Menu

Mode Gelap
Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000 Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

SENI BUDAYA

Mengeja Sastra di Kafe Desa: Menulis sebagai Kejujuran dan Tanda Hidup

badge-check


 Mengeja Sastra di Kafe Desa: Menulis sebagai Kejujuran dan Tanda Hidup Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Suasana santai di sebuah kafe desa berubah menjadi ruang dialektika sastra pada Minggu pagi, 19 April 2026. Bertempat di NDIKOPINE Caffe, Bligo, Ngluwar, Kabupaten Magelang, sejumlah pegiat literasi, penulis, dan pecinta sastra berkumpul dalam diskusi publik bertajuk penulisan cerpen.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB itu menghadirkan sejumlah nama yang akrab di dunia literasi. Penulis Herry Mardianto menjadi salah satu pembicara utama, bersama Aguzt Suprihono dan Ninuk Retno Raras yang berperan sebagai pemantik diskusi. Sementara itu, jalannya forum dipandu oleh Nunung Rieta Real.

Dalam pemaparannya, para narasumber mengurai unsur dasar dalam penulisan cerita pendek—mulai dari pembuka, konflik, hingga penyelesaian. Konflik, menurut mereka, dapat disajikan secara halus maupun frontal, bergantung pada gaya dan kebutuhan cerita. Selain itu, bentuk penulisan juga tidak harus terpaku pada struktur konvensional; penulis bisa mengeksplorasi melalui sinopsis, catatan harian, hingga penafsiran yang diserahkan sepenuhnya kepada pembaca.

“Menulis adalah kejujuran,” ujar Djujuk Prabowo, tokoh teater dan sutradara asal Yogyakarta, menegaskan pentingnya integritas dalam karya sastra. Senada dengan itu, Herry Mardianto menyebut menulis sebagai penanda eksistensi. “Menulis adalah cara mengabarkan bahwa kita masih hidup,” katanya.

Diskusi ini juga menyinggung peran karya literasi sebagai medium pendidikan, terutama bagi anak-anak didik. Pesan moral dalam cerita dinilai tetap relevan, selama disampaikan dengan pendekatan yang tidak menggurui.

Kegiatan yang berlangsung di kafe milik Yuli Purwati ini tak sekadar forum belajar, tetapi juga ajang silaturahmi antarpegiat literasi. Sejumlah nama turut hadir meramaikan, di antaranya Dedet Setiadi, Dadik Hernadi Sasmoyo Aji, Ida Fitri Lusiana, Budi Sardjono, hingga Krishna Mihardja.

Penyelenggara menyebut kegiatan “Mengeja Sastra” ini direncanakan berlangsung rutin, baik tiga bulanan maupun bulanan. Harapannya, ruang-ruang kecil seperti ini dapat terus hidup sebagai tempat bertukar gagasan sekaligus merawat persaudaraan.

Di tengah geliat kota-kota besar, diskusi sastra di sudut desa seperti ini menjadi pengingat bahwa literasi tidak selalu lahir dari ruang formal. Ia bisa tumbuh dari meja kopi, obrolan hangat, dan keinginan sederhana untuk “ngrabuk nyowo”—menyatu dalam semangat kebersamaan.*** (Sudarmono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA