Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan Transjakarta Laut Disiapkan, 3 Pulau Jadi Terminal Utama Juni 2027 Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20%

Uncategorized

Bahas Pembangunan Giant Sea Wall Jateng, Ini Wawancara Eksklusif dengan Menko AHY

badge-check


 Bahas Pembangunan Giant Sea Wall Jateng, Ini Wawancara Eksklusif dengan Menko AHY Perbesar

 

Wartatrans.com, JATENG – Banyak masyarakat salah menilai kerja Pemerintah mengatasi bencana. Wartawan Wartatrans, wawancara langsung dengan Menko Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait hal tersebut. Berikut hasil wawancaranya;

SW: Selamat siang, Mas Menko …

AHY: Selamat siang, apa kabar ?

SW: Alhamdulillah

AHY: Silahkan. Interview apa ?

SW: Mas Menko di Semarang maka saya tanya progres pembangunan Giant Sea Wall Pantura Jawa Tengah

AHY: Proyek sangat strategis tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall jalan terus.

Ini dikarenakan ada puluhan juta rakyat yang berada di Pesisir Utara atau Pantura Jawa yang setiap saat mengalami ancaman bencana. Selain bertujuan melindungi rakyat, proyek ini juga bertujuan melindungi kawasan industri strategis dan kawasan ekonomi khusus.

SW: Ada alasan lain ?

AHY: Konsep besar pembangunan Giant Sea Wall adalah untuk melindungi kawasan pesisir Pantai Utara secara global dan merupakan bagian dari strategi nasional untuk membangun Indonesia lebih tangguh terhadap ancaman bencana alam seperti banjir rob, banjir bandang, abrasi, serta dampak perubahan iklim.

SW: Apa pesan Presiden ?

AHY: Percepatan pembangunan infrastruktur pesisir adalah perintah langsung Presiden Prabowo Subianto. Untuk Jawa Tengah, area Semarang dan Demak adalah zona prioritas karena tingkat penurunan tanah sudah mencapai 15 – 20 sentimeter per tahun dan banjir rob terjadi semakin intens.

SW: Sudah dengar kesan warga Semarang ?

AHY: Setiap saya turun ke masyarakat, saya mendengar, melihat dan merasakan keluh kesah mereka. Paling update, banyak masyarakat salah menilai kerja pemerintah mengatasi bencana. Waktu Semarang banjir besar bulan November lalu, aktivis lingkungan menuding penyebabnya karena dibangunnya Giant Sea Wall. Mereka menganggap pemerintah tidak mengatasi masalah tapi membuat masalah baru seperti masalah sosial dan ekologis. Ada juga nelayan yang khawatir dampaknya negatif pada mata pencaharian mereka. Ini semua salah kaprah tapi saya memakluminya karena mereka belum tahu detailnya.

SW: Solusinya ?

AHY: Rajin memberi informasi kepada masyarakat bahwa pembangunan tanggul laut raksasa tidak sepenuhnya mengandalkan beton. Pemerintah mengusung konsep hybrid sea wall, yakni kombinasi antara tanggul teknis dan pendekatan alami seperti mangrove. Kombinasi diterapkan menyesuaikan kondisi geografis masing-masing wilayah.

SW: Spesifiknya ?

AHY: Pada kawasan yang mengalami penurunan tanah (land subsidence), dibangun tanggul laut yang memanjang puluhan kilometer dari garis pantai. Untuk daerah dengan kondisi sedang, cukup dilakukan penguatan tanggul pantai untuk mencegah bencana banjir. Sementara untuk kawasan yang masih baik, rehabilitasi mangrove adalah opsi paling efektif dan efisien.

SW: Saya dengar Mas Menko punya cara mengatasi bencana secara murah ?

AHY: Indonesia kini menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan meningkatnya intensitas bencana. Mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar dampak bencana tidak bertambah parah.

Anggaran rehabilitasi biasanya lebih besar dibanding anggaran mengantisipasi bencana. Jangan sampai bencana terjadi dulu, baru berpikir bagaimana mengatasinya. Mencegah dan memitigasi bencana lebih baik dan lebih murah.

SW: Siap, terima kasih informasinya.***

(Slamet Widodo)

NB : Akses wawancara empat mata didapat karena penulis adalah Korlap Tim Media AHY

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Trending di RAGAM