Menu

Mode Gelap
3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

Uncategorized

Catatan Halimah Munawir: Mangga Persahabatan di Kairo

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Mangga Persahabatan di Kairo Perbesar

Wartatrans.com, MESIR — Hubungan antara Indonesia dan Mesir bukan sekadar catatan sejarah diplomatik, melainkan kisah persahabatan yang tumbuh dari kesamaan nilai dan visi kemerdekaan. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Mesir termasuk yang paling awal mengakui kedaulatan Republik Indonesia—secara de facto pada 22 Maret 1946 dan de jure pada 10 Juni 1947. Pengakuan ini menjadi fondasi kuat bagi hubungan bilateral yang hangat hingga kini.

Dalam lanskap sejarah itu, ada kisah kecil namun sarat makna. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menghadiahkan bibit mangga kepada Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Sebuah simbol sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam: persahabatan yang ditanam hari ini, akan berbuah di masa depan.

Puluhan tahun berselang, jejak simbolik itu seakan masih hidup di sudut-sudut kota Kairo. Di kawasan yang dikenal sebagai Rocket Garden, tak jauh dari hiruk pikuk jalanan dan lalu lintas yang nyaris tak pernah sepi, berdiri sebuah restoran populer, Abu Haidar. Tempat ini masyhur dengan shawarma-nya yang khas, namun bukan hanya itu yang menarik perhatian.

Di sisi restoran, terdapat sebuah konter kecil yang menyajikan jus “mangga persahabatan”—sebuah nama yang langsung memantik rasa ingin tahu. Mangga yang diyakini berasal dari garis keturunan bibit hadiah Soekarno kepada Nasser itu kini menjelma menjadi minuman segar yang tidak hanya memuaskan dahaga, tetapi juga menghidupkan kembali memori sejarah.

Pagi itu, suasana belum sepenuhnya siap. Lantai masih dibersihkan, para pekerja masih bersiap membuka layanan. Namun antrean sudah terbentuk. Warga lokal, penduduk dari kawasan perbukitan, hingga wisatawan, rela menunggu bahkan sebelum pintu resmi dibuka. Kepopuleran Abu Haidar tampaknya melampaui sekadar urusan rasa; ia menjadi bagian dari pengalaman kultural.

Dan akhirnya, segelas jus mangga itu sampai di tangan. Segar, manis, dengan sentuhan rasa yang terasa “berbeda”—entah karena varietasnya, atau karena kisah panjang yang menyertainya. Setiap tegukan seolah bukan hanya tentang buah, tetapi tentang sejarah, tentang diplomasi yang bersahaja, dan tentang dua bangsa yang pernah saling menguatkan di masa awal kemerdekaan.

“Mangga persahabatan” itu, pada akhirnya, bukan sekadar minuman. Ia adalah metafora hidup: bahwa hubungan antarbangsa tidak selalu dibangun dari perjanjian resmi semata, tetapi juga dari gestur kecil yang tulus—yang akarnya menembus waktu, dan buahnya dapat dinikmati lintas generasi.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Trending di RAGAM