Menu

Mode Gelap
Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

Uncategorized

Jejak Cahaya dari Empang: Masjid an-Nur dan Warisan Dakwah Habib Abdullah

badge-check


 Jejak Cahaya dari Empang: Masjid an-Nur dan Warisan Dakwah Habib Abdullah Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Menjelang magrib, suasana di Kampung Empang, Bogor Selatan, perlahan berubah hening. Di sela desir angin dan langkah warga yang bergegas menuju masjid, lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai terdengar. Seusai salat, dzikir bergema—Ratib al-Haddad dan Ratib al-Attas—dibaca bersama, berulang, khusyuk. Tradisi ini telah hidup lebih dari seabad, diwariskan dari seorang alim pendatang dari Hadramaut: Habib Abdullah.

Ia tidak datang membawa kekuasaan, apalagi harta. Yang ia bawa adalah kebiasaan—ritme spiritual masyarakat kampung halamannya di Hadramaut—yang perlahan ia tanamkan di tanah Pasundan. Membaca Al-Qur’an dan berzikir selepas magrib menjadi jalan sunyi dakwahnya: lembut, konsisten, dan mengakar.

Untuk melengkapi perjuangan itu, Habib Abdullah mendirikan sebuah masjid pada 1828 M (1318 H), tak jauh dari rumahnya. Masjid itu diberi nama Masjid an-Nur—cahaya. Masyarakat lebih akrab menyebutnya Masjid Empang Bogor. Hingga kini, bangunan itu berdiri di Jalan Lolongok, RT 02 RW 04, Empang, Bogor Selatan. Ia diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Bogor.

Bentuk dan spirit masjid ini konon terinspirasi dari masjid bernama serupa di Tarim, Hadramaut, kota ilmu tempat Habib Abdullah menuntut pengetahuan di masa mudanya. Tarim dikenal sebagai pusat ulama dan tradisi keilmuan Islam. Dari sanalah, cahaya itu menyeberang samudra, berlabuh di Empang.

Masjid an-Nur bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat pengajian, ruang perjumpaan batin, sekaligus simpul sosial masyarakat. Dari masjid ini, majelis taklim tumbuh dan bertahan lintas zaman, menjadi saksi pergantian generasi dan perubahan kota.

Habib Abdullah wafat pada Rabu, awal Muharam 1352 H, bertepatan dengan 26 April 1933, dalam usia 86 tahun. Ia dimakamkan di samping kompleks Masjid an-Nur—seolah tak pernah benar-benar meninggalkan ruang dakwah yang ia bangun dengan sabar.

Sepeninggalnya, majelis taklim tidak berhenti. Tongkat estafet diteruskan oleh sahabat sekaligus muridnya, Habib Alwi bin Thohir al-Haddad. Dari pengajian itulah lahir Majelis Taklim Masjid an-Nur Keramat Empang, yang kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Habib Abdullah bin Zein bin Abdullah al-Attas.

Kepemimpinan itu kembali berpindah setelah Habib Abdullah bin Zein wafat. Kini, majelis diasuh oleh Habib Abdullah bin Husein al-Attas, putra Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin al-Attas—penerus generasi ketiga dari garis cucu, setelah Habib Abdul Qodir bin Muhsin dan Habib Abdullah bin Zein al-Attas.

Waktu boleh bergerak, kota boleh berubah. Namun setiap magrib di Empang, dzikir itu tetap hidup. Masjid an-Nur terus memantulkan cahaya—bukan hanya dari lampu-lampu tua di serambinya, melainkan dari tradisi yang dirawat, doa yang dilanggengkan, dan jejak seorang ulama yang memilih berdakwah dengan keteladanan.

Cahaya itu, rupanya, masih setia menyala.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Trending di RAGAM