Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

Uncategorized

Bahas Pembangunan Giant Sea Wall Jateng, Ini Wawancara Eksklusif dengan Menko AHY

badge-check


 Bahas Pembangunan Giant Sea Wall Jateng, Ini Wawancara Eksklusif dengan Menko AHY Perbesar

 

Wartatrans.com, JATENG – Banyak masyarakat salah menilai kerja Pemerintah mengatasi bencana. Wartawan Wartatrans, wawancara langsung dengan Menko Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait hal tersebut. Berikut hasil wawancaranya;

SW: Selamat siang, Mas Menko …

AHY: Selamat siang, apa kabar ?

SW: Alhamdulillah

AHY: Silahkan. Interview apa ?

SW: Mas Menko di Semarang maka saya tanya progres pembangunan Giant Sea Wall Pantura Jawa Tengah

AHY: Proyek sangat strategis tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall jalan terus.

Ini dikarenakan ada puluhan juta rakyat yang berada di Pesisir Utara atau Pantura Jawa yang setiap saat mengalami ancaman bencana. Selain bertujuan melindungi rakyat, proyek ini juga bertujuan melindungi kawasan industri strategis dan kawasan ekonomi khusus.

SW: Ada alasan lain ?

AHY: Konsep besar pembangunan Giant Sea Wall adalah untuk melindungi kawasan pesisir Pantai Utara secara global dan merupakan bagian dari strategi nasional untuk membangun Indonesia lebih tangguh terhadap ancaman bencana alam seperti banjir rob, banjir bandang, abrasi, serta dampak perubahan iklim.

SW: Apa pesan Presiden ?

AHY: Percepatan pembangunan infrastruktur pesisir adalah perintah langsung Presiden Prabowo Subianto. Untuk Jawa Tengah, area Semarang dan Demak adalah zona prioritas karena tingkat penurunan tanah sudah mencapai 15 – 20 sentimeter per tahun dan banjir rob terjadi semakin intens.

SW: Sudah dengar kesan warga Semarang ?

AHY: Setiap saya turun ke masyarakat, saya mendengar, melihat dan merasakan keluh kesah mereka. Paling update, banyak masyarakat salah menilai kerja pemerintah mengatasi bencana. Waktu Semarang banjir besar bulan November lalu, aktivis lingkungan menuding penyebabnya karena dibangunnya Giant Sea Wall. Mereka menganggap pemerintah tidak mengatasi masalah tapi membuat masalah baru seperti masalah sosial dan ekologis. Ada juga nelayan yang khawatir dampaknya negatif pada mata pencaharian mereka. Ini semua salah kaprah tapi saya memakluminya karena mereka belum tahu detailnya.

SW: Solusinya ?

AHY: Rajin memberi informasi kepada masyarakat bahwa pembangunan tanggul laut raksasa tidak sepenuhnya mengandalkan beton. Pemerintah mengusung konsep hybrid sea wall, yakni kombinasi antara tanggul teknis dan pendekatan alami seperti mangrove. Kombinasi diterapkan menyesuaikan kondisi geografis masing-masing wilayah.

SW: Spesifiknya ?

AHY: Pada kawasan yang mengalami penurunan tanah (land subsidence), dibangun tanggul laut yang memanjang puluhan kilometer dari garis pantai. Untuk daerah dengan kondisi sedang, cukup dilakukan penguatan tanggul pantai untuk mencegah bencana banjir. Sementara untuk kawasan yang masih baik, rehabilitasi mangrove adalah opsi paling efektif dan efisien.

SW: Saya dengar Mas Menko punya cara mengatasi bencana secara murah ?

AHY: Indonesia kini menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan meningkatnya intensitas bencana. Mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar dampak bencana tidak bertambah parah.

Anggaran rehabilitasi biasanya lebih besar dibanding anggaran mengantisipasi bencana. Jangan sampai bencana terjadi dulu, baru berpikir bagaimana mengatasinya. Mencegah dan memitigasi bencana lebih baik dan lebih murah.

SW: Siap, terima kasih informasinya.***

(Slamet Widodo)

NB : Akses wawancara empat mata didapat karena penulis adalah Korlap Tim Media AHY

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops

16 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Trending di RAGAM