Wartatrans.com, PEMALANG — Peringatan Hari Purbakala ke-113 di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Ahad, 14 Juni 2026, menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian warisan budaya bangsa. Kegiatan yang digelar oleh Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur (MCB) itu melibatkan warga Dusun Ngaran 1 yang tergabung dalam komunitas Jogo Boyo.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Sabtu, 13 Juni 2026, dengan agenda utama berupa aksi bersih-bersih kawasan cagar budaya dan napak tilas sejarah masyarakat sekitar Candi Borobudur. Pada Minggu pagi, sekitar pukul 07.30 WIB, warga berangkat bersama dari serambi Masjid Miftahul Jannah menuju kawasan candi melalui Pintu 7.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap situs warisan dunia tersebut, seluruh peserta mengenakan sandal upanat yang dirancang khusus untuk mengurangi gesekan pada permukaan batu candi. Mereka kemudian berjalan menuju pelataran tertinggi Borobudur, yakni Arupadhatu.
Salah satu agenda utama dalam peringatan tahun ini adalah kegiatan bertajuk “Tilik Ari-Ari”, sebuah napak tilas yang mengingatkan kembali proses relokasi warga yang berlangsung pada periode 1973–1983. Saat itu, sejumlah masyarakat yang bermukim di sekitar lereng Candi Borobudur dipindahkan guna mendukung proyek pemugaran besar-besaran di bawah pengawasan UNESCO serta pengembangan kawasan wisata budaya.
Dalam kegiatan tersebut, warga senior Dusun Ngaran 1, Mak Suratinah, membagikan kisah tentang tanah leluhurnya yang kini menjadi bagian dari taman dan kawasan pengembangan Candi Borobudur. Kesaksian itu menjadi pengingat bahwa sejarah pelestarian Borobudur tidak hanya berkaitan dengan bangunan candi, tetapi juga kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama situs tersebut.

Yoyo (paling kiri) wartawan Wartatrans.com yang ikut acara Hari Purbakala ke 113 i Candi Borobudur Magelang.
Selain napak tilas sejarah, panitia juga menggelar permainan edukatif bagi anak-anak serta kegiatan pengenalan lingkungan cagar budaya di Selasar Panggung Aksobya. Program itu ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan budaya sejak usia dini.
Kegiatan ditutup pada pukul 11.00 WIB dengan seruan bersama, “Selamat Hari Purbakala ke-113”, yang menggema di kawasan candi. Seruan tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk merawat peninggalan sejarah sebagai bagian dari identitas bangsa.
Koordinator kegiatan menilai peringatan Hari Purbakala tahun ini menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya tidak dapat hanya mengandalkan lembaga pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar nilai-nilai sejarah tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan seperti “Tilik Ari-Ari”, hubungan antara pengelola cagar budaya dan masyarakat lokal diharapkan semakin kuat. Di tengah arus modernisasi, upaya menjaga memori kolektif dan jejak sejarah dinilai menjadi bagian penting dalam merawat jati diri bangsa Indonesia.*** (Yoyo)

























