Menu ✖

Mode Gelap
ASDP Gerak Cepat Tangani Tenggelamnya KMP Batumandi Usai Terbakar Kemenpar: Penerbangan Shenzhen–Jakarta Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Tiongkok Dua Tahun Prabowo-Gibran, KKP Perkuat Konservasi Laut dan Pengawasan IUU Fishing KAI Angkut 50,75 Juta Ton Barang hingga September 2026, Angkutan Nonbatu Bara Tumbuh Hemat Biaya hingga Tekan Polusi, Commuter Line Jabodetabek Layani 349 Juta Pengguna Menperin Lantik Pengurus Pusat Iperindo Periode 2026–2030

PERON

KAI Angkut 50,75 Juta Ton Barang hingga September 2026, Angkutan Nonbatu Bara Tumbuh

badge-check


 KAI Angkut 50,75 Juta Ton Barang hingga September 2026, Angkutan Nonbatu Bara Tumbuh Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Sebuah pabrik membutuhkan pasokan bahan baku sebelum memulai produksi. Setelah barang selesai dibuat, perjalanan berikutnya berlanjut menuju gudang, pusat distribusi, hingga pasar. Proses tersebut berlangsung setiap hari di berbagai wilayah Indonesia dan melibatkan banyak pelaku usaha.

Kelancaran distribusi menjadi salah satu hal yang menentukan bagaimana kegiatan industri dan perdagangan dapat berjalan sesuai kebutuhan.

Perhatian terhadap rantai pasok semakin relevan ketika perdagangan dunia terus berubah. Dalam proyeksi Oktober 2026, World Trade Organization (WTO) memperkirakan volume perdagangan barang global tumbuh 3,9 persen sepanjang 2026. Perubahan pola perdagangan internasional, ketidakpastian geopolitik, serta penyesuaian kebutuhan industri membuat konektivitas logistik menjadi perhatian bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun. Sektor transportasi dan pergudangan juga mencatat pertumbuhan 5,65 persen pada periode tersebut. Perkembangan ini menjadi konteks penting bagi penguatan jaringan distribusi yang menghubungkan kawasan produksi, pusat perdagangan, dan berbagai wilayah konsumsi.

Dalam kegiatan logistik nasional, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pengangkutan 50.756.132 ton barang sepanjang Januari–September 2026. Volume tersebut terdiri atas 41.607.561 ton batu bara dan 9.148.571 ton komoditas nonbatu bara. Angkutan nonbatu bara meningkat 2,65 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 8.912.566 ton, atau bertambah 236.005 ton.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kebutuhan angkutan barang berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang berlangsung di berbagai daerah. Mulai dari pengiriman bahan baku industri, hasil produksi, hingga komoditas yang digunakan dalam aktivitas perdagangan dan kebutuhan masyarakat.

“Setiap komoditas mempunyai perjalanan yang berbeda. Ada barang yang dibutuhkan untuk menjaga kegiatan pabrik, ada hasil produksi yang harus dikirim ke pusat distribusi, dan ada kebutuhan masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan. KAI melayani bagian dari perjalanan tersebut melalui jaringan kereta api yang terhubung dengan berbagai kegiatan ekonomi,” ujar Anne.

Komposisi angkutan barang KAI memperlihatkan besarnya kebutuhan pengiriman lintas sektor. Komoditas nonbatu bara menyumbang 18,02 persen dari total volume angkutan barang. Pada kelompok tersebut, angkutan petikemas mencapai 4.438.999 ton, setara 48,52 persen dari keseluruhan nonbatu bara, atau meningkat 19,57 persen dibandingkan periode Januari–September 2025.

Selain petikemas, angkutan barang KAI melayani berbagai komoditas seperti bahan bakar minyak, semen dan klinker, hasil perkebunan, pupuk, serta barang retail. Setiap jenis barang memiliki kebutuhan pengiriman yang berbeda, baik dari sisi volume, lokasi tujuan, maupun fasilitas penanganannya. Keragaman tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan logistik yang mengikuti kebutuhan pelanggan industri dan perdagangan.

Menurut Anne, salah satu tantangan distribusi barang adalah keterhubungan antartahapan perjalanan. Barang yang diangkut menggunakan kereta api tetap membutuhkan dukungan terminal, kawasan pergudangan, dan transportasi lanjutan untuk mencapai penerima. Karena itu, pengembangan layanan logistik berbasis rel perlu berjalan bersama kerja sama antarpelaku usaha dan pengelola infrastruktur.

“Bagi pelaku usaha, kepastian distribusi penting untuk merencanakan produksi dan pengiriman barang. Kereta api memiliki kemampuan mengangkut muatan besar dalam satu rangkaian, sementara transportasi lanjutan membantu menjangkau lokasi di luar jaringan rel. Keterhubungan tersebut membuka pilihan bagi industri dalam mengatur rantai pasoknya,” jelas Anne.

Dalam jangka panjang, pengembangan infrastruktur logistik juga berkaitan dengan efisiensi biaya distribusi dan pemanfaatan energi. Penggunaan kereta api untuk pengiriman berkapasitas besar dapat menjadi salah satu pilihan dalam merancang jaringan angkutan yang lebih efisien, bergantung pada jarak, jenis komoditas, kapasitas muatan, dan kondisi distribusi di masing-masing koridor. Manfaatnya semakin relevan ketika pelaku usaha perlu mempertimbangkan produktivitas sekaligus dampak lingkungan.

“Perekonomian bergerak melalui banyak kegiatan yang saling terhubung, dari produksi sampai barang digunakan masyarakat. KAI terus mengembangkan kerja sama logistik agar layanan berbasis rel dapat semakin sesuai dengan kebutuhan industri dan perdagangan. Kami berharap penguatan konektivitas ini memberi lebih banyak pilihan distribusi bagi pelaku usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” tutup Anne.(fahmi)

Baca Lainnya

Hemat Biaya hingga Tekan Polusi, Commuter Line Jabodetabek Layani 349 Juta Pengguna

22 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Menembus Bukit Sejak Zaman Kolonial, Ini 10 Terowongan Kereta Api Tertua

22 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Hingga September, Penumpang Transjakarta-MRT-LRT Jakarta Tembus 368,4 Juta

22 Oktober 2026 - 07:39 WIB

KAI Layani 394 Juta Pelanggan, Integrasi Kereta dan Transportasi Kota Makin Luas

22 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Kereta Api Terhubung dengan LRT, BRT hingga Bandara, Ini Data Pelanggan KAI Group

21 Oktober 2026 - 23:26 WIB

Sebaran Angkutan Barang KAI di Jawa dan Sumatra Tembus 9,15 Juta Ton

21 Oktober 2026 - 11:19 WIB

3 Tahun Beroperasi, Whoosh Kini Sepenuhnya Ditangani SDM Indonesia melalui Keberhasilan Transfer Pengetahuan

21 Oktober 2026 - 11:16 WIB

KAI Services Buka Pendaftaran Pelatihan Satpam Gada Pratama hingga 25 Oktober 2026

21 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tarif Terjangkau, 14,16 Juta Pelanggan Manfaatkan KA PSO KAI hingga September 2026

20 Oktober 2026 - 18:10 WIB

KAI Divre III Palembang Amankan 52 Barang Tertinggal, Nilainya Tembus Rp133 Juta

20 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Trending di PERON