Menu ✖

Mode Gelap
Greenpeace Indonesia Gelar Aksi Damai, 11 Aktivis Sempat Ditangkap Aparat BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan ASDP Pastikan Pendampingan Penumpang Berlanjut Pascainsiden KMP Batumandi Prabowo Terima Rekomendasi DEN, Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional Dispora Aceh Tuntaskan Bantuan Olahraga di Lima SMA/SMK Agara, Masri Amin Suntik Semangat Generasi Emas

SENI BUDAYA

Mengeja Sastra di Kafe Desa: Menulis sebagai Kejujuran dan Tanda Hidup

badge-check


 Mengeja Sastra di Kafe Desa: Menulis sebagai Kejujuran dan Tanda Hidup Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Suasana santai di sebuah kafe desa berubah menjadi ruang dialektika sastra pada Minggu pagi, 19 April 2026. Bertempat di NDIKOPINE Caffe, Bligo, Ngluwar, Kabupaten Magelang, sejumlah pegiat literasi, penulis, dan pecinta sastra berkumpul dalam diskusi publik bertajuk penulisan cerpen.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB itu menghadirkan sejumlah nama yang akrab di dunia literasi. Penulis Herry Mardianto menjadi salah satu pembicara utama, bersama Aguzt Suprihono dan Ninuk Retno Raras yang berperan sebagai pemantik diskusi. Sementara itu, jalannya forum dipandu oleh Nunung Rieta Real.

Dalam pemaparannya, para narasumber mengurai unsur dasar dalam penulisan cerita pendek—mulai dari pembuka, konflik, hingga penyelesaian. Konflik, menurut mereka, dapat disajikan secara halus maupun frontal, bergantung pada gaya dan kebutuhan cerita. Selain itu, bentuk penulisan juga tidak harus terpaku pada struktur konvensional; penulis bisa mengeksplorasi melalui sinopsis, catatan harian, hingga penafsiran yang diserahkan sepenuhnya kepada pembaca.

“Menulis adalah kejujuran,” ujar Djujuk Prabowo, tokoh teater dan sutradara asal Yogyakarta, menegaskan pentingnya integritas dalam karya sastra. Senada dengan itu, Herry Mardianto menyebut menulis sebagai penanda eksistensi. “Menulis adalah cara mengabarkan bahwa kita masih hidup,” katanya.

Diskusi ini juga menyinggung peran karya literasi sebagai medium pendidikan, terutama bagi anak-anak didik. Pesan moral dalam cerita dinilai tetap relevan, selama disampaikan dengan pendekatan yang tidak menggurui.

Kegiatan yang berlangsung di kafe milik Yuli Purwati ini tak sekadar forum belajar, tetapi juga ajang silaturahmi antarpegiat literasi. Sejumlah nama turut hadir meramaikan, di antaranya Dedet Setiadi, Dadik Hernadi Sasmoyo Aji, Ida Fitri Lusiana, Budi Sardjono, hingga Krishna Mihardja.

Penyelenggara menyebut kegiatan “Mengeja Sastra” ini direncanakan berlangsung rutin, baik tiga bulanan maupun bulanan. Harapannya, ruang-ruang kecil seperti ini dapat terus hidup sebagai tempat bertukar gagasan sekaligus merawat persaudaraan.

Di tengah geliat kota-kota besar, diskusi sastra di sudut desa seperti ini menjadi pengingat bahwa literasi tidak selalu lahir dari ruang formal. Ia bisa tumbuh dari meja kopi, obrolan hangat, dan keinginan sederhana untuk “ngrabuk nyowo”—menyatu dalam semangat kebersamaan.*** (Sudarmono)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Trending di SENI BUDAYA