Wartatrans.com, JAKARTA – Peresmian Museum Bing Slamet di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Minggu (27/9/2026), seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan bagi keluarga besar Bing Slamet.
Namun, kebahagiaan itu bercampur duka. Beberapa hari sebelum museum yang menjadi impian keluarga tersebut diresmikan, Iwansyah Bing Slamet, kakak kandung Adi Bing Slamet dan anak keenam almarhum Bing Slamet, meninggal dunia.
Bagi keluarga, kepergian Iwansyah terasa begitu berat. Sebab, almarhum merupakan salah satu sosok yang paling bersemangat dalam mewujudkan Museum Bing Slamet.
Gagasan pendirian museum ini memang telah lama menjadi mimpi keluarga besar Bing Slamet, khususnya Adi Bing Slamet. Mimpi tersebut kemudian disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan RI dan mendapat sambutan hingga akhirnya rumah peninggalan sang maestro tersebut ditata menjadi museum.
Dalam sambutannya mewakili keluarga besar Bing Slamet, Adi mengungkapkan rasa syukur sekaligus kesedihannya.
“Kami bersyukur pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, telah mewujudkan mimpi keluarga Bing Slamet. Namun, di tengah kebahagiaan kami juga bersedih. Karena beberapa hari lalu kakak saya, Iwansyah Bing Slamet, meninggal dunia,” ujar Adi.
Suasana haru langsung terasa ketika Adi mengenang sang kakak. Ia meminta seluruh tamu yang hadir untuk mendoakan almarhum.
“Padahal almarhum paling bersemangat dengan peresmian museum kebanggaan kami ini. Mohon keikhlasan bapak dan ibu yang hadir untuk mendoakan almarhum, agar segala dosanya diampuni dan diterima di sisi Allah SWT,” tuturnya.
Adi pun tak kuasa menahan tangis. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana dirinya bersama Iwansyah selama ini bahu-membahu memperjuangkan terwujudnya museum yang didedikasikan untuk sang ayah, Bing Slamet.
Air mata Adi semakin deras ketika mengingat bahwa sang kakak sebenarnya telah menyiapkan sejumlah gagasan agar peresmian museum berlangsung lebih semarak.
“Padahal untuk pembukaan, almarhum punya gagasan agar pembukaan lebih semarak. Namun sebelum peresmian, Bang Iwansyah meninggalkan kita semua,” kata Adi sambil sesenggukan.
“Ya Allah, ampunilah dosa kakak saya,” lanjutnya lirih.
Meski Iwansyah tidak sempat menyaksikan langsung hari bersejarah tersebut, Adi meyakini sang kakak tetap akan merasa bahagia melihat impian keluarga akhirnya terwujud.
“Saya yakin almarhum bangga dan bahagia melihat peresmian museum atas nama Papah ini,” ujar Adi sembari mengusap air matanya dengan tisu.
Museum Bing Slamet kini menjadi penanda perjalanan panjang sang maestro dalam dunia musik, film dan lawak. Lebih dari sekadar tempat menyimpan memorabilia, museum tersebut juga menjadi ruang untuk mengenang keluarga, sahabat, serta para seniman yang pernah menjadikan rumah Bing Slamet sebagai tempat berkumpul dan bertukar gagasan.
Bagi keluarga Bing Slamet, peresmian museum tersebut akhirnya menjadi dua hal sekaligus: perayaan atas terwujudnya sebuah mimpi dan penghormatan terakhir kepada seorang kakak yang ikut memperjuangkannya.
Museum itu pun kini bukan hanya menyimpan cerita tentang Bing Slamet, tetapi juga menyimpan kenangan tentang perjuangan keluarga di balik berdirinya museum tersebut.*** (Byl)


























