Wartatrans.com, JAKARTA – Penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026 resmi ditutup dengan capaian yang memecahkan rekor. Selama lebih dari satu bulan berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, pameran tersebut mencatat sekitar 8,2 juta pengunjung dengan nilai transaksi mencapai Rp8,2 triliun.
Jumlah pengunjung meningkat sekitar 12 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya. Capaian ini dinilai menjadi salah satu indikator tingginya aktivitas ekonomi selama ajang pameran terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta, Rano Karno, mengatakan keberhasilan PRJ 2026 menunjukkan ketahanan ekonomi Jakarta di tengah tantangan ekonomi global.
“Ini mengindikasikan bahwa kekuatan ekonomi Jakarta masih cukup survive di dalam situasi ekonomi seperti ini,” ujar Rano saat menutup PRJ 2026, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta optimistis momentum positif tersebut akan terus berlanjut menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.
Sementara itu, Ketua Umum Panitia Jakarta Fair Kemayoran 2026, Siti Hartati Murdaya, menyebut PRJ kini telah berkembang menjadi wadah strategis yang mempertemukan pelaku UMKM dengan industri nasional maupun internasional. Transformasi itu melanjutkan perjalanan PRJ sejak pertama kali digelar di kawasan Monumen Nasional pada 1968 hingga menjadi pameran multiproduk terbesar di Asia Tenggara.
Meski demikian, capaian transaksi sebesar Rp8,2 triliun belum tentu mencerminkan membaiknya daya beli masyarakat secara menyeluruh.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai tingginya nilai transaksi lebih banyak dipengaruhi oleh terkonsentrasinya belanja masyarakat selama penyelenggaraan pameran.
“Agregasi nilai transaksi setinggi itu lebih didorong oleh konsentrasi belanja kelas menengah ke atas yang menahan konsumsi bulanan mereka demi memanfaatkan diskon besar-besaran di PRJ,” ujar Yusuf.
Ia menambahkan, inflasi juga turut meningkatkan nilai nominal transaksi sehingga besarnya angka penjualan belum tentu diikuti kenaikan volume barang yang terjual. Karena itu, menurutnya, nilai transaksi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator pemulihan konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, penyelenggaraan PRJ tetap memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan melalui efek berganda terhadap berbagai sektor, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner, perdagangan ritel, hingga jasa logistik. Pameran ini juga menyerap ribuan tenaga kerja musiman dan membuka peluang promosi yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan manfaat ekonomi tersebut tidak berhenti setelah pameran usai. Nilai transaksi yang besar akan lebih bermakna apabila mampu mendorong lahirnya kontrak bisnis baru, memperkuat daya saing UMKM, menarik investasi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan demikian, rekor transaksi Rp8,2 triliun layak diapresiasi sebagai keberhasilan penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran 2026. Namun, tanpa peningkatan daya beli masyarakat yang lebih merata, capaian tersebut masih menyisakan pertanyaan: apakah benar mencerminkan kekuatan ekonomi Jakarta, atau sekadar lonjakan konsumsi yang bersifat musiman.***
(Artha Tidar)





























