Menu

Mode Gelap
Sambut Liburan Sekolah, ASDP Perkuat Layanan dan Keselamatan Penyeberangan Holopis, Semangat Kebersamaan dalam Ragam Ekspresi Seni Rupa Catatan Iwan Piliang: Saatnya Animator Jadi Pemilik UDD PMI Kota Langsa Ikut Memperingati (HDDS) Hari Donor Darah Sedunia CFD Kota Langsa Kian Berwarna, Budaya, Kesehatan dan Aksi Kemanusiaan Menyatu di Lapangan Merdeka Semangat Gotong Royong Warga Desa Lae Oram Perbaiki Jalan Berlubang Secara Swadaya

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Saatnya Animator Jadi Pemilik

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Saatnya Animator Jadi Pemilik Perbesar

Wartatrans.com, BALI — Dua pekan lalu, saya berkesempatan berdialog bersama RRI Pro 4 Budaya Bali mengenai gagasan Venture Riil untuk Industri Kreatif, sebuah konsep yang telah saya suarakan secara konsisten sejak 1994. Gagasan ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan besar terhadap masa depan para pelaku industri kreatif Indonesia, khususnya di sektor animasi.

Selama lebih dari tiga dekade, industri kreatif sering dipandang sebagai sektor yang kaya kreativitas, namun miskin dalam kepemilikan aset dan nilai ekonomi jangka panjang. Para kreator menghasilkan karya, tetapi keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak lain yang menguasai modal, distribusi, dan hak kepemilikan.

Konsep Venture Riil hadir sebagai koridor berpikir sekaligus model pengembangan yang mendorong insan kreatif menjadi pemilik usaha dan aset, bukan sekadar pekerja kreatif. Dalam industri animasi misalnya, tujuan akhirnya bukan hanya menciptakan film atau serial yang baik, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang membuat para animator memperoleh kesejahteraan yang layak.

Kita sering mendengar kisah para animator Jepang yang berhasil membangun kekayaan dari karya-karya mereka. Bahkan ada yang mampu membeli pulau atau memiliki berbagai aset bernilai tinggi berkat keberhasilan industri animasi yang mereka bangun. Keberhasilan tersebut bukan semata karena kreativitas, melainkan karena adanya sistem yang memungkinkan para kreator memiliki bagian dari nilai ekonomi yang tercipta.

Bandingkan dengan kondisi yang terjadi di Bali saat pandemi Covid-19. Banyak animator yang sebelumnya bekerja pada berbagai proyek internasional mendadak kehilangan pekerjaan. Sebagian bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Membeli beras lima kilogram saja menjadi perjuangan yang berat. Situasi ini menunjukkan bahwa industri kreatif kita masih rapuh karena para pelakunya belum memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

Padahal Bali memiliki sumber daya kreatif yang luar biasa. Talenta-talenta muda di bidang animasi, desain, film, dan seni digital terus bermunculan. Namun tanpa model pembiayaan dan kepemilikan yang tepat, kreativitas tersebut hanya akan menjadi komoditas yang dinikmati pihak lain.

Melalui Venture Riil, saya mendorong lahirnya skema investasi yang berorientasi pada aset nyata, kepemilikan intelektual, dan keberlanjutan usaha. Animator harus memiliki saham dalam proyek yang mereka bangun. Studio animasi harus mampu berkembang menjadi perusahaan yang memiliki karakter, cerita, dan kekayaan intelektual sendiri. Dengan demikian, keuntungan tidak berhenti pada honor produksi, tetapi terus mengalir melalui lisensi, distribusi, merchandise, dan berbagai turunan bisnis lainnya.

Masa depan industri kreatif Indonesia tidak cukup dibangun dengan slogan ekonomi kreatif semata. Diperlukan perubahan paradigma: dari pekerja menjadi pemilik, dari proyek menjadi aset, dari kreativitas sesaat menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Jika Jepang mampu menjadikan animasi sebagai salah satu pilar ekonominya, Bali dan Indonesia pun memiliki peluang yang sama. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan ekosistem yang memungkinkan para kreator menikmati hasil dari kreativitas mereka secara adil dan berkelanjutan.

Inilah esensi Venture Riil: membangun industri kreatif yang tidak hanya melahirkan karya-karya hebat, tetapi juga melahirkan pemilik-pemilik baru yang kuat secara ekonomi. Saatnya animator menjadi pemilik.***

Bali – 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Holopis, Semangat Kebersamaan dalam Ragam Ekspresi Seni Rupa

14 Juni 2026 - 17:15 WIB

UDD PMI Kota Langsa Ikut Memperingati (HDDS) Hari Donor Darah Sedunia

14 Juni 2026 - 15:35 WIB

CFD Kota Langsa Kian Berwarna, Budaya, Kesehatan dan Aksi Kemanusiaan Menyatu di Lapangan Merdeka

14 Juni 2026 - 15:06 WIB

Semangat Gotong Royong Warga Desa Lae Oram Perbaiki Jalan Berlubang Secara Swadaya

14 Juni 2026 - 12:51 WIB

Roy Romly, Konselor dan Pegiat Sosial Siap Luncurkan Anthem Filantropi untuk Para Pejuang Kemanusiaan

14 Juni 2026 - 05:30 WIB

SP2HP Terbit, Kasus Dugaan Pengeroyokan Suriati Naik Penyidikan; Keluarga Desak Polisi Usut Tuntas dan Tangkap Seluruh Pelaku

14 Juni 2026 - 00:18 WIB

Depok Main Tegas: 52 SMP Swasta Gratis, Tapi Jangan Cuma Jualan Angka

13 Juni 2026 - 19:53 WIB

Bedah Novel di Distrik Gintung Bahas Cinta, Perjuangan, dan Ruang Literasi

13 Juni 2026 - 19:42 WIB

PT Bejira Cipta Media Gelar Berbagi dan Doa Bersama Anak Yatim di Pesantren Tahfiz Ruhama

13 Juni 2026 - 19:29 WIB

FIFGROUP Ajak Karyawan Trekking, Kumpulkan 240 Kg Sampah dan Resmikan 4 Toilet Umum

13 Juni 2026 - 18:32 WIB

Trending di NASIONAL