Menu ✖

Mode Gelap
Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan Transjakarta Laut Disiapkan, 3 Pulau Jadi Terminal Utama Juni 2027 Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah

NASIONAL

Indeks Kepuasan Kepuasan Jemaah Haji 2026-91,45 Poin

badge-check


 Menhaj dan Kepala BPS Perbesar

Menhaj dan Kepala BPS

Wartatrans.com, JAKARTA –  Penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencatat rekor kepuasan jemaahnya.

Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJI) tahun ini mencapai 91,45 poin, naik dari 88,46 pada tahun sebelumnya dan menjadi skor tertinggi dalam deretan pengukuran sejak 2019.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adiningar Widyasanti mengatakan, kenaikan tersebut menunjukkan perbaikan persepsi jemaah terhadap layanan haji.

“Untuk indeks IKJI luar negeri, tentunya di tahun 2026 ini skornya mengalami peningkatan yang luar biasa dari 88,46 tahun lalu menjadi 91,45,” kata Amalia dalam rilis hasil survei BPS, Kamis (6/8/2026).

Namun, rekor itu belum memberikan gambaran lengkap, tentang kualitas setiap mata rantai pelayanan. Kepuasan agregat dapat menunjukkan bahwa mayoritas jemaah merasa puas, tetapi tidak serta-merta menunjukkan layanan mana yang masih bermasalah, atau membutuhkan pembenahan paling cepat.

BPS pada 2026 sekaligus memperkenalkan Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI). Dengan metode baru tersebut, skor keseluruhan berada di 83,28 poin.

Layanan dalam negeri memeroleh 83,85, sedangkan layanan luar negeri 82,71.

Amalia mengatakan, ukuran baru tersebut memang memberikan perspektif berbeda.

“Berdasarkan metode baru, IKLHI luar negeri tahun 2026 mencapai 82,71 poin. Nilai IKLHI dalam negeri tahun 2026, mencapai 83,85. Dan indeks IKLHI secara keseluruhan mencapai 83,28 atau dalam indikator memuaskan,” ujarnya.

Dua angka tersebut tidak dapat dibandingkan sebagai kenaikan atau penurunan karena metodologinya berbeda. IKJI tetap dihitung dengan metode lama untuk menjaga kesinambungan deret waktu, sedangkan IKLHI digunakan untuk melihat kualitas layanan dengan pendekatan baru.

Justru perubahan tersebut membuat pertanyaan evaluasi menjadi lebih penting.

Bila IKJI memberikan gambaran kepuasan yang sangat tinggi, pemerintah tetap perlu mengetahui bagian mana dari pelayanan yang belum mencapai tingkat yang sama.

Pengalaman penyelenggaraan 2025 menunjukkan bahwa variasi itu nyata. Di tengah indeks nasional 88,46, misalnya, layanan transportasi tertentu memperoleh penilaian tinggi, sementara layanan akomodasi tenda dan transportasi Arafah, Muzdalifa dan Mina (Armuzna), mendapat skor lebih rendah.

Perbedaan semacam ini menunjukkan bahwa angka nasional tidak selalu menggambarkan pengalaman jemaah pada setiap titik pelayanan.

Karena itu, keberhasilan 2026 seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan skor 91,45.

Pemerintah perlu menggunakan hasil survei untuk menemukan penyebab skor rendah, menentukan lokasi atau layanan yang harus diperbaiki, kemudian mengukur apakah perbaikannya benar-benar menghasilkan perubahan pada musim haji berikutnya.

Menteri Haji dan Umrah Muhammad Irfan Yusuf menyebutkan, pemerintah memang memasang target perbaikan berkelanjutan.

“Kita akan upayakan tahun ini, 2027 harus lebih baik dari 2026,” kata Irfan.

Pernyataan itu membuat rekor 2026 sekaligus menjadi tantangan. Bila 91,45 dipandang sebagai capaian yang harus dipertahankan atau ditingkatkan, maka pemerintah perlu menunjukkan apa yang diperbaiki setelah survei, bukan hanya berapa tinggi skor yang dihasilkan survei.

Pada akhirnya, nilai penting indeks kepuasan bukan sekadar predikat sangat memuaskan.

Indeks tersebut harus mampu menjadi alat diagnosis: menunjukkan layanan yang sudah kuat, mengungkap titik yang masih lemah, dan menjadi dasar perbaikan yang dapat diukur.

Rekor kepuasan jemaah haji 2026 dengan demikian merupakan kabar baik, tetapi bukan garis akhir evaluasi.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan angka tinggi tersebut diterjemahkan menjadi layanan yang semakin konsisten di seluruh rangkaian perjalanan jemaah. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

1 Oktober 2026 - 09:49 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

MTI Ingatkan 3 Momentum September Jangan Hanya sebagai Seremoni Keselamatan

30 September 2026 - 10:21 WIB

Pelindo Solusi Digital dan Surveyor Indonesia Perkuat Kolaborasi Digital untuk Ekosistem Maritim

29 September 2026 - 23:07 WIB

Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

29 September 2026 - 23:00 WIB

DAMRI Hadirkan Promo Early Booking, Pesan Tiket Lebih Awal Makin Hemat

29 September 2026 - 22:50 WIB

FIFGROUP Raih Penghargaan sebagai Trusted & Populer Brand 2026

29 September 2026 - 22:43 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Trending di NASIONAL