Menu

Mode Gelap
Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata Puluhan Relawan Airnav Indonesia, Taspen, dan Jasindo Mengabdi di Boyolali

RAGAM

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci

badge-check


 Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri: Ulama Bogor yang Menjadi Penjaga Ilmu di Dua Tanah Suci Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Nama Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri jarang muncul dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia arus utama. Padahal, pada paruh pertama abad ke-20, namanya bergaung kuat di dua kota suci umat Islam: Makkah dan Madinah. Ia bukan sekadar penuntut ilmu dari Nusantara, melainkan pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—sebuah posisi yang hanya dicapai segelintir ulama dunia Islam.

Syekh Muhammad Ahyad lahir di Bogor, Jawa Barat, pada malam Rabu, 21 Ramadhan 1302 Hijriah, bertepatan dengan sekitar tahun 1884 atau 1885 Masehi. Nama lengkapnya panjang, sebagaimana tradisi ulama besar: Muhammad Ahyad bin Muhammad bin Idris bin Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. Nisbah al-Bughuri menegaskan asal-usulnya dari Bogor, sebuah kota yang pada masa itu mulai dikenal sebagai ladang lahirnya ulama-ulama besar Nusantara.

Pendidikan agama Syekh Muhammad Ahyad bermula dari rumah. Ayahnya, Kiai Muhammad Idris, menjadi guru pertama yang menanamkan dasar-dasar keilmuan Islam. Menariknya, ia juga mengenyam pendidikan sekolah umum Belanda (MULO), sebuah pengalaman langka bagi santri pada zamannya. Perpaduan pendidikan tradisional pesantren dan sistem sekolah modern itu membentuk watak keilmuannya yang terbuka sekaligus kukuh pada tradisi.

Pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1899, Syekh Muhammad Ahyad berangkat ke Tanah Suci. Makkah dan Madinah menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun. Di sana, ia menuntut ilmu melalui halaqah-halaqah para masyayikh terkemuka di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—dua pusat keilmuan Islam dunia. Dari tangan para ulama inilah ia menyerap berbagai disiplin ilmu agama, dari fikih, tafsir, hadis, hingga tasawuf.

Keteguhan dan kedalaman ilmunya perlahan mengantarkannya ke posisi yang tidak biasa bagi seorang ulama Nusantara. Syekh Muhammad Ahyad diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram. Ia juga dikenal mengajar di Masjid Nabawi. Karena kiprahnya yang melintasi dua kota suci inilah ia kemudian dijuluki “Syekh Haramain”—gelar yang menandai otoritas keilmuannya di Makkah dan Madinah sekaligus.

Dalam dunia tasawuf, peran Syekh Muhammad Ahyad tak kalah penting. Ia menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah setelah wafatnya guru sekaligus mertuanya, Syekh Mukhtar ‘Atharid, seorang ulama besar asal Nusantara yang juga berpengaruh di Makkah. Dari majelis zikir dan bimbingan rohani yang ia pimpin, lahir jejaring murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Nusantara.

Di balik reputasinya sebagai ulama besar, Syekh Muhammad Ahyad menjalani kehidupan keluarga yang sederhana. Ia dikaruniai tujuh orang anak, dan menetap di Makkah hingga akhir hayatnya. Kota suci itu bukan sekadar tempat belajar dan mengajar, melainkan ruang pengabdian seumur hidup.

Syekh Muhammad Ahyad al-Bughuri wafat pada malam Sabtu, 9 Shafar 1372 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1952 Masehi, dalam usia sekitar 70 tahun. Ia dimakamkan di Maqbarah Jannatul Ma‘la, pemakaman bersejarah di Makkah al-Mukarramah—tempat peristirahatan para tokoh besar Islam.

Jejak Syekh Muhammad Ahyad adalah potret nyata kontribusi ulama Nusantara dalam peradaban Islam global. Dari Bogor ke Haramain, dari surau keluarga hingga mimbar Masjidil Haram, hidupnya menegaskan bahwa Islam Indonesia tidak pernah berada di pinggiran sejarah. Ia justru menjadi bagian dari pusatnya—tenang, bersahaja, namun berpengaruh lintas zaman.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilannya

15 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Fiskal Pemkot Semarang Terpuruk, Tidak Melakukan Efisiensi Tapi Rasionalisasi

15 Agustus 2026 - 17:47 WIB

Trending di RAGAM