Menu

Mode Gelap
Meriahkan Hari Kemerdekaan RI, KAI Services Regional 6 Yogyakarta Gelar Fun Walk Menjelang Doa Bersama 21 Tahun Perjanjian Damai, Masjid Raya dibanjiri Rakyat Aceh KAI Wisata Hadirkan Promo HUT RI ke-81, Ada Diskon 17% hingga Kereta Panoramic Presiden GPAB: Jika Data Mentan Tidak Utuh, Amran Harus Minta Maaf kepada Rakyat Aceh Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui 81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Ketika Era Kolusi Memasuki Senja

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Ketika Era Kolusi Memasuki Senja Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejatinya, ketulusan dan kelurusan Presiden Prabowo Subianto dalam membela kepentingan bangsa dan negara tak perlu diragukan. Namun, setiap perubahan tentu menghadirkan pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

Mereka yang selama bertahun-tahun menikmati ruang kolusi—baik di BUMN, kementerian, badan negara, organisasi masyarakat maupun dunia usaha—tentu tidak selalu nyaman ketika tata kelola mulai diarahkan pada transparansi dan keberpihakan kepada kepentingan publik.

Di lapangan, orang-orang yang bekerja lurus dan membawa kepentingan negara tidak jarang justru digencet atau dimusuhi. Dalam dunia usaha pun demikian. Ketika ada ajakan untuk memperkuat produksi dan membawa produk Indonesia masuk pasar, masih ada suara yang menyebutnya terlalu idealis. Sebab, sebagian pelaku usaha telah terlalu lama nyaman menjadi vendor atau kontraktor yang bergantung pada proyek APBN dan APBD.

Tetapi era berganti. Pola lama tidak mungkin selamanya dipertahankan.

Pernyataan Presiden Prabowo mengenai praktik pertambangan ilegal juga layak direnungkan. Jika kegiatan ilegal berlangsung besar-besaran, tentu muncul pertanyaan tentang pengawasan dan penegakan hukum: bagaimana peran aparat, kepolisian, TNI, Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, Bakamla hingga lembaga penegak hukum lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menuduh institusi, melainkan untuk mengingatkan bahwa negara memiliki perangkat yang semestinya bekerja memastikan hukum hadir bagi semua.

Karena itu, wajar jika perubahan menimbulkan resistensi. Mereka yang merasa nyaman dengan sistem lama mungkin berharap perubahan berhenti, bahkan berharap kepemimpinan Prabowo segera berakhir.

Namun ada satu hal yang sering dilupakan: rakyat; Rakyat Indonesia bukan massa yang kehilangan ingatan. Di negeri ini, azan masih berkumandang dari masjid-masjid. Lonceng gereja masih berdentang. Kehidupan kebangsaan terus berjalan dengan keberagaman dan kesadaran bahwa negara harus dikelola untuk kepentingan rakyat.

Maka, jika ada kelompok yang selama ini hidup dari praktik-praktik buruk dan kemudian merasa terancam oleh perubahan, jangan sampai mereka salah membaca keadaan.

Hati nurani rakyat tidaklah bodoh. Rakyat bisa melihat siapa yang bekerja, siapa yang hanya berbicara, dan siapa yang berkepentingan mempertahankan keadaan lama.

Era berubah. Jika benar pesta kolusi dan korupsi sedang memasuki senja, maka yang dibutuhkan bukan perlawanan terhadap perubahan, melainkan keberanian untuk berbenah.

Benar, Pak Prabowo. Negara memang harus dikembalikan kepada kepentingan rakyat.***

Baca Lainnya

Menjelang Doa Bersama 21 Tahun Perjanjian Damai, Masjid Raya dibanjiri Rakyat Aceh

14 Agustus 2026 - 23:42 WIB

Presiden GPAB: Jika Data Mentan Tidak Utuh, Amran Harus Minta Maaf kepada Rakyat Aceh

14 Agustus 2026 - 22:44 WIB

Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui

14 Agustus 2026 - 22:06 WIB

KKP dan Turki Perkuat Akses Ekspor, Tujuh Pengolah Ikan Jalani Inspeksi

14 Agustus 2026 - 20:42 WIB

Gak jadi Satu Rupiah! Tarif Transportasi Umum DKI Jakarta Rp8 pada HUT ke-81 RI

14 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Doorprize Umrah bagi Pelanggan Setia FIFGROUP di Hajatan Cabang Syariah 2026

14 Agustus 2026 - 10:32 WIB

Semarak HUT RI, Pelindo Group Wilayah Kerja Makassar Perkuat Kolaborasi

14 Agustus 2026 - 10:28 WIB

Hanya Rp100 Ribu, DAMRI Hubungkan Grand Metropolitan Bekasi dengan Bandara Soekarno-Hatta

14 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Pelindo Perkuat Ekosistem Vendor Regional 4, Gelar Sosialisasi Kebijakan Pengadaan Tahun 2026

14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

Anggaran Perumahan 2027 Tertekan, Kementerian PKP Ajukan Anggaran Rp106 Triliun

13 Agustus 2026 - 21:22 WIB

Trending di EKOBIS