Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi pertanian daerah. Melihat peluang tersebut, DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tengah mulai mendorong keterlibatan petani lokal dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan Joint Study bersama Tim Asistensi Badan Gizi Nasional (BGN) dengan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah SPPG. Kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi kebutuhan bahan baku, standar kualitas komoditas, mekanisme pengadaan hingga sistem distribusi pangan untuk dapur MBG.
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tengah, Eka Saputra, ST, mengatakan bahwa program MBG seharusnya tidak hanya berdampak pada peningkatan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi peluang ekonomi bagi petani lokal.

Menurut Eka, Aceh Tengah memiliki potensi pertanian hortikultura yang cukup besar. Sejumlah komoditas seperti kentang, wortel, kol, dan buncis dinilai berpeluang menjadi bagian dari pasokan kebutuhan pangan SPPG.
“Potensi pertanian lokal harus bisa terhubung langsung dengan kebutuhan dapur MBG. Karena itu, kami ingin membangun pola kemitraan yang konkret antara petani, kelompok tani, offtaker, mitra distribusi, dan SPPG,” demikian arah pengembangan yang didorong Tani Merdeka Indonesia.
Membangun Kepastian Pasar bagi Petani
Melalui kajian bersama tersebut, Tani Merdeka Indonesia memetakan enam fokus pengembangan, yakni identifikasi kebutuhan bahan baku SPPG, pemetaan potensi produksi pertanian lokal, pengembangan kemitraan petani dengan dapur MBG, pembentukan sistem offtaker, penguatan transportasi dan distribusi hasil panen, serta penyusunan pola pasokan berkelanjutan.
Enam fokus tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya rantai pasok pangan yang lebih terorganisasi. Dengan demikian, hasil pertanian petani tidak hanya bergantung pada pasar konvensional, tetapi juga memiliki peluang untuk terserap melalui kebutuhan rutin dapur MBG.
Bagi Aceh Tengah, langkah ini sekaligus membuka ruang bagi penguatan ekonomi berbasis potensi daerah. Keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok MBG berpotensi menciptakan perputaran ekonomi, memperluas akses pasar, serta mendorong peningkatan nilai produksi pertanian.

MBG Harus Memberikan Dampak Ekonomi Daerah
DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tengah memandang bahwa keberhasilan program MBG perlu ditopang oleh ekosistem pangan yang terintegrasi. Ketersediaan bahan baku berkualitas, kepastian pasokan, transparansi pengadaan, dan distribusi yang efisien menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan program.
Eka Saputra menegaskan bahwa Tani Merdeka Indonesia siap mengambil bagian dalam membangun kemitraan antara sektor pertanian dan penyelenggara program MBG.
Harapannya, sinergi dengan Tim Asistensi BGN tidak berhenti pada kegiatan peninjauan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama nyata yang memberikan ruang dan kepastian pasar bagi petani lokal.
Dengan demikian, program MBG diharapkan tidak hanya menghidangkan makanan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi daerah dan para petaninya.*** (Jasa)


























