Menu

Mode Gelap
Libur Panjang Maulid, KAI Daop 1 Catat 38.842 Pelanggan Berangkat dalam Sehari Kereta Compartment Suite Cetak Rekor Pelanggan Tertinggi, Naik 51,47% hingga Juli 2026 Mantap, Bank Berebut Ekosistem Suporter di Kompetisi Super League 2026/2027 Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing Bantuan Perbaikan Rumah Rp30 Juta bagi Korban Gempa NTT Presiden Prabowo Tinjau Karhutla Kalimantan

EKOBIS

Kebun Induk Kopi Arabika Gayo Akhirnya Dimulai, Aceh Tengah Siapkan Benteng Hadapi Ancaman Pasar Eropa dan Krisis Lingkungan

badge-check


 Kebun Induk Kopi Arabika Gayo Akhirnya Dimulai, Aceh Tengah Siapkan Benteng Hadapi Ancaman Pasar Eropa dan Krisis Lingkungan Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah resmi memulai pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Meurebo.

Program ini dinilai menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan masa depan Kopi Arabika Gayo yang kini menghadapi ancaman serius, mulai dari perubahan iklim, penurunan produktivitas hingga semakin ketatnya aturan ekspor ke pasar Eropa.

Kick-off program ditandai melalui kegiatan diseminasi bertajuk “Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo sebagai Fondasi Ketahanan Ekologis dan Ekonomi di Hulu DAS Meurebo” yang digelar oleh Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LIPGA) bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Gayo Forest Natural Park, Sabtu (27/6/2026).

Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Ir. Mursyid, menegaskan pembangunan kebun induk bukan sekadar program pertanian, melainkan upaya menjaga kedaulatan Kopi Arabika Gayo agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

“Kita harus mampu memenuhi permintaan pasar dunia. Yang lebih penting adalah menjaga agar generasi muda tetap terlibat merawat kawasan hulu. Jangan sampai Kopi Arabika Gayo justru dikuasai pihak luar karena kita tertinggal dalam penguasaan ilmu dan teknologi,” ujarnya.

Ketua Koperasi Baburrayan, Riduan Husen, menyebut pembangunan kebun induk sudah menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, pasar Eropa kini menerapkan standar yang semakin ketat, terutama terkait batas residu glifosat dan ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan produk pertanian bebas dari praktik deforestasi.

“Jika kita tidak siap memenuhi standar internasional, maka daya saing Kopi Arabika Gayo bisa terancam di pasar ekspor,” kata Riduan.

Di sisi lain, penggiat sejarah kopi, Zulfikar Ahmad, mengungkapkan bahwa produktivitas Kopi Arabika Gayo pada masa kolonial Belanda pernah mencapai 2,7 ton per hektare. Namun angka tersebut terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Ia menilai penurunan produktivitas dan ancaman perubahan iklim menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan pelestarian plasma nutfah melalui pembentukan kebun induk.

“Kebun induk menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas genetik Kopi Arabika Gayo agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” katanya.

Gagasan pembangunan kebun induk sebenarnya telah dirancang sejak tahun 2010. Rencananya, kebun induk akan dibangun di atas lahan seluas 30 hektare dalam kawasan Perhutanan Sosial seluas 450 hektare.

Sekitar 200 hektare di antaranya ditetapkan sebagai zona lindung untuk menjaga fungsi ekologis kawasan.

Sementara itu, WALHI Aceh mengingatkan bahwa ancaman terhadap keberlanjutan Kopi Arabika Gayo tidak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga ekspansi aktivitas pertambangan di dataran tinggi Gayo.

“Jika kawasan hulu dan daerah tangkapan air rusak akibat aktivitas tambang, maka masa depan Kopi Arabika Gayo juga ikut terancam,” tegas Sadra Munawar.

Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo kini diharapkan menjadi tonggak baru dalam menjaga kualitas, keberlanjutan lingkungan, dan daya saing kopi kebanggaan Tanah Gayo di pasar dunia. Sebab tanpa upaya serius menjaga kawasan hulu dan kualitas bibit, bukan tidak mungkin kejayaan Kopi Arabika Gayo hanya tinggal cerita di masa mendatang.

Versi ini lebih tajam karena menonjolkan ancaman nyata terhadap kopi Gayo, tantangan pasar ekspor Eropa, dan urgensi penyelamatan lingkungan serta plasma nutfah kopi Gayo.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Angkut Bantuan dengan Kapal PELNI, Kemenhub Beri Potongan Harga 100 Persen

21 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ciputra Life Catat Kinerja Positif 2025 dan Berlanjut di Semester I-2026

21 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Rumput Laut dan Agar-agar Indonesia Bebas Tarif Tambahan AS, Peluang Pasar Ekspor Makin Terbuka

21 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Kemenhub Perkuat Pengelolaan Keuangan 2026

21 Agustus 2026 - 08:49 WIB

IEE 2026: Industri Baterai Dikejar Kesiapan Energi dan Teknologi

21 Agustus 2026 - 07:02 WIB

Program Relawan BUMN 2026, PTPN Group Beri Manfaaat bagi Masyrakat Desa Bulok

21 Agustus 2026 - 06:45 WIB

Ada Deretan Promo Eksklusif InJourney di ASTINDO Travel Fair 2026 Surabaya

20 Agustus 2026 - 18:18 WIB

Bantuan untuk Korban Gempa NTT dengan KM Tidar Tiba di Maumere

20 Agustus 2026 - 16:35 WIB

50.000 Hunian Qatar di Lahan KAI Dikawal Pemerintah

20 Agustus 2026 - 16:24 WIB

AirNav: Program RBB 2026 di Boyolali Tuntas Hari ini

20 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Trending di EKOBIS