Wartatrans.com, BANDUNG BARAT — Gagasan tentang kepemimpinan, pengabdian, kekuasaan, dan masa depan dihadirkan melalui bahasa seni dalam pameran bertajuk “KDM: Kepemimpinan, Dedikasi dan Masa Depan”. Pameran tersebut resmi dibuka pada Senin, 17 Agustus 2026, pukul 15.00–17.00 WIB, di Galeri Panyawangan, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat.
Pameran ini menjadi ruang refleksi sekaligus kritik terhadap cara masyarakat memandang kepemimpinan. Melalui karya-karya dengan kecenderungan realisme, figuratif, hingga berbagai pendekatan visual lainnya, para seniman menerjemahkan persoalan kepemimpinan dari pengalaman dan sudut pandang yang beragam.

Keragaman media yang digunakan, baik media sederhana maupun media konvensional, memperlihatkan bahwa gagasan mengenai masa depan tidak harus disampaikan melalui satu bahasa visual. Seni justru memberi ruang yang luas untuk menyampaikan kegelisahan, harapan, kritik, sekaligus pertanyaan terhadap realitas sosial.

Suasana pembukaan pameran KDM.
Dalam konteks tersebut, karya-karya yang dipamerkan tidak semata-mata diposisikan sebagai ilustrasi tentang sosok pemimpin. Lebih jauh, pameran ini mengajak publik membaca kembali hubungan antara manusia, kekuasaan, tanggung jawab, dan harapan terhadap masa depan.
Seni memiliki kemampuan untuk mengganggu kenyamanan, mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa, serta menghadirkan kembali persoalan sosial melalui perspektif yang berbeda. Dari ruang itulah publik diajak bertanya: apakah kekuasaan masih memiliki hubungan erat dengan pengabdian, atau justru kekuasaan telah berubah menjadi tujuan bagi dirinya sendiri?
Pameran KDM: Kepemimpinan, Dedikasi dan Masa Depan dikuratori oleh Mayek Prayitno dan diikuti puluhan seniman dari berbagai latar belakang. Pameran tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si.

Para peserta pameran.
Sejumlah seniman yang berpartisipasi antara lain Abdurahman Abro, Achmad Syahri, Agusugih, Anton Susanto, Arief Aksa, Ary D Cahyono, Cut Syifa, Deden Hamdani, Dede A Sofyan, Dede Priana, Diah Rachmawati, Diah Dinata, Epi Gunawan, Farel Riza Kurniawan, Handoyo JJ, Heri Heriana, Idris Brandy, Iskandar Abeng, Marwan, Moh. Sobirin, Moya Komarudin, Nata Suryadi Leeman, Ni Made Sriandani, Patra Suwanda, Prasetya Gautama, Priharyono, Putra Gara, Raphael Jason, Rosid, R Yadi Tjahyadi, Suherman, Supriatna, Teddy Suchyar, Maria Tiwi, Tukiyan Wempi, Wahono Mukti, Warlih, dan Yuli Riban.
Kehadiran para seniman tersebut memperkaya perspektif pameran, menjadikan “KDM” bukan hanya sebagai peristiwa artistik, tetapi juga ruang dialog antara karya seni dan persoalan kehidupan sosial.
Melalui pameran ini, kepemimpinan tidak berhenti pada figur atau jabatan. Kepemimpinan ditempatkan sebagai sebuah pertanyaan tentang dedikasi, tanggung jawab, keberpihakan, dan arah masa depan.
Pada akhirnya, seni memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa—termasuk makna menjadi pemimpin dan untuk siapa kekuasaan seharusnya diabdikan.*** (Asbuy)






























