Menu

Mode Gelap
KSR UIN Sultanah Nahrasiyah dan BFLF Lhokseumawe Tunjukkan Peran Kemanusiaan di Lilawangsa Run 2026 Jurnalis Hery Firmansyah Pergi, Kenangan Persahabatan yang Tak Pernah Berjarak Tetap Tinggal Perumnas Bangun Rusun Subsidi Kemayoran 609 Unit BGN Refocusing Penerima MBG, Sekolah Swasta Elite Mulai Dicoret KOKKANG Gelar Pameran “Tawa Merdeka” di Warung Tuman BSD, Kritik Sosial Dikemas Lewat Humor 281 TPQ Desak Perwali Literasi Al-Qur’an Makassar Segera Terbit

NASIONAL

Indeks Kepuasan Kepuasan Jemaah Haji 2026-91,45 Poin

badge-check


 Menhaj dan Kepala BPS Perbesar

Menhaj dan Kepala BPS

Wartatrans.com, JAKARTA –  Penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencatat rekor kepuasan jemaahnya.

Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJI) tahun ini mencapai 91,45 poin, naik dari 88,46 pada tahun sebelumnya dan menjadi skor tertinggi dalam deretan pengukuran sejak 2019.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adiningar Widyasanti mengatakan, kenaikan tersebut menunjukkan perbaikan persepsi jemaah terhadap layanan haji.

“Untuk indeks IKJI luar negeri, tentunya di tahun 2026 ini skornya mengalami peningkatan yang luar biasa dari 88,46 tahun lalu menjadi 91,45,” kata Amalia dalam rilis hasil survei BPS, Kamis (6/8/2026).

Namun, rekor itu belum memberikan gambaran lengkap, tentang kualitas setiap mata rantai pelayanan. Kepuasan agregat dapat menunjukkan bahwa mayoritas jemaah merasa puas, tetapi tidak serta-merta menunjukkan layanan mana yang masih bermasalah, atau membutuhkan pembenahan paling cepat.

BPS pada 2026 sekaligus memperkenalkan Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI). Dengan metode baru tersebut, skor keseluruhan berada di 83,28 poin.

Layanan dalam negeri memeroleh 83,85, sedangkan layanan luar negeri 82,71.

Amalia mengatakan, ukuran baru tersebut memang memberikan perspektif berbeda.

“Berdasarkan metode baru, IKLHI luar negeri tahun 2026 mencapai 82,71 poin. Nilai IKLHI dalam negeri tahun 2026, mencapai 83,85. Dan indeks IKLHI secara keseluruhan mencapai 83,28 atau dalam indikator memuaskan,” ujarnya.

Dua angka tersebut tidak dapat dibandingkan sebagai kenaikan atau penurunan karena metodologinya berbeda. IKJI tetap dihitung dengan metode lama untuk menjaga kesinambungan deret waktu, sedangkan IKLHI digunakan untuk melihat kualitas layanan dengan pendekatan baru.

Justru perubahan tersebut membuat pertanyaan evaluasi menjadi lebih penting.

Bila IKJI memberikan gambaran kepuasan yang sangat tinggi, pemerintah tetap perlu mengetahui bagian mana dari pelayanan yang belum mencapai tingkat yang sama.

Pengalaman penyelenggaraan 2025 menunjukkan bahwa variasi itu nyata. Di tengah indeks nasional 88,46, misalnya, layanan transportasi tertentu memperoleh penilaian tinggi, sementara layanan akomodasi tenda dan transportasi Arafah, Muzdalifa dan Mina (Armuzna), mendapat skor lebih rendah.

Perbedaan semacam ini menunjukkan bahwa angka nasional tidak selalu menggambarkan pengalaman jemaah pada setiap titik pelayanan.

Karena itu, keberhasilan 2026 seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan skor 91,45.

Pemerintah perlu menggunakan hasil survei untuk menemukan penyebab skor rendah, menentukan lokasi atau layanan yang harus diperbaiki, kemudian mengukur apakah perbaikannya benar-benar menghasilkan perubahan pada musim haji berikutnya.

Menteri Haji dan Umrah Muhammad Irfan Yusuf menyebutkan, pemerintah memang memasang target perbaikan berkelanjutan.

“Kita akan upayakan tahun ini, 2027 harus lebih baik dari 2026,” kata Irfan.

Pernyataan itu membuat rekor 2026 sekaligus menjadi tantangan. Bila 91,45 dipandang sebagai capaian yang harus dipertahankan atau ditingkatkan, maka pemerintah perlu menunjukkan apa yang diperbaiki setelah survei, bukan hanya berapa tinggi skor yang dihasilkan survei.

Pada akhirnya, nilai penting indeks kepuasan bukan sekadar predikat sangat memuaskan.

Indeks tersebut harus mampu menjadi alat diagnosis: menunjukkan layanan yang sudah kuat, mengungkap titik yang masih lemah, dan menjadi dasar perbaikan yang dapat diukur.

Rekor kepuasan jemaah haji 2026 dengan demikian merupakan kabar baik, tetapi bukan garis akhir evaluasi.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan angka tinggi tersebut diterjemahkan menjadi layanan yang semakin konsisten di seluruh rangkaian perjalanan jemaah. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir, TTL Raih Penghargaan Gold Program TJSL & CSR Award 2026

8 Agustus 2026 - 08:38 WIB

GEMBIRA dan KUAT Jadi Bukti Komitmen IPCC, Raih Penghargaan TJSL 2026

7 Agustus 2026 - 23:18 WIB

Komitmen Perkuat Tata Kelola dan Kepatuhan Hukum, IPCM Teken Kerja Sama dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara

7 Agustus 2026 - 23:08 WIB

KKP Perkuat Pengawasan dan Ketertelusuran Perikanan Tuna, 87 Kapal Pelanggar Ditindak

7 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Sosialisasi Perjanjian Kerja Bersama, Pelindo Perkuat Harmoni Hubungan Industrial

6 Agustus 2026 - 22:26 WIB

Perkuat Mitigasi Risiko, IPC TPK Resmi Perpanjang Sinergi Hukum Bersama Kejari Jakut

6 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Semarakkan HUT Ke-81 RI, DAMRI Hadirkan Diskon 45% bagi Pelanggan Kelahiran Agustus

5 Agustus 2026 - 23:39 WIB

Pelindo Ajak Shipping Line Bangun Jaringan Logistik Terintegrasi

5 Agustus 2026 - 10:29 WIB

Perkuat Arah Strategis Perusahaan, Pelindo Sinergi Lokaseva Gelar Town Hall Meeting 2026

5 Agustus 2026 - 10:24 WIB

Perkuat Kiprah Pereli Perempuan Indonesia, PRIVE Health Team Kembali Dukung LodySasty di AXCR 2026 di Thailand

5 Agustus 2026 - 09:50 WIB

Trending di NASIONAL