Menu ✖

Mode Gelap
Pertamina Geothermal Energy Optimalkan Pengembangan Panas Bumi,  Intensifkan Pengeboran di Sejumlah Wilayah Operasional Dihadiri Lebih Dari 157 Ribu Penonton, DAMRI Dukung Mobilitas Penonton Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 KAI Services Perkuat Kompetensi Petugas Keamanan untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan Krisis Air Bersih Ganggu Pelayanan RSUD Fakfak, Jam Besuk Pasien Dihentikan Sementara Pemerintah Bentuk Satgas Pemberantasan Penyelundupan Benih Lobster KAI Raih Dua Penghargaan CX100 2026, Peringkat ke-7 BUMN Terbaik dalam Pengalaman Pelanggan

EKOBIS

Kebun Induk Kopi Arabika Gayo Akhirnya Dimulai, Aceh Tengah Siapkan Benteng Hadapi Ancaman Pasar Eropa dan Krisis Lingkungan

badge-check


 Kebun Induk Kopi Arabika Gayo Akhirnya Dimulai, Aceh Tengah Siapkan Benteng Hadapi Ancaman Pasar Eropa dan Krisis Lingkungan Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah resmi memulai pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Meurebo.

Program ini dinilai menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan masa depan Kopi Arabika Gayo yang kini menghadapi ancaman serius, mulai dari perubahan iklim, penurunan produktivitas hingga semakin ketatnya aturan ekspor ke pasar Eropa.

Kick-off program ditandai melalui kegiatan diseminasi bertajuk “Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo sebagai Fondasi Ketahanan Ekologis dan Ekonomi di Hulu DAS Meurebo” yang digelar oleh Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LIPGA) bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Gayo Forest Natural Park, Sabtu (27/6/2026).

Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Ir. Mursyid, menegaskan pembangunan kebun induk bukan sekadar program pertanian, melainkan upaya menjaga kedaulatan Kopi Arabika Gayo agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

“Kita harus mampu memenuhi permintaan pasar dunia. Yang lebih penting adalah menjaga agar generasi muda tetap terlibat merawat kawasan hulu. Jangan sampai Kopi Arabika Gayo justru dikuasai pihak luar karena kita tertinggal dalam penguasaan ilmu dan teknologi,” ujarnya.

Ketua Koperasi Baburrayan, Riduan Husen, menyebut pembangunan kebun induk sudah menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, pasar Eropa kini menerapkan standar yang semakin ketat, terutama terkait batas residu glifosat dan ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan produk pertanian bebas dari praktik deforestasi.

“Jika kita tidak siap memenuhi standar internasional, maka daya saing Kopi Arabika Gayo bisa terancam di pasar ekspor,” kata Riduan.

Di sisi lain, penggiat sejarah kopi, Zulfikar Ahmad, mengungkapkan bahwa produktivitas Kopi Arabika Gayo pada masa kolonial Belanda pernah mencapai 2,7 ton per hektare. Namun angka tersebut terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Ia menilai penurunan produktivitas dan ancaman perubahan iklim menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan pelestarian plasma nutfah melalui pembentukan kebun induk.

“Kebun induk menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas genetik Kopi Arabika Gayo agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” katanya.

Gagasan pembangunan kebun induk sebenarnya telah dirancang sejak tahun 2010. Rencananya, kebun induk akan dibangun di atas lahan seluas 30 hektare dalam kawasan Perhutanan Sosial seluas 450 hektare.

Sekitar 200 hektare di antaranya ditetapkan sebagai zona lindung untuk menjaga fungsi ekologis kawasan.

Sementara itu, WALHI Aceh mengingatkan bahwa ancaman terhadap keberlanjutan Kopi Arabika Gayo tidak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga ekspansi aktivitas pertambangan di dataran tinggi Gayo.

“Jika kawasan hulu dan daerah tangkapan air rusak akibat aktivitas tambang, maka masa depan Kopi Arabika Gayo juga ikut terancam,” tegas Sadra Munawar.

Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo kini diharapkan menjadi tonggak baru dalam menjaga kualitas, keberlanjutan lingkungan, dan daya saing kopi kebanggaan Tanah Gayo di pasar dunia. Sebab tanpa upaya serius menjaga kawasan hulu dan kualitas bibit, bukan tidak mungkin kejayaan Kopi Arabika Gayo hanya tinggal cerita di masa mendatang.

Versi ini lebih tajam karena menonjolkan ancaman nyata terhadap kopi Gayo, tantangan pasar ekspor Eropa, dan urgensi penyelamatan lingkungan serta plasma nutfah kopi Gayo.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

INACA Dorong Percepatan Pembebasan Pajak Suku Cadang Pesawat

13 Oktober 2026 - 16:21 WIB

SCI Apresiasi Pelaku Usaha Lewat Indonesia Logistics Awards 2026

13 Oktober 2026 - 11:33 WIB

30 Hektare Lahan Meikarta Disiapkan untuk Rumah Subsidi

12 Oktober 2026 - 05:01 WIB

Estafet Kepemimpinan Garuda Indonesia, Menilik Kiprah Fadjar dan Glenny Mengawal Pemulihan

11 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Hadir di Multifinance Day 2026, ACC Dukung Inklusi Keuangan OJK

11 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Elektrifikasi Truk Logistik: Investasi Mahal, Efisiensi Dipertaruhkan

10 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Jadi Panelis Forum ICAO 2026, Dirop AirNav Paparkan Penerapan FRTO di Wilayah Kepulauan

10 Oktober 2026 - 11:24 WIB

NPCT1 Raih Penghargaan “Container Terminal Operator of the Year” pada Indonesia Logistics Awards 2026

10 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Trending di ANJUNGAN