubernur Aceh, Tuntut Pencabutan Pergub JKA 2026

4 Mei 2026 - 23:46 WIB

Sinergi Pelindo Regional 4 – DPRD, Dorong Pengembangan Pelabuhan Sorong

4 Mei 2026 - 22:40 WIB

Soliditas Jadi Kunci Bertahan Forwan

4 Mei 2026 - 13:20 WIB

Neno Warisman Diharapkan Perkuat Dukungan Negara dalam Pencanangan Bulan Ismail Marzuki

4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Musda Demokrat Sulteng Segera Dilaksanakan, Talitti Paluge : Kolaborasi Figur Baru Memperkuat Kerja kerja Partai

4 Mei 2026 - 09:36 WIB

May Day dan Hari Kebebasan Pers, Koalisi Jurnalis Sulteng Soroti Ancaman Kebebasan Pers

4 Mei 2026 - 09:03 WIB

Halimah Munawir Luncurkan Podcast, Ruang Baru untuk Gagasan Lintas Bidang

3 Mei 2026 - 22:48 WIB

Trending di RAGAM